Berita

X-Files

Jamwas Bikin Tim Penelisik Kasus Arga

Tuntutan Robert Tantular Lebih Ringan dari Anak Buahnya
RABU, 16 MARET 2011 | 08:10 WIB

RMOL. Jaksa Agung Muda Pengawasan Marwan Effendy mengindikasikan, penyusuan surat rencana penuntutan kasus Bank Century dengan terdakwa Arga Tirta Kirana bermasalah. Lantaran itu, Jamwas membentuk tim khusus untuk mempelajari materi kasus ini. Dan, diam-diam, Arga menyurati pimpinan Komisi III DPR untuk meminta perlindungan hukum.

Marwan pun menyatakan te­lah meminta Inspektur 1 Pe­nga­wasan Kejaksaan Agung yang membidangi daerah hukum Ke­jak­saan Tinggi DKI Jakarta un­tuk mempelajari perkara ini.

Me­nurut Marwan, langkah ter­se­but ia tempuh menyusul ada­nya se­­jum­lah dugaan pelang­ga­ran da­lam penanganan kasus ter­sebut. “Se­mentara ini, jajaran pe­nga­wa­san melihat ada dugaan pe­lang­ga­ran,” katanya saat dihu­bungi, kemarin.


Seperti diketahui, tuntutan un­tuk salah satu pemilik Bank Cen­tury, Robert Tantular 8 ta­hun pen­jara dan denda Rp 50 mi­liar. Tun­tutan untuk Dirut Bank Cen­tury Hermanus Hasan Muslim 6 ta­­hun penjara dan denda Rp 5 mi­liar. Se­­dangkan tuntutan untuk Kepala Divisi Corporate Legal Bank Cen­tury, Arga Tirta Kirana 10 ta­hun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Merasa bingung karena tun­tu­tan pidananya lebih berat dari ke­dua bosnya itu, Arga me­ngi­rim surat kepada pimpinan Ko­misi III DPR. Di bagian ba­wah­nya tertu­lis, surat ini ditembuskan kepada penasihat hukumnya dari Kantor Pengacara Gani Djemat & Par­t­ners, yakni Humprey R Dje­mat. Pada surat tertanggal 7 Ma­ret 2011 itu, Arga memohon Ko­misi III menyoroti persoalan ini.

Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua Komisi III DPR Azis Syam­su­d­din mengakui telah menerima su­rat tersebut. “Kami akan me­mang­gil pihak-pihak terkait ka­sus ini,” kata Azis.

Menurut Arga dalam surat itu, tindakannya menandatangani per­janjian kredit maupun me­mo­ran­dum pembukuan fasilitas kre­dit (MPFK) atau dokumen lain­nya sehubungan dengan pem­be­rian kredit, adalah dalam kapa­sitas selaku penerima kuasa dari pemberi kuasa, yaitu Direktur Utama PT Bank Century, Her­ma­nus Hasan Muslim dan Wakil Di­rektur Utama, Hamidy.

Merujuk pada Kitab Undang-Undang H­u­kum Perdata, Arga ber­­pan­da­ngan, pemberi kuasa itu­lah yang semestinya bertang­gung jawab atas setiap tindakan yang dil­a­ku­kan penerima kuasa.

Lebih lanjut, Arga menilai, si­kap jaksa penuntut umum (JPU) janggal. Contohnya dapat dilihat pada kasus Hermanus Hasan Mus­lim dan Robert Tantular. Dia mem­pertanyakan, kenapa JPU tidak optimal membuktikan Her­manus dan Robert memberi pe­rin­tah ke­pada pegawai-pegawai Bank Cen­tury untuk memproses per­mo­ho­nan kredit-kredit ber­ma­sa­lah di luar prosedur internal bank itu.

Padahal, sambungnya, dak­wa­an JPU mengenai pemberian pe­rintah dalam kredit bermasa­lah ini, telah terbukti dengan ada­nya pu­tusan Pengadilan Ne­ge­ri atas nama Robert Tan­tular serta Her­manus Hasan Mus­lim yang di­kuat­kan putusan Pengadilan Ting­gi dan putusan Mah­kamah Agung.

“Anehnya dalam melaku­kan penuntutan di kasus saya, pe­nuntut umum menyatakan bahwa tidak terbukti Hermanus maupun Robert telah memberi perintah da­lam proses pemberian kredit-kredit bermasalah,” tandasnya.

Sifat bertolak belakang, me­nurut Arga, juga ditunjukkan JPU dalam surat dakwaan maupun surat tun­tutan, yang menyatakan ada peri­ntah, tapi setelah pe­na­si­hat hukum mengajukan pem­b­e­laan atau pleidoi, penuntut umum berbalik arah dan menyatakan dalam replik bahwa perintah itu tidak terbukti.

Lebih jauh, Arga juga menyoal, kenapa Robert dan Hermanus tak dikenakan pasal korupsi. Me­lain­kan, dikenakan pemi­da­na­an ber­dasarkan Undang-Undang Per­ban­kan. “Padahal, dengan Un­dang-Undang Tindak Pidana Ko­rupsi, pemidanaan dapat di­ja­tuh­kan dengan penjara yang lebih lama disertai pengembalian keru­gian negara,” tandasnya.

Pada bagian awal surat ini, Arga juga menyampaikan dugaan rekayasa hukum kasus tersebut di kepolisian. “Rekayasa hukum su­dah saya alami sejak awal kasus empat kredit bermasalah yang diikuti penetapan status tersangka di kepolisian,” katanya.

Menurut Arga, saat menjadi sak­si kasus tersebut, ia telah mem­berikan keterangan yang di­butuhkan penyidik untuk mem­buka tabir permainan Robert dan Hermanus. “Saya seharusnya ti­dak dijadikan tersangka atas du­gaan pembuatan pencatatan pal­su, karena sebagai kepala divisi corporate legal, saya tidak me­mi­li­ki wewenang dalam proses pem­berian persetujuan kredit. Saya tidak termasuk dalam ko­mite kredit,” katanya.

Namun, Kabareskrim Polri Kom­­jen Ito Sumardi dan Ka­div­humas Mabes Polri Irjen An­ton Bachrul Alam belum mau me­nang­gapi surat Arga itu.

Akan Panggil Arga Kejaksaan & Kepolisian
Azis Syamsuddin, Wakil Ketua Komisi III DPR
Masih Banyak Celah Untuk Mafia Hukum
Boyamin Saiman, Koordinator LSM MAKI

Masih adanya dugaan re­ka­yasa penanganan kasus Cen­tury, hendaknya bisa ditun­tas­kan secara konkret oleh lem­baga peradilan. Demikian pen­dapat Koordinator LSM Ma­syarakat Anti Korupsi In­do­nesia (MAKI) Boyamin Sai­man, kemarin.

Menurut dia, praktik-praktik mafia hukum selama ini masih menjadi momok dalam menun­taskan sebuah perkara. “Apa­lagi yang menyangkut perkara besar,” ujar Boyamin.

Dia menyatakan, lepas dari penanganan kasus Arga, kondisi penegakan hukum di Tanah Air saat ini bisa dibilang rawan. Sejak suatu perkara ditangani kepolisian, lalu dilimpahkan ke penuntut umum dan disidangkan, tidak sedikit celah yang bisa dijadikan ajang untuk dimanfaatkan mafia hukum. “Sekarang tinggal ba­gai­mana masyarakat mengawal dan mengawasi kinerja aparat penegak hukum,” ujarnya.

Merujuk pada kasus Arga, dia menambahkan, substansi pe­nuntasan perkara ini sekarang sudah ada di tangan majelis ha­kim. Atas hal tersebut, ke­bi­jak­sanaan dan kearifan hakim me­nilai dan memutus perkara sa­ngat dominan.

“Dari penilaian dan pertim­bangan hakim inilah, putusan yang sesuai dengan azas ke­adilan masyarakat diharapkan bisa lahir,” tuturnya.

Ia pun berharap pembenahan konstruksi aparat penegak hu­kum dilaksanakan secara si­multan. Lagi-lagi, hal ini di­tu­jukan agar azas keadilan ma­syarakat dapat dirasakan oleh setiap insan pencari keadilan tanpa pandang bulu.

“Ini men­jadi tugas kita ber­sama. Peran DPR sebagai pe­nga­was hendaknya juga diting­katkan untuk menegakkan hukum di Tanah Air. Dengan kondisi yang demikian, maka ke depan nanti tidak ada lagi daftar panjang orang yang menjadi korban mafia hukum,” katanya.   [RM]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Jaksa Agung Resmi Lantik Kuntadi sebagai Pengganti Febrie

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:25

Wasekjen AMPI: Hasil Rapat Pleno IX Cacat Hukum dan Tak Punya Legitimasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:23

Danantara Mulai Bentuk Perusahaan Manajemen Aset Raksasa

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:15

Samsung Galaxy Z Fold 8 Hadirkan Desain Tipis dan Performa Tangguh

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:55

Indonesia Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial di Laut Merah

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:34

Perbaikan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jadi PR Bersama

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:32

Panda Bond RI Laris, Pemerintah Raup Rp18,5 Triliun

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:27

Kemunculan Kabinet Bayangan Konsekuensi dari Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Iran: Trump akan Hadapi Konsekuensi jika Serangan AS Berlanjut

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Dude Harlino Kembalikan Honor Rp5,25 Miliar dari PT DSI, Sebut Bentuk Kepedulian untuk Korban

Jumat, 24 Juli 2026 | 10:50

Selengkapnya