Berita

teror bom buku

Wawancara

WAWANCARA

Profesor Jacques Bertrand: Lokalisir Kelompok Radikal Untuk Cegah Teror Bom

JUMAT, 25 MARET 2011 | 02:32 WIB

RMOL. Isu politik di Indonesia menjadi santapan utama Profesor Jacques Bertrand sejak 1990. Akademisi Kanada itu meneliti isu-isu etnis, nasionalisme, dan demokratisasi di sini.

Bertrand tertarik kepada Indonesia karena keanekaraga­mannya, tapi tetap bersatu seperti yang tercakup dalam Bhineka Tunggal Ika yang hampir sama dengan Kanada.

Penulis Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia ini ber­kunjung ke Indonesia untuk men­jadi pembicara di konferensi internasional di Jakarta, 23-24 Maret 2011.


 Berdekatan dengan waktu lawatan Bertrand, isu teror bom buku masih hangat serta berte­patan dengan berlangsungnya sidang Abubakar Baasyir yang disebut-sebut sebagai pemimpin Al Qaeda di Asia Tenggara.

Di sela-sela kesibukannya, Bertrand menyempatkan diri menemui wartawan Rakyat Mer­deka, Mellani Eka Mahayana.  Berikut petikan wawancara dengan Indonesianis ini di sebuah hotel  di kawasan Thamrin, Ja­karta Pusat, Selasa (22/3).

Apakah kasus Baasyir men­jadi bahasan hangat di Kanada seperti di Amerika Serikat dan Australia?
Tidak. Kasus Baasyir tidaklah menjadi pemberitaan besar di Kanada. Bagi orang Kanada yang punya hubungan dengan Indone­sia tentu mengetahui Baasyir. Tapi hanya sejumlah kecil dari orang Kanada yang mengetahui apa yang terjadi di Indonesia. Ini tentu tergantung pada pem­beri­taan media. Pemberitaan di sini tidak terlalu terekspos media di sana. Jika ada bom tentu ada beri­tanya. Tapi tidak ada tindak lanjut mengenai persidangan Baasyir. Saya rasa itu sifat jur­nalisme. Saya berharap ada lapo­ran lebih lanjut tentang Indonesia.

Ada kesan Amerika Serikat menekan Indonesia untuk meng­­hukum Baasyir, menurut pengamatan Anda bagaimana?
Tentunya Baasyir hingga pro­ses sekarang telah melalui proses yang dijalankan kepoli­sian. Polisi menemukan bukti-bukti. Dalam posisi ini, Amerika ingin hukum ditegakkan berda­sar­kan bukti-bukti yang ada.

Kenapa terjadi teror bom di sini?
Ada banyak cara sesuatu ke­lom­pok mengorganisir diri.

Salah satunya secara radikal. Kelompok radikal ada di mana-mana. Di Inggris, di Kanada mau­pun di Amerika Serikat, termasuk di Indonesia. Yang paling penting adalah apa yang Anda lakukan jika kelompok ini muncul.

Menurut Anda apa yang perlu dilakukan, apakah peme­rintah perlu menekan kelom­pok ini?
Saya rasa jika negara men­cipta­kan iklim ketakutan dan melakukan tekanan-tekanan be­lum tentu dapat membungkam aksi-aksi radikalisme.  Selain itu, tentu cara ini bukan hal yang diinginkan di Indonesia. Mereka ini hanya sekolompok kecil, mi­noritas, jika dibandingkan ratusan jutaan orang rakyat Indonesia.

Jadi bagaimana menanga­ninya?
Ada dua cara yang penting di­perhatikan. Pertama, kenapa se­ke­lompok kecil yang punya ide-ide radikal ini tidak dilo­kali­sir. Mereka hanya kelompok kecil, yang mengkhawatirkan. Mereka bisa muncul kapan saja. Ini bagian kecil dari masalah yang ada. Tinggal polisi bekerja de­ngan baik membongkar jaringan mereka, kemudian membung­kam­nya.

Tidak banyak aksi radi­kalis­me, terorisme, di Indonesia seba­gai­mana negara lain seperti di Timur Tengah. Ini hanya bagian kecil. Kedua, jangan mem­buat isu radikalisme ini menjadi hal yang fenomenal, karena se­sungguh­nya banyak masalah penting yang ada di Indonesia. Aparat yang harus menjalankan tugasnya, melacak keberadaan mereka dan memo­tong jaringan mereka. Sangat mengkha­watir­kan karena masa­lah yang kecil ini membuat orang menjadi keta­kutan dan frustrasi.

Kenapa radikalisme muncul, apakah karena ketimpangan eko­nomi seperti banyaknya pengangguran?
Saya sangsi aksi radikal itu muncul karena banyak pengang­gu­ran. Banyaknya orang muda yang terdidik dan pengangguran belum tentu menjadi pemicu. Bia­sanya terorisme muncul karena tidak ada solusi. Nah saya pikir di Indonesia, ada wadah yang dapat menjadi tempat mereka menyampaikan aspirasi. Lewat partai politik salah satu­nya. Dan di sini saya juga tidak melihat munculnya partai-partai dengan ide-ide radikal di sini.

Mengenai serangan ke ke­lom­pok Ahmadiyah di Indone­sia, apakah di negara ada juga ada kejadian serupa?
Di Kanada juga ada kantong-kantong Ahmadiyah. Di Kanada sesuai dengan konstitusi apapun kepercayaan Anda, hak Anda dilindungi. Lalu jika seseorang itu datang ke rumah Anda menga­jak bergabung dengan keperca­yaan mereka, kalau Anda tidak setuju maka Anda tinggal meno­lak dan tutup pintu, ha-ha-ha.  [RM]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya