Berita

soeharto/ist

RESHUFFLE KIB II

Tak Ada Salahnya SBY Belajar dari Soeharto

SENIN, 03 OKTOBER 2011 | 09:58 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diharapkan secepatnya memastikan apakah akan merombak Kabinet Indonesia Bersatu II atau tidak.

Bila wacana itu terus berkembang tanpa ada kepastian, meski memang SBY sudah mematok sebelum 20 Oktober, dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja kementerian. Karena tidak tertutup kemungkinan para menteri akan kasak-kusuk dan bermanuver untuk mengetahui apakah dirinya akan dicopot atau tidak.

Makanya, Sekretaris Fraksi Hanura Saleh Husin menilai Presiden SBY sebaiknya mengikuti gaya mantan Presiden Soeharto dalam merombak kabinet. Soeharto tidak banyak umbar di media kalau mau mencopot dan mengangkat pembantunya.


"Perlu mengikuti apa yang dilakukan Pak Harto, tidak banyak umbar. Tidak perlu malu belajar dari Pak Harto," katanya kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Dalam merombak KIB II, anggota Komisi V DPR ini meminta SBY untuk menempatkan orang berdasarkan kemampuan dan kapabilitas, meski hal itu merupakan hak prerogatif Presiden.

"Saya kira saatnya yang paling tepat para pembantunya (dipilih) berdasarkan kompetensi, bukan berdasarkan deal-deal partai politik. Itu yang paling utama. Karena kita tahu, yang dibutuhkan adalah orang yang ahli, tepat di bidangnya. Bila misalnya, kalau orang yang kebetulan punya kompetensi itu dari partai politik, itu urusan kedua," imbuhnya.

Namun, dia mengingatkan, bukan berarti hanya menteri dari partai politik yang layak untuk dievaluasi. Para menteri yang bukan dari partai, tapi kinerja tidak baik, juga layak untuk dicopot. Misalnya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

"Paling tidak kita menilai bahwa Kementerian Perdagangan lebih (selalu) melakukan impor. Padahal banyak juga hasil bumi dari dalam negeri yang perlu diutamakan. Jangan sampai kita selalu beroerantasi impor. Karena itu akan membuat produk kita kalah dan mempengaruhi lapangan kerja," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya