Berita

Adhie M Massardi

Pancasila, TNI, NII, SBY, Korupsi

Oleh Adhie M. Massardi
RABU, 11 MEI 2011 | 09:09 WIB

PANCASILA dihapus dari dunia pendidikan kita. Banyak orang yang kaget. Padahal Pancasila itu ideologi negara. Apa jadinya negeri ini kelak? Dengan pendidikan Pancasila yang intensif saja banyak orang jadi koruptor dan melahirkan pemimpin pembohong.

Tapi pada ke mana jajaran TNI yang oleh rakyat sudah dibelikan senjata, pakaian seragam, tenda serta sepatu? Padahal dalam setiap upacara mereka mengaku “Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila”.

Mereka juga bilang: “Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.”

Kita memang sudah tidak bisa lagi berharap (banyak) kepada TNI untuk menjaga hal-hal yang absurd, filosofis dan sedikit utopis seperti Pancasila. Karena mereka sedang bergelut dengan hal-hal yang nyata: kebutuhan hidup yang makin mahal dan lingkungan yang kian tidak sehat.

Makanya, meskipun mereka juga merasa sebagai “Kesatria Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan”, tapi tak berdaya ketika melihat para pemimpin semakin tidak jujur, menutupi kebenaran dengan pencitraan, dan membangun keadilan hanya untuk dirinya dan partainya yang sedang berkuasa.

“Sapta Marga, o Sapta Marga…!”

Mungkin karena melihat “bhayangkari negara” semakin keropos dan jauh dari sumpahnya, sebagaimana para elite penyelenggara negaranya, membuat orang tak lagi sungkan merakit bom dan meledakkannya di mana suka, termasuk masjid.

Kemudian beberapa orang lalu menawarkan alternatif lain bentuk negara. Bagaimana kalau Negara Islam Indonesia alias NII? Bukankah Islam mengajarkan kebaikan semata? Jadi apa salahnya membentuk NII, ketimbang negara dengan asas yang tak jelas?

Meskipun dirancang oleh orang-orang yang tidak jelas, tapi karena situasinya juga tak jelas, membuat NII ada yang meminati. Apalagi ketua umum dan sekjen Partai Demokrat yang berkuasa (Anas Urbaningrum dan Ibas), bukan hanya berkunjung, tapi juga menyumbang uang cukup besar ke pesantren Al Zaytun, yang ditengarai merupakan markas NII.

Bukan mustahil Presiden Yudhoyono, yang di partai itu duduk sebagai Ketua Dewan Pembina, menyetujui atau sekurang-kurangnya mengetahui kunjungan dan sumbangan uang dari partainya.

Mungkin juga akibat negara telah kehilangan kepemimpinan, pemerintah pun berjalan tanpa arah. Rakyat harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hidup. Para pedagang kecil tak memperoleh perlindungan sama sekali di tengah pertarungan raksasa perniagaan: Amerika, Cina, Jepang, Uni Eropa dan Korea Selatan.

Perekonomian nasional yang sudah dilibas kekuatan “pasar global”, membuat kesejahteraan umum yang menurut Konstitusi wajib diadakan, semakin jauh panggang dari api. Sementara kekayaan alam yang melimpah, yang menurut Konstitusi juga harus digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, malah dijadikan ajang korupsi.

Lalu apa kabar janji Presiden Yudhoyono yang “akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi?” Wallahualam bissawab. Hanya Tuhan yang tahu.

Sebab fakta membuktikan, justru anak buahnya sendiri yang banyak diindikasikan terlibat korupsi, baik yang di eksekutif (kabinet) maupun legislatif.

Di kabinet ada Hatta Rajasa yang sedang dibidik KPK karena diduga terlibat skandal hibah KA dari Jepang. Bersama Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Hatta juga bisa jadi tersangka bila terlibat mark up pembelian pesawat untuk maskapai penerbangan Merpati.

Di legislatif ada Ketua DPR Marzuki Ali (Wakil Ketua Dewan Pembina PD) yang terkait pembangunan gedung DPR yang mahalnya kelewat batas. Ada juga Nazarudin yang bendahara umum PD, yang diberitakan terlibat skandal suap Sesmenpora Andi Mallarangeng yang juga Sekretaris Dewan Pembina PD.

Jadi mau mimpin sendiri pemberantasan korupsi, Bos? [***]


Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya