Berita

Amerika Serikat Makin Tak Dipercaya Pemilik Modal

SABTU, 06 AGUSTUS 2011 | 14:24 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Lembaga pemeringkat utang Standard & Poor (S & P) untuk kali pertamanya menurunkan peringkat Amerika Serikat. S & P menurunkan peringkat AS dari peringkat paling atas (AAA) menjadi di bawahnya (AA+) berdasarkan pada kekhawatiran akan terjadinya defisit anggaran di Amerika Serikat.

Ini adalah akibat dari kesepakatan utang yang dilakukan Amerika Serikat pada minggu ini dalam menutupi defisit anggaran dan pengeluarannya. Obama sebelumnya berhasil meyakinkan para pemimpin Kongres AS untuk menambah utang negara sebesar 2,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp 20.304 triliun dari plafon (batas tertinggi) saat ini sebesar 14,3 triliun dolar AS atau sekitar Rp 120.978 triliun.

Pemerintah AS sebelumnya juga mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan terkait rancangan undang-undang yang mengatur peningkatan batas utang AS. Terdapat perbedaan pendapat antara partai Demokrat dan Republik mengenai plafon utang. Obama dan Partai Demokratnya berupaya menaikkan plafon utang dengan cara menaikkan pajak bagi orang-orang kaya. Sedangkan Partai Republik menginginkan pemerintah memotong anggaran secara besar-besaran khusunya bagi jaminan sosial.


Menurut ketua Komite Pemeringkatan S & P John Chamber, AS sebenarnya bisa mencegah penurunan peringkat ini jika saja pemerintah AS dan Kongres bisa menyelesaikan perdebatan mengenai anggarannya lebih cepat.

"Sikap politik dalam beberapa bulan menegaskan apa yang kami lihat bahwa pemerintah Amerika dan para pembuat kebijakan menjadi tidak stabil, kurang efektif dan tidak bisa diprediksi dari apa yang kami percaya sebelumnya," Ujar Chamber sebagaimana dilansir BBC (Sabtu, 6/8).

Penurunan ini bisa mengikis kepercayaan penanam modal terhadap negara ekonomi terbesar di dunia tersebut. Paman Sam saat ini tengah berjuang melawan hutang besar, tingkat pengangguran yang mencapai 9,1 persen, dan kekhawatiran kemungkinan resesi mendalam.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya