Berita

Presiden SBY, Keluarlah dari Paradigma yang Mediocre!

SENIN, 04 APRIL 2011 | 11:50 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL.Presiden SBY ingatkan, bussiness as usual takkan membawa Indonesia menghapus segala hambatan ekonomi di dalam negeri serta menjadi kekuatan ekonomi yang disegani di regional maupun internasional.

SBY melanjutkan, karena itulah pemerintah saat ini tengah menyusun masterplan (rencana induk) yang dikenal sebagai Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"MP3EI sebagai rencana induk kebijakan dan strategi. Disusun bersama komite ekonomi nasional, komite inovasi nasional, ada pimpinan daerah, pakar dan pelaku ekonomi yang lain kita ajak serta. Mari kita sukseskan MP3EI ini agar negeri ini berubah, agar ekonomi dan usaha berkembang secara signifikan," ajak SBY saat membuka Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, pekan lalu (Jumat, 1/4).


Pengamat ekonomi, Hendri Saparini, saat diminta tanggapannya soal MP3EI, yang kata Presiden tengah dirancang pemerintah bersama elemen masyarakat, menilai, hingga saat ini sosialisasi masterplan tersebut belum maksimal.

"Saya belum pernah melihat wujudnya seperti apa dan detailnya seperti apa. Tapi kalau ditanya, apakah Indonesia perlu percepatan pembangunan ekonomi, saya jawab iya," ujar perempuan berkacamata ini saat berdialog dengan Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Senin, 4/4).

Percepatan pembangunan diperlukan karena potensi Indonesia masih jauh lebih besar dari apa yang sudah diraih saat ini. Tapi, Hendri mengeritik pola pikir pemerintah yang sangat mediocre yang sebetulnya tidak punya resep jitu untuk memperbaiki perekonomian nasional selain mengikuti kebijakan ekonomi yang menjerumuskan Indonesia ke lembah ketergantungan yang amat dalam.

"Kita perlu jalan keluar dari paradigma mediocre. SBY katakan kita akan tumbuh 7 persen di 2014. Padahal, untuk tumbuh 7 persen itu bukan hal sulit dan kita bisa melakukannya sekarang," ujar Hendri.

Hendri meragukan percepatan pertumbuhan ekonomi yang dirancang pemerintah itu berkeadilan dan mementingkan pembangunan nasional. Seolah membesarkan kue ekonomi yang kemudian dinikmati korporasi asing.

"Misalnya, kalau kita mau dorong Merauke sebagai lokasi pertanian dan sumber pangan, hilangkan berbagai peraturan yang hambat investasi asing. Dengan demikian, pertanian dan perkebunan berbasis korporasi itu akan dorong pertumbuhan lebih tinggi," papar Managing Director Econit Advisory Group ini.

Artinya, apakah prinsip kemandirian, kepentingan nasional dan keadilan masuk ke dalam agenda percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi a la SBY. Dari contoh rencana pengadaan lahan sumber pangan di Merauke tadi, pemerintah punya dua pilihan tegas, apakah mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis korporasi asing atau pertumbuhan yang menyejahterakan petani lokal.

"Di dalam sektor pertambangan demikian juga. Pertambangan sangat menarik bagi investor di luar negeri. Nah, di UU Penanaman Modal Asing kita, tidak ada pembeda antara investor besar, kecil maupun dalam negeri," papar Hendri lagi.

Jika pemerintah tetap menggunakan approach yang menservis habis-habisan korporasi asing, pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pun akan begitu mudah.

"Mereka akan relokasi ke sini, mendorong investasi, tapi berapa banyak anggaran pemerintah yang tesedot untuk membangun infrastruktur industri, dari China misalnya. Lalu mengapa tidak dibangun untuk pengusaha kita? Seolah kalau ada investor asing mau datang, kita tergopoh-gopoh dan APBN serta APBD digunakan untuk itu," tuturnya.

Intinya, jika percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi itu didasari prinsip kemandirian, keberpihakan pada keadilan nasional, maka hal itu patut diapresiasi.

"Semestinya presentasi presiden bisa gambarkan, approach mana yang akan diambil. Kue ekonomi akan berpihak kemana," pungkas Hendri.[ald]

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya