RMOL. Partai Demokrat sepertinya sudah letih menggunakan jurus bertahan saat menghadapi berbagai kasus yang menjadi sorotan publik belakangan ini.
Dalam kasus suap proyek pembangunan wisma atlet sea games di Palembang dan kasus dugaan gratifikasi kepada Sekjen MK Janedjri M Gaffar, Partai Demokrat sibuk memberikan klarifikasi. Pasalnya, dua kasus ini melibatkan orang penting di partai berlambang bintang mercy tersebut, Muhammad Nazaruddin.
Nazaruddin memang belum dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi. KPK pun belum menetapkan kapan anggota Komisi VII DPR akan dimintai keterangan. Tapi, Nazaruddin kembali membuat heboh, setelah dia pergi ke Singapura untuk berobat, sehari sebelum dirinya dicekal pihak imigrasi atas permintaan KPK.
Nazaruddin mengklaim kepergiannya ke negara tetangga itu atas izin dan sepengetahuan partainya. Demokrat pun dituding dengan sengaja membiarkan Nazaruddin ke Singapura. Salah satu dugaannya, agar Nazaruddin tidak lagi mengumbar dan membuka borok-borok elit Demokrat.
Di Singapura, Nazaruddin tak sepi dari pemberitaan. Sabtu lalu, beredar SMS yang mencatut namanya. SMS itu memuat beberapa kasus petinggi Demokrat, bahkan juga termasuk Presiden SBY. Meski, Nazaruddin membantah dia menyebarkan SMS tersebut.
Tak sampai disitu, publik pun kembali digegerkan dengan blog Nazaruddin yang beralamat di http://nazaruddin78.blogspot.com. Di blog itu, Nazaruddin memberikan beberapa testimoni. Salah satunya, kasus yang menimpanya itu adalah bagian dari skenario untuk menjatuhkan Demokrat. Makanya, bertepuk tanganlah pihak tersebut. Nazar mengakui bahwa itu adalah blog dia.
Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, mengamini apa yang disampaikan oleh Nazaruddin. Ramadhan menyebut ada sosok berinial A yang menginfiltrasi Demokrat dengan cara menunggangi kader Demokrat. Si A ditengarai ingin mengobok-obok Demokrat karena tidak senang suara Demokrat naik 300 persen dari pemilu 2004 lalu.
Pada titik inilah, Partai Demokrat menggunakan taktik menyerang. Mencoba melemparkan gonjang-ganjing persoalan yang ada di Demokrat ke pihak luar. Tapi, karena tidak menyebut secara eksplisit siapa Mr A itu, malah hal itu menjadi bumerang bagi Demokrat. Karena peluru itu akan menyasar siapa saja politisi lama yang memiliki nama awal A.
Dan kalau Anda perhatikan, dalam komentar berita di berbagai media online juga dalam pembicaraan politisi dan jurnalis penyebutan inisial A ini melahirkan seribu satu dugaan dan prasangka, juga skenario yang kalau dipikir-pikir beberapa di antaranya masuk akal. Walaupun, masuk akal bukan berarti benar terjadi.
Di titik inilah saran Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul kepada Ramadhan Pohan yang merilis inisial A itu ada benarnya dan patut diapresiasi.
Seperti kata Ruhut, pernyataan Ramadhan itu bisa berakibat tidak baik.
Kalau hasilnya tidak baik, ini berarti Partai Demokrat blunder lagi. Dan ini bisa benar-benar gawat.
[zul]