Berita

Michael Tene

Wawancara

Michael Tene: Pembajak Minta Tebusan Dengan Nilai Nggak Normal

KAMIS, 14 APRIL 2011 | 00:10 WIB

RMOL.Namun Juru Bicara Kemen­te­rian Luar Negeri (Kemenlu) Mic­hael Tene enggan merinci lebih detail langkah apa saja yang dila­kukan. Sebab, ini menyangkut  keselamatan orang.

“Saya tidak bisa merinci lebih detail, apa saja yang pemerintah la­kukan. Intinya kami sedang melakukan usaha diplomasi dan komunikasi dengan berbagai jaringan yang ada untuk me­nye­lamatkan para ABK tersebut,” ung­kap Michael Tene kepada Rakyat Merdeka, Kemarin.

Sebelumnya diberitakan, MV Sinar Kudus beserta 20 ABK asal Indonesia disandera perompak Somalia sejak 16 Maret lalu. Na­mun hingga kini nasibnya masih terkatung-katung. Kapal itu ber­angkat dari Pomala, Sulsel me­muat feronikel milik PT Aneka Tambang Tbk dibajak saat dalam perjalanan ke Laut Merah dengan tujuan akhir Rotterdam.

Michael Tene selanjutnya me­nga­takan, pemerintah ber­ko­mit­men membebaskan ABK asal Indonesia. Sebab, keselamatan ABK dan keluarga menjadi per­tim­bangan utama pemerintah dalam usaha tersebut.

Berikut kutipan selengkapnya;

Pemerintah dinilai lamban menyelamatkan WNI yang disandera, kenapa begitu?

Kalau dibilang lamban, nggak juga. Sebab,  setelah pemerintah me­ngetahui adanya kasus ini, ka­mi langsung melakukan langkah-langkah untuk menghimpun informasi dan memastikan agar para ABK ini dalam keadaan se­lamat dan aman. Selain itu ber­upaya membebaskan mereka.

Bagaimana dengan keluarga ABK tersebut?

Pihak keluarga tentunya sudah ki­ta beritahu kondisi ABK ter­se­but.

Langkah apa yang akan dila­kukan?

Ya, terus berupaya, berbagai diplomasi kita lakukan. Tapi se­cara detail tidak bisa saya sam­paikan. Ada kekhususan tertentu, sehingga saya tidak mau mem­berikan pernyataan yang nantinya bisa menyulitkan upaya yang ma­sih terus berlangsung.

Apa yang menjadi pertim­bangan pemerintah dalam usaha pembebasan?

Pertimbangan utamanya adalah memastikan keamanan ABK yang masih tersandra dan secepatnya kita bisa mebebaskan mereka. Hal itu yang menjadi kepedulian kita sejak awal.

Untuk keadaan ABK ba­gai­mana?

Dari satu sisi info yang kami terima, mereka dalam keadaan aman karena pembajak ingin me­minta uang tebusan. Tapi nilainya nggak normal. Artinya ada ke­su­litan-kesulitan yang dihadapi oleh ABK tersebut. Misalnya lo­gis­tik yang semakin kurang, ke­mudian ada juga kondisi ke­se­hat­annya menurun. Ini memang men­jadi keprihatinan kita bersama.

Apa yang dilakukan pemerin­tah menangani kesulitan logistik dan kesehatan ABK?

Untuk masalah itu kita tidak bisa memberikan. Sebab, kapal itu dikuasai  para pembajak. Na­mun kami berusaha keras sece­pat­nya membebaskan mereka.

Kapan kira-kira ?

Pemerintah ingin agar ini se­lesai secepatnya. Tidak ada dead­line dalam hal ini karena kasus seperti ini tidak mungkin kita menetapkan deadline. Tetapi kita ingin permasalahan ini sec­epat­nya bisa diselesaikan dengan me­lakukan usaha-usaha yang sudah kami jalankan.

Bagaimana komunikasi de­ngan pemerintah Somalia?

Memang kita melakukan komunikasi dengan semua pihak yang ada di kawasan sekitar So­malia yang selama ini kita ke­tahui terlibat atau berperan dalam ber­bagai upaya untuk pe­na­nganan masalah-masalah pem­ba­jakan yang marak di kawasan perairan Somalia.

Dikabarkan, dari negara lain kapalnya juga dibajak, apakah menjalin komunikasi juga?

Upaya-upaya diplomasi dan komunikasi kita jalin tidak hanya de­ngan pemerintah Somalia, te­tapi dengan semua pihak, seperti masyarakat internasional.

Namun untuk detailnya saya tidak bisa memberikan informasi. Sebab, upaya tersebut sedang ber­lang­sung. Yang jelas kami menjalin ko­munikasi dengan semua pihak. [RM]


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya