Berita

Adhie M Massardi

Mengganti Rezim (Baca: Menyelamatkan Peradaban)

Oleh Adhie Massardi
RABU, 27 JULI 2011 | 07:02 WIB

INDONESIA sedang berproses menuju akhir peradaban. Peradaban adalah tata sosial berlandaskan etika dan moralitas. Ukuran etika dan moralitas lazimnya disepakati dalam sebuah aturan yang kemudian menjadi hukum. Ada yang tertulis, ada yang tak tertulis dan jadi konsensus.

Pada hari-hari terakhir ini, proses bangsa kita menuju akhir peradaban -- masyarakat tanpa etika dan moralitas -- memasuki pusaran yang kian kencang. Hal ini tampak jelas dalam perhelatan Rakornas Partai Demokrat di Sentul, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Seperti kita tahu, menjelang dan saat Rakornas digelar, Bendahara Umum partai, Nazaruddin yang kesohor itu, melakukan testimoni dari tempat pelariannya entah di mana.

Buronan KPK ini dengan jujur dan berani mengungkapkan modus operandinya merampok uang APBN ratusan milyar rupiah, dan membagi-bagikan hasilnya kepada sejumlah petinggi partai yang pucuk pimpinannya dijabat Jenderal (Purnawirawan) Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI.

Pengakuan Nazaruddin yang disiarkan TV itu, tentu saja, sampai juga ke masyarakat yang sejak beberapa tahun terakhir ini mengalami depresi ekonomi akibat usahanya bangkrut, atau yang terkena PHK massal, dan mereka yang harus bermandi keringat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Mudah dibayangkan bagaimana perasaan mereka mendengar testimoni kriminal itu, yang menyebut jumlah uang milyaran rupiah dengan enteng, dan dengan ringan membagikannya kepada para petinggi partai yang oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) dibilang memenangi pemilu 2009 itu.

Kita tahu, semua politisi dari parpol lain juga tahu, apalagi para anggota DPR, bahwa apa yang diucapkan Nazaruddin lebih banyak benarnya ketimbang sensasinya. KPK dan institusi hukum seperti Polri dan Kejaksaan yang memiliki perangkat pemantau, niscaya juga paham, Nazaruddin tidak sedang menabur angin.

Tapi kita juga tahu, dalam forum Rakernas yang akronimnya kemudian diplesetkan menjadi "Rapat Korban Nasaruddin" atau "Rapat Koruptor Nasional", para petinggi Partai Demokrat yang namanya disebut Nazaruddin menerima uang sangat banyak itu, terlihat sangat santai. Tak ada wajah khawatir atau marah. Semua seolah sudah merupakan hal yang rutin dan biasa-biasa saja.

Melihat para administratur di sekelilingnya yang seperti itu, sungguh menakjubkan, Yudhoyono malah menegasikan pernyataan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum yang bilang Partai Demokrat tengah diuji Tuhan dan sejarah. "Tapi kita tak boleh putus asa menghadapi ujian ini. Saya akan berdiri di depan," katanya.

Jadi alih-alih mengambil tanggungjawab moral anak buahnya yang berlumuran noda korupsi dengan, misalnya, mengundurkan diri baik sebagai Ketua Dewan Pembina partai maupun Presiden RI, Yudhoyono malah menekankan kader-kadernya agar "Tak perlu putus asa, saling menyalahkan, harusnya lebih kompak dan bersatu,"

Betul, peristiwa "garing" di Sentul pekan lalu itu memang membuat kita seperti menyaksikan kehidupan masyarakat tanpa peradaban. Tanpa etika dan nilai moral. Tata sosial yang jauh dari norma kehidupan yang pernah kita kenal selama ini.

Perilaku kelompok elite berkuasa yang mengingkari peradaban manusia modern ini, yang juga ditampilkan dalam drama pembiaran berbagai kejahatan korupsi seperti  Centurygate, mafia pajak dan pencurian APBN ini, menular ke masyarakat luas.

Bahkan masyarakat dengan sadar turut terlibat dalam ritual penobatan para bromocorah keuangan negara seperti tercermin dalam pemilu di berbagai tingkatan. Karena dalam keriaan demokrasi memilih pejabat publik, rakyat tahu semua kandidat (eksekutif dan legislatif) itu punya potensi besar untuk menjadi koruptor.

Oleh sebab itu,mengganti rezim yang menghalalkan korupsi sesungguhnya bukan hanya menyelamatkan negara secara politik. Tapi juga menyelamatkan peradaban bangsa! [***]


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya