Berita

Tamsil Linrung

Wawancara

WAWANCARA

Tamsil Linrung: Saya Siap Diganti dari Banggar Kalau Boikot Dianggap Salah

RABU, 28 SEPTEMBER 2011 | 06:19 WIB

RMOL. Tersangka kasus dugaan suap Kemenakertrans Dharnawati menyebut Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Tamsil Linrung ikut menerima dana.

Tapi saat politisi PKS itu di­periksa KPK bersama tiga pim­pinan Badan Anggaran (Banggar) DPR, pekan lalu, tidak ada per­tanyaan seputar kasus tersebut. Yang ditanya hanya soal meka­nisme.

“Kami tidak ditanya mengenai kesaksian Dharnawati, tapi soal mekanisme yang ada di Banggar. Ini kan aneh,” ujarnya.

Padahal terkait soal aliran dana, politisi PKS ini mengaku siap untuk diminta KPK guna mengusut dugaan aliran dana tersebut.   

“Silakan diinvestigasi. Kalau ada yang terbukti melakukan itu, silakan ditindak sesuai hukum yang berlaku,” tegas anggota DPR itu.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kabarnya ada fee 10 persen ya?

Sejak awal saya tegaskan, tidak ada aliran dana yang mengalir ke saya atau Banggar terkait pencai­ran dana PPDIP (Percepatan Pem­bangunan In­frastruktur Dae­­rah) di Kemenakertrans. Ti­dak ada komitmen fee sebesar 10 persen seperti yang selama ini di­sebut-sebut. Silakan KPK investi­gasi. Tapi anehnya, saat pemerik­saan lalu, KPK tidak menanyakan masalah tersebut.

 

Lho, memang pemanggilan itu materinya apa?

Katanya pemanggilan itu se­bagai saksi untuk Dharnawati. Tapi yang terjadi, kita di sana bu­kan ditanya soal kesaksian dari Dharnawati, tapi soal meka­nisme yang ada di Banggar. Para pe­nyidik meminta klarifikasi me­ngapa dari Rp 900 miliar men­jadi Rp 500 miliar dan seba­gainya.


Bukankah wajar kalau KPK meminta kejelasan soal angga­ran dari Rp 900 miliar menjadi Rp 500 miliar?

Makanya kalau mau tahu ke­jelasannya datang saja dan ambil ke sini. Tidak usah kita dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan di KPK.


Apa Anda kecewa dengan pe­manggilan itu?

Bicara soal undang-undang, apa yang mau dijelaskan terha­dap KPK. Kalau KPK ingin ber­tanya soal mekanisme dan pengam­bilan kebijakan, mereka saja yang ke sini. Bukan kami yang ke sana. Mereka kan bisa ambil berkas-berkas dan reka­man pembicaraan dan sebagai­nya yang dibutuhkan. Kalau ma­salah mekanisme, kan sudah selesai dibahas dan sudah di­tan­da­tangani semua. Kalau di­anggap mekanismenya salah, jangan Banggar saja yang di­panggil tetapi semua pihak yang ikut dalam pembahasan. Panggil Menteri Keuangan, menteri yang bersangkutan, Gubernur Bank Indonesia.


Berarti benar Anda ditanya­kan soal dasar keputusan?

Oh nggak, sebab yang me­me­riksa itu kan bukan pimpinan KPK melainkan cuma penyidik-penyidik saja. Percuma juga kita berdebat dengan mereka. Mereka tanya apa, ya kita jawab saja. Saya hanya bilang pada penyidik, kalau mau nanti kami kirimkan daftar hadir dan yang lain di­anggap perlu.

Bagaimana nasib pemba­ha­san APBN yang harus sele­sai Oktober mendatang?

Pokoknya kita akan serahkan dulu sepenuhnya kepada pimpi­nan DPR agar berkomunikasi dan berkoordinasi dengan KPK, BPK, kepolisian, dan Kejaksaan Agung.

Ini harus ada kejelasan dulu. Kalau tidak, buat apa dibahas kalau persepsinya masih berbeda. Kalau saya, lebih baik mundur daripada  mimpin rapat dan ambil keputusan kemudian ditanya apa dasar keputusan ini.


Sampai kapan aksi boikot ini dilakukan?

Sampai selesai pimpinan mela­kukan rapat dengan KPK, Kalau tidak, maka saya siap untuk di­ganti dari Banggar kalau ini boi­kot ini dianggap salah. Saya pikir, anggota Banggar yang lain pun siap untuk diganti.  [rm]


Sampai kapan aksi boikot ini dilakukan?

Sampai selesai pimpinan mela­kukan rapat dengan KPK, Kalau tidak, maka saya siap untuk di­ganti dari Banggar kalau ini boi­kot ini dianggap salah. Saya pikir, anggota Banggar yang lain pun siap untuk diganti.  [rm]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

H+3 Lebaran Emas Antam Stagnan, Buyback Merosot Rp80 Ribu

Selasa, 24 Maret 2026 | 10:01

NTT Butuh Alat Berat dan Logistik Mendesak Pasca Banjir dan Longsor

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:47

Rahasia AC Mobil Tetap Beku di Tengah Kemacetan Arus Balik Lebaran 2026

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:40

Prabowo Telepon Presiden Palestina, Tegaskan Solidaritas dari Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:34

Harga Minyak Anjlok 11 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:22

Menanti Pembukaan Bursa Usai Libur Lebaran: Peluang dan Risiko di Pasar Saham RI

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:01

Saham-saham Asia Terbang Usai Keputusan Trump

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:44

Iran: Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Itu Berita Bohong untuk Manipulasi Pasar

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:33

Pasar Saham AS Melonjak Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:18

Leonid Radvinsky Wafat: Jejak Sang Raja Platform OnlyFans yang Fenomenal

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:07

Selengkapnya