Berita

ist

Muspimnas PKNU Soroti Panja Pemilu

SABTU, 23 JULI 2011 | 00:29 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Geliat Parpol tidak lolos Parlementary Thershold (PT) pada pemilu 2009 tampak mulai bersemangat. Hal ini terlihat dr MUSPIMNAS II PKNU bertema "Menggali Aspirasi Rakyat Mewujudkan Pemilu Berdaulat" di Hotel Ibis Arcadia Jakarta.

Ketua DPP PKNU yang juga panita Muspimnas, Achmad Suhawi, menyatakan salah satu yang menjadi sorotan pada Muspimna adalah kinerja Komisi II di DPR RI untuk membongkar mafia pemilu dan paket RUU politik.

"Komisi II agar membongkar praktek mafia pemilu dalam spektrum yang lebih luas, bukan hanya Dapil Sulses 1 saja. Kami memiliki indikasi bahwa praktek mafia pemilu pada tahun 2009 terjadi secara sistematis dalam skala yang lebih luas," katanya.


Menurut Suhawi, itu untuk  memperbaiki kualitas demokrasi dan pemilu dimasa yang akan datang. Saat ini sedang dilakukan pembahasan tentang paket UU Politik.

RUU Parpol yang sedang dibahas menurut Suhawi berpotensi mendegradasi kualitas demokrasi tegasnya. Indikasi itu terlihat dari PT yang rencananya akan diberlakukan secara nasional.

"Ini pengingkaran terhadap keberagaman bangsa Indonesia. Dan ini juga menunjukan bahwa elit politik yang sekarang berkuasa lupa diri bahwa mereka hanya bisa jadi tontonan bukan tuntunan. Dengan pemberlakuan PT secara nasional, maka parpol yang tidak lolos PT secara nasional secara otomatis perolehan kursi di DPRD juga hangus," katanya.

Padahal kata dia,  belum tentu partai pemenang pemilu di tingkat nasional memperoleh dukungan signifikan disetiap DAPIL atau Kabupaten/Kota. Pada pemilu 2009 ada beberapa Kab/kota yang pemenangnya adalah partai-partai tidak lolos PT, dan parpol besar tidak memperoleh kursi atau minim dukungannya.

Kalau PT diberlakukan secara nasional maka parpol-parpol besar akan membajak aspirasi rakyat yang diberikan kepada parpol kecil. Lalu anggota Legislatif yang akan didudukan di DPRD itu mewakili siapa? Wakil rakyat atau wakil penipuan.

"Dan jika demikian adanya, maka pemilu yang akan digelar merupakan praktek oligarki, ritual demokrasi akal-akalan, dan praktek tipu-menipu dengan biaya dari rakyat," tutupnya. [dem]

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Wall Street Kompak Hijau Berkat Lonjakan Saham AI

Selasa, 17 Maret 2026 | 08:03

Krisis Energi Kuba: Blokade Minyak AS Picu Pemadaman Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:45

Festival 1000 Berkah: Dari Sampah Plastik Menjadi Paket Pangan untuk Sesama

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:35

Ancaman Inflasi Global Tekan Harga Emas Dunia ke Bawah Level 5.000 Dolar AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:22

Pasar Eropa Bangkit dari Tekanan, STOXX 600 Ditutup Hijau

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:07

Melawan atau Hanyut dalam Tekanan

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:43

Negara Harus Petakan Pola Serangan KKB di Papua Demi Lindungi Warga

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:23

Pedro Sanchez Warisi Politik Bebas Aktif Bung Karno

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:59

TNI AL Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan di Pesisir Tangerang

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45

SPPG IFSR Gelar Program Makan Berbuka Gratis Tanpa APBN

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:22

Selengkapnya