Berita

Yasti Mokoagow

Wawancara

WAWANCARA

Yasti Mokoagow: Saya Tak Mengenal Nazaruddin, Mana Mungkin Terima Duitnya­

MINGGU, 25 SEPTEMBER 2011 | 04:42 WIB

RMOL. Ketua Komisi V DPR Yasti Mokoagow mengaku siap dipanggil dan diperiksa KPK terkait kasus dugaan korupsi proyek Kementerian Perhubungan 2011.

“Saya sebagai warga negara yang baik akan memenuhi pang­gilan KPK bila lembaga penegak hukum itu ingin me­manggil saya,” tandas Yasti Mo­koagow, kepada Rakyat Merdeka, Kamis (22/9).

Diberitakan sebelumnya, ber­dasarkan salinan dokumen yang disita KPK dari kantor Naza­ruddin, Grup Permai di Mam­pang,  22 April 2011, dana untuk Yasti, politikus PAN yang men­jadi Ketua Komisi Perhubungan DPR, tertulis sebesar Rp 1,1 miliar.

“Keperluan untuk komitmen Ibu Yasti (Ketua Komisi V) Proyek Kemenhub 2011 (5% dari 112 M potong tax Rating School Sorong),” begitu tertulis dalam dokumen tersebut.

Dokumen itu dibundel dengan catatan bukti pengeluaran kas Rp 1,1 miliar untuk pembelian ba­rang untuk proyek Kemen­terian Perhubungan 2011 ter­tanggal 9 April 2011.

Yasti Mo­koa­gow selan­jut­nya me­nga­ku tidak mengenal Yulia­nis dan Nazaruddin. Tidak per­nah menerima apapun dari ke­dua orang tersebut. Untuk itu, KPK perik­sa saja seluruh reke­ning dan transaksi keuangan mi­lik­nya.

“Jangankan re­kening saya, re­kening seluruh ke­luarga besar saya pun silakan di­periksa,” te­gasnya.

Berikut kutipan selengkapnya;


Apa benar Anda tidak kenal Nazaruddin?

Faktanya saya tidak kenal Nazaruddin dan Yulianis. Tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Saya tidak pernah mene­rima apapun dari mereka. Mana mungkin terima duit darinya. Saya berdoa semoga orang yang menyebar fitnah itu diampuni Tuhan.


Kok nama Anda ada dalam data transaksi itu?

Sekarang begini, misalnya di dalam buku harian saya tulis memberikan uang kepada Pak SBY melalui sekretaris pribadi­nya. Lalu ter­jadi se­suatu dengan saya, dan catatan itu disita. Apa­kah itu bisa jadi barang bukti, kan tidak. Saya juga ti­dak me­­ngerti kenapa nama saya bisa ada dalam dokumen itu.


Bagaimana sebenarnya pro­yek kementerian perhubungan itu dibahas di Komisi V DPR?

Kami membahas Rencana Kerja dan Anggaran Kemente­rian/Lembaga (RKA-KL) Ke­men­terian Perhubungan. Kenapa alasan anggaran ditaruh di dae­rah A. Untungnya apa bagi ma­sya­­rakat. Apakah lahan sudah ter­se­dia. Kalau lahan tidak terse­dia, banyak program tidak ber­jalan.  

Bagaimana dengan tender?

Kami tidak ada urusan dengan tender, karena itu uru­­san ke­men­te­rian terkait. Urusan ten­der su­dah di­luar kewenangan kami di Ko­misi V.

Kami hanya pada tahap sin­kro­ni­sasi. Apakah ini sudah se­suai de­ngan mekanisme. Apakah su­dah sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau belum.


Apa benar ada fee bagi Ko­­misi V dalam proyek itu?

Kabar itu tidak benar. Kami mem­bahas masalah anggaran se­cara terbuka. Ketika kami mem­bahas RKA-KL dengan menteri, pers bisa mengikutinya. Sebab, dilakukan secara terbuka.


Kenapa Anda selama ini ter­kesan menghindar dari pers?

Saya bukan menghindar atau menjauh dari teman-teman me­dia. Beberapa hari ini saya sedang sakit tenggorokan, suara saya ti­dak jelas. Saat itu saya minta te­man-teman media untuk mengi­rim SMS ke saya terkait perta­nyaan yang diajukan. Tidak benar kalau saya menghindar dari teman media setelah nama saya ramai dibicarakan.


Kenapa Anda selama ini ter­kesan menghindar dari pers?

Saya bukan menghindar atau menjauh dari teman-teman me­dia. Beberapa hari ini saya sedang sakit tenggorokan, suara saya ti­dak jelas. Saat itu saya minta te­man-teman media untuk mengi­rim SMS ke saya terkait perta­nyaan yang diajukan. Tidak benar kalau saya menghindar dari teman media setelah nama saya ramai dibicarakan.


Apa pimpinan PAN sudah memanggil Anda?

Sudah. Saya jelaskan semua­nya. Antara lain saya tidak kenal dan tidak pernah menerima apa-pun dari orang-orang Naza­ruddin. Intinya teman-teman partai per­caya apa yang saya ung­kapkan dan mereka men­dukung saya untuk membeberkan semua­nya.   [rm]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

H+3 Lebaran Emas Antam Stagnan, Buyback Merosot Rp80 Ribu

Selasa, 24 Maret 2026 | 10:01

NTT Butuh Alat Berat dan Logistik Mendesak Pasca Banjir dan Longsor

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:47

Rahasia AC Mobil Tetap Beku di Tengah Kemacetan Arus Balik Lebaran 2026

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:40

Prabowo Telepon Presiden Palestina, Tegaskan Solidaritas dari Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:34

Harga Minyak Anjlok 11 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:22

Menanti Pembukaan Bursa Usai Libur Lebaran: Peluang dan Risiko di Pasar Saham RI

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:01

Saham-saham Asia Terbang Usai Keputusan Trump

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:44

Iran: Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Itu Berita Bohong untuk Manipulasi Pasar

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:33

Pasar Saham AS Melonjak Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:18

Leonid Radvinsky Wafat: Jejak Sang Raja Platform OnlyFans yang Fenomenal

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:07

Selengkapnya