Berita

sby/ist

Polri Salah Kaprah Tangani SMS Fitnah SBY

KAMIS, 02 JUNI 2011 | 08:53 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Kepolisian Republik Indonesia telah bertindak salah kaprah dalam menangani kasus SMS gelap yang memfitnah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah elit Partai Demokrat. SMS itu mencatut nama mantan bendahara umum DPP Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Hal itu dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Kamis, 2/6).

"Seharusnya Polri lebih dulu mengklarifikasi kepada Nazaruddin, apakah yang bersangkut mengirimkan SMS tersebut atau tidak. Kasus SMS adalah kasus delik aduan. Jika tidak ada pihak yang merasa dirugikan yang melapor ke Polisi, seharusnya polisi tidak bisa memprosesnya," ujarnya.


Sejauh ini Polri memang belum memeriksa Nazaruddin. Tapi, Polri sudah memeriksa Indra J Pilliang. Politisi Golkar itu diperiksa karena menerima SMS itu dari nomor pertama, yaitu nomor Singapura, yang diduga asal pengirim SMS tersebut. Tapi, sampai saat ini belum ada yang melaporkan SMS itu ke Polri.

"Tapi anehnya setelah SBY "berteriak" dan bukan melapor, polisi langsung bergerak mengusut kasusnya. Langkah polisi ini sama saja membuat dirinya terjebak menjadi alat kekuasaan, tidak profesional dan tidak independen. Jika hal ini terus dibiarkan, bukan mustahil nantinya polisi bisa dijadikan penguasa untuk mengkriminalisasi lawan-lawan politiknya," Neta mengingatkan.

Karena itu, IPW berharap elit-elit Polri mau menyadari bahwa mereka adalah alat negara yang profesional untuk melakukan penegak hukum, bukan sebagai alat kekuasaan yang bisa dipakai untuk bertindak mencederai rasa keadilan masyarakat. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya