Berita

gedung putih/ist

Ketua DPR AS Angkat Kaki dari Gedung Putih, Obama Naik Pitam

SABTU, 23 JULI 2011 | 12:21 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Permasalahan utang yang melilit Amerika Serikat menimbulkan masalah baru bagi pemerintahan Obama.

Demi melindungi negara dari ancaman gagal bayar utang pada batas akhir pembayaran 2 Agustus 2011, Obama harus berdebat melawan Partai Rebublik yang menguasai kongres mengenai upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.

Walau semakin didesak waktu, Gedung Putih dan Kongres tak kunjung mencapai titik temu dalam upaya pemerintah menaikkan plafon utang, demi menghindari negara ekonomi terbesar itu dari gagal bayar.


Pada pertemuan yang diadakan di Washington pada Jumat (22/7) malam waktu setempat (Sabtu pagi WIB), Ketua DPR AS yang juga merupakan politisi Partai Republik, John Boehner, meninggalkan pertemuan Kongres dengan Obama di Gedung Putih.

Dalam suratnya kepada anggota DPR, Boehner menyatakan bahwa ia meninggalkan ruang pertemuan karena menduga presiden dari Partai Demokrat akan menegaskan keinginan untuk menaikkan pajak terhadap warga dan perusahaan kaya.

Sikap John Boehner ini membuat Obama naik pitam yang dengan emosional meminta para pemimpin Kongres yang di dalamnya merupakan anggota DPR dan senat untuk melakukan sebuah pertemuan darurat di Gedung Putih, hari ini (Sabtu, 23/7).

"Kita sedang dikejar oleh waktu, 2 Agustus sudah di depan mata. Saya berharap mereka (politisi Partai Republik) untuk menjawab apa yang bisa mereka lakukan hingga pekan depan karena rakyat Amerika berharap aksi nyata (dari mereka)," ujar Obama seperti dikutip CNN (Sabtu, 23/7).

Dari pertarungan utang ini jelas terlihat pertempuran ideologi dan prinsip antara Demokrat dan Republik. Obama dan Partai Demokratnya berupaya untuk menaikkan plafon utang dengan cara menaikkan pajak bagi orang-orang kaya, sedangkan Partai Republik menginginkan pemerintah memotong anggaran secara besar-besaran khusunya bagi jaminan sosial.

Obama sudah menyatakan kesediaannya untuk memotong anggaran hingga 4 triliun dolar AS dalam satu dekade mendatang dengan syarat Partai Republik juga menyetujui kenaikan pajak. Namun kesediaan Obama tersebut tidak juga disambut baik politisi Partai Republik.[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya