Berita

Ansyad Mbai

Wawancara

WAWANCARA

Ansyad Mbai: Umar Patek Terlibat Bom Cirebon Nanti Kami Ungkap Jaringannya

KAMIS, 05 MEI 2011 | 06:57 WIB

RMOL. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan aparat polisi dan TNI terus mewaspadai ancaman balas dendam atas tewasnya pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden.

”Sebenarnya Osama Bin Laden tewas atau masih hidup,  kami tetap waspada terhadap aksi an­cam­an bom dengan motif balas den­dam,’’ kata Ketua BNPT, Irjen Pol (Purn) Ansyad Mbai, di Ja­karta, kemarin.

Pada umumnya bom yang terjadi di tanah air ada unsur balas den­dam. Misalnya bom Natal me­rupakan balas dendam dari kasus Poso dan Ambon. Bom di Ke­­dubes Philipina untuk mem­balas dendam atas mujahidin yang dibantai Philipina di Min­danau.


Ansyad menilai perlu ada upa­ya progresif untuk menekan acaman teror yang terjadi di In­donesia, salah satunya melalui pro­gram deradikalisasi. Ini tidak cukup dilakukan dengan khutbah yang dilakukan para ulama, tetapi harus ada pendekatan fisik.

“Yang paling mendesak untuk dilakukan adalah rehabilitasi para teroris yang sudah kembalil ke masyarakat. Kami bekerja sama de­ngan polisi, lembaga ke­ma­sya­rakatan dan Kementerian Aga­ma,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Umar Patek ditemukan di Pakistan, apa ada hubungannya dengan Osama Bin Laden?

Keberadaan Umar Patek di Pa­kistan ingin berjihad di sana. Se­dangkan keterkaitannya dengan bom bunuh diri di Cirebon, dia satu kelompok. Nanti akan kami ung­kap jaringannya secara lengkap.

Kenapa masjid yang dibom?
Teroris itu tidak peduli soal sa­sar­an, tempatnya boleh di mana saja.

Bagi mereka siapapun yang meng­hambat tujuannya, itu ada­lah musuh dan harus diperangi. Kalau masjid itu punya peme­rin­tah dan tidak sesuai dengan pa­ham­nya, maka mereka berke­ya­kinan tidak masalah bila dibom. Sebab, dianggap masjid kafir.

Berapa macam kelompok ra­dikal di Indonesia?
Ada dua kelompok radikal, yak­ni radikal teroris dan radikal non-teroris. Kelompok radikal te­roris itu melakukan aksi teror fisik. Sedangkan radikal non-te­roris melakukan aksi dakwah ke be­berapa masjid untuk me­nye­bar­kan pandangan mereka.

Apa motivasinya sama?
Betul. Kedua kelompok ingin me­lakukan jihad. Lebih jelasnya memformalkan syariat Islam men­jadi sebuah dasar negara. Jadi yang membedakannya soal strategi saja.

Isu apa saja yang disampaikan mereka?
Kelompok radikal teror pada mulanya mengusung isu inter­na­sio­nal, seperti simbol-simbol Amerika dan Yahudi. Tetapi seka­rang mengusung isu lokal bahwa ne­gara dianggap kafir.

Teroris terasa sulit diberantas, be­gitu tokohnya tewas, muncul to­koh yang lain, kenapa bisa be­gitu?
 Memang kondisinya seperti itu. Setiap teroris yang tewas, pasti muncul teroris baru. Ini me­mang menjadi persoalan untuk memberantasnya sampai tuntas.

Apakah kedua kelompok ra­dikal ini mendapat dana dari Al Qaeda?
 Pendanaan mereka tidak semata-mata dari Al-Qaeda, itu sudah terbukti. Coba saja lihat, me­reka merekrut orang untuk dicuci otak, mengambil laptop dan nyari duit dari kejahatan. Arti­nya kita tidak bisa salahkan dari luar saja, tapi dari dalam juga. Mereka merampok Bank Cimb Niaga dan merampok toko emas yang katanya merampok kekayaan musuh dalam perang.

Bagaimana mengatasi ke­mung­­kinan teror di Asean Summit?
Saya rasa pelaksanaan Asean Summit itu membuktikan bahwa Indonesia dalam kondisi aman. Tetapi kami tetap waspada dalam melakukan pengamanan. TNI dan Polri terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, tidak terkecuali dengan pihak keamanan dari negara-negara tetangga.

Bagaimana Anda melihat pa­ham NII?
Saya setuju dengan pendapat bahwa gerakan ini adalah makar. Tentu sudah sewajarnya ditun­taskan juga.

Paham NII sudah menyebar ke kampus, bukankah semakin sulit memberantasnya?
Ada penelitian menyebutkan bahwa banyak guru agama yang membenarkan aksi-aksi in­toler­an. Untuk itu perlu peran dari rek­tor dan dosen. Kalau tidak salah Men­­diknas sudah memanggil se­mua rektor, tapi saya tidak tahu ha­silnya. Saya rasa poinnya ada­lah mem­perhatikan masalah ini.   [RM]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya