Berita

ilustrasi pesawat

Segera Bentuk Pansus untuk Bongkar Pembelian Pesawat MA 60 yang Bermasalah

RABU, 18 MEI 2011 | 22:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Proses pembelian pesawat MA-60 dari China memang sejak perencanaan sudah bermasalah. Pada saat itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Jamal bahkan meminta agar rencana pembelian buatan China Aircraft tersebut ditinjau ulang.

"Itu banyak masalah, waktu pada awal pembelian sudah mengalami masalah, mengalami keretakan di salah satu bagiannya, di Kupang pernah tergelincir, dan mengalami beberapa kendala. Ini kan pesawat yang masih uji coba, tak layak terbang," kata Saleh Hussein.

"Harganya juga tidak wajar. Dan juga masalah kelayakan dan sertifikasi," kata anggota Komisi V DPR, yang membidangi masalah perhubungan ini, yang saat ini sedang menggelar rapat dengar pendapat dengan Dirut PT Merpati di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Rabu, 18/5).


Dia juga mengaku heran kenapa pemerintah membeli pesawat buatan China yang tidak mengantongi sertifikat FAA dari Amerika Serikat dan EASA dari Eropa. Menurutnya, mestinya, pemerintah membeli pesawat CN 235 buatan PTDI yang telah mengantongi sertifikat FAA.

"Ada masalah yang ditutupi (kenapa pesawat China dibeli). Kenapa harus kesana. Ini pasti ada sesuatu," Sekretaris Fraksi Hanura ini menaruh curiga.

Untuk membongkar hal-ihwal pembelian pesawat tersebut, politisi muda ini mengusulkan agar dibentuk Panitia Khusus DPR. Apalagi, kasus pesawat milik Merpati ini melibatkan tiga komisi, yaitu komisi perhubungan, komisi perdagangan, dan komisi anggaran. "Di Paripurna kami akan usulkan," tegasnya.

Selain itu, dia menambahkan, sambil menunggu pengumuman hasil investigasi KNKT tentang penyebab terjadinya kecelakaan, semua pesawat jenis MA-60 milik Merpati digrounded atau dihentikan beroperasi sementara.[arp]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya