Berita

M. Ryaas Rasyid/ist

Wantimpres: Pilkada Langsung Lebih Banyak Mudharat

JUMAT, 27 MEI 2011 | 12:23 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi, M. Ryaas Rasyid mengusulkan agar kepala daerah seperti gubernur, bupati dan walikota, dipilih oleh DPRD, bukan melalui pemilihan langsung yang melibatkan masyarakat.

"Kalau saya itu harga mati. (Apalagi) desain otonomi awal tidak ada pemilihan langsung. Orang mengatakan itu kemunduran demokrasi. Orang seperti ini suruh berdebat dengan saya. Demokrasi bukan hanya itu ukurannya. Pemilihan DPRD juga demokrasi," tegasnya usai diskusi di ruang DPD, Gedung Nusantara IV, Senayan, Jakarta, Jumat pagi (27/5).

Dia mengutarakan ini setelah melihat mudharat dari praktik pemilihan langsung yang selama ini dijalankan. Menurut Ryaas Rasyid, setidaknya ada lima dampak buruk dari pemilihan langsung. Pertama, terjadi dekadensi moral di lapangan dimana rakyat jadi pengemis. Di sebuah daerah di Sulawesi, katanya, masyarakat akan membuka pintu sampai subuh menjelang pemilihan. Mereka menunggu serangan fajar.


"Kedua, sumber korupsi. Setelah terpilih mau tidak mau dia akan cari uang untuk menggantikan (biaya kampanye). Itu sudah pasti. Ketiga, hasilnya tidak lebih baik dari yang dipilih DPRD. Keempat, terjadi suasana (tidak nyaman) dalam lingkungan birokrasi. Karena diobok-obok, diintervensi. Sehingga pemerintah yg komptensi tidak hadir. Kelima, biayanya lebih mahal. Positifnya cuman satu, rakyat ikut menyoblos. Itu secara formal," urainya.

Meski begitu, dia memang mengakui bahwa pada pemilihan melalui DPRD juga ada potensi money politics. Dari informasi yang ia peroleh, beberapa daerah, sudah DPRD-nya yang ingin agar pemilihan tidak lagi secara langsung. Dan DPRD tersebut, katanya, sudah mulai pasang tarif.

"Tapi itu bagus. Kalau sudah ada tarif, tinggal ditangkap saja. Itulah gunanya ada KPK, polisi, Jaksa. Lebih mudah memonitor money politics di DPRD daripada di masyarakat," tandasnya. [wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya