Berita

Dirgantara Indonesia/ist

Pemerintah Memang Tidak Berniat Besarkan PTDI

RABU, 18 MEI 2011 | 18:25 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pembelian pesawat Merpati jenis MA-60 dari China, yang jatuh di laut Kaimana Papua, terus mendapatkan kecaman dari publik. Semestinya, PT Merpati tidak perlu mendatangkan pesawat dari China karena Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), saat ini PT Dirgantara Indonesia (DI), juga memproduksi pesawat yang berkualitas tak kalah dengan pesawat negara lain.

"Itu sebetulnya CN 235 punya IPTN jelas telah mengantongi sertifikasi FAA (Federal Aviation Administration) dari Amerika, bahkan dari Eropa, EASA (European Aviation Safety Agency)," kata aktivis angkatan 78, Abdurrochim kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Rabu, 18/5).

Pernyataannya di atas mengutip pernyataan mantan Dirut IPTN Hari Laksono yang siang tadi menggelar konferensi pers di Rumah Perubahan 2.0, kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Juga hadir politisi Hanura, Akbar Faizal dan koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie M Massardi.


Diakui, untuk melakukan penerbangan Indonesia, pesawat tidak perlu mengantongi sertifikasi FAA. "Tapi perlu diketahui pesawat yang telah mengantongi FAA, jaminan keselamatannya lebih tinggi daripada (sertifikasi yang dikeluarkan)  China dan Indonesia. Kan kualitas sertifikasinya tidak sama," ungkapnya.

Begitu juga dari segi harga. Dana sebesar 220 juta US Dolar yang digunakan untuk membeli 15 unit pesawat MA-60, akan bisa mendapatkan pesawat CN 235 buatan dalam negeri sebanyak 50 unit.

"Katanya, mereka (PT Merpati)  butuh yang lima 50 seats (kursi) kapasitasnya. Tapi nyatanya untuk transportasi di daerah Indonesia Timur enggak perlu gede-gede kan. Kan yang kemarin pesawat yang jatuh itu hanya memuat 27 penumpang. Di rekaman video sebelum jatuh, kelihatan kosong. Artinya CN 235 itu sudah mampu," ungkap Rohim mengutip pernyataan Hari Laksono.

"Ini artinya tidak ada goodwill atau political will dari pemerintah untuk membangun penerbangan dalam negeri. Sebetulnya, kita pabrik ada, tenaga ada, cuman nggak ada pesanan. Ya enggak bisa kerja," tandas Rohim. [wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya