Berita

Adhie M Massardi

George Toisutta dan Tragedi Baju Hijau di Lapangan Hijau

Oleh Adhie M. Massardi
RABU, 23 FEBRUARI 2011 | 07:40 WIB

SEPAKBOLA bagi bangsa Indonesia memang bukan sekadar olahraga, tapi salah satu alat perjuangan. Makanya, Ir Soeratin Sosrosoegondo dulu (1930) mendesain PSSI bukan semata sebagai organisasi sepakbola, tapi instrumen perlawanan terhadap rezim penjajah Belanda.

Itulah sebabnya di masa lalu, setelah Soeratin, kursi ketua PSSI selalu diisi pejuang yang juga tokoh pergerakan: Artono Martosoewignyo, Maladi, Abdul Wahab Djojohadikoesoemo.

Di zaman Orde Baru, karena yang bisa disebut pejuang itu adalah korps baju hijau (TNI), maka orang No 1 di PSSI merupakan jatah tentara: Bardosono, Moehono, Ali Sadikin, Sjarnoebi Said, Kardono, Azwar Anas, Agum Gumelar.

Pasca-reformasi, orientasi sepakbola berubah drastis. Menjadi bagian dari industri yang berdimensi ekonomi. Makanya dunia sepakbola kita secara de fakto dan de jure dikuasai para pengusaha papan atas: Nurdin Halid, Nirwan D Bakrie.

Ketika hubungan ekonomi (pengusaha) dan politik (penguasa) makin lengket, sepakbola pun mengalami metamorfosis. Sepakbola, yang menjanjika massa sangat besar, pun menjadi instrumen politik yang menggelitik.

Akibatnya, kini dunia sepakbola kita memasuki zaman “pelangi” yang aneh. Lihat saja, di lapangan hijau yang terjadi bukannya pertarungan antar-kesebelasan atau antar-klub dengan sistem dan strategi bola yang cangih: 4-4-2 vs 5-3-1. Atau gaya catenaccio Italia vs total football Belanda.

Sekarang ini di lapangan hijau yang kita saksikan adalah pertarungan warna. Tentu saja yang paling dominan adalah Kuning (Golkar: Nurdin-Nirwan) vs Biru (Demokrat: Andi Mallarangeng-Penguasa). Sedangkan George Toisutta (TNI-baju hijau) dan Arifin Panigoro (merah-PDIP-PDP) hanya pelengkap atau hanya sekedar pion dalam kompetisi yang menggelikan ini.

Tentu saja yang paling meradang adalah Toisutta. Karena Jenderal TNI bintang empat yang sedang jadi orang No 1 di TNI-AD ini, bersama Panigoro, tak bisa ikut dalam pertarungan karena diganjar “kartu merah” Komite Pemilihan Ketua PSSI, justru sebelum masuk lapangan pertandingan.

Kita tidak tahu apakah panitia pemilihan, yang didominasi kekuatan Kuning (Golkar), sudah mempertimbangkan kemungkinan munculnya reaksi dari TNI, wabil khusus TNI-AD, karena bos mereka dipermalukan di depan publik nasional dan internasional (FIFA)?

Tapi yang tak kalah pentingnya, tahukah Toisutta kenapa pagi-pagi dia sudah dieliminasi dari medan kompetisi ketua PSSI? Dan tahukah Toisutta kenapa Pemerintah Yudhoyono, via Menegpora Andi Mallarangeng, tampak gigih membela dan melakukan intervensi terbuka dengan, seolah-olah, demi penegakkan hukum?

George Toisuta pasti prajurit tulen yang hatinya dibungkus Sapta Marga. Ia hanya tahu berjuang, berjuang dan berjuang. Makanya, begitu melihat medan perjuangan di lapangan hijau terbuka bagi dirinya, ia ingin lekas sampai di sana. Seperti yang pernah dilakukan para seniornya.

Kita saya sangsi, Toisutta memahami bahwa lapangan hijau sekarang sudah berubah jadi medan ekonomi dan politik, dua cabang kehidupan yang mengandung unsur tipu daya dan intrik yang kuat. Sebab kalau Toisutta paham soal ini, pasti ia juga tahu kalau dirinya yang sudah terjebak “off-side” dipaksa bikin “gol!”

Jadi ambisi Toisutta duduk di kursi No 1 PSSI memang berbeda dengan Arifin Panigoro, pengusaha yang juga politisi, yang tahu persis potensi ekonomi dan politik di lapangan hijau.

Lalu kenapa Jenderal TNI-AD George Toisutta yang 100 persen ingin berjuang di lapangan hijau dihalang-halangi duet Nurdin-Nirwan?

Mungkin karena Toisutta didorong Panigoro, orang yang sangat dekat dengan Sri Mulyani, bekas Menteri Keuangan yang dianggap SPGnya IMF, seteru beratnya Abrizal Bakrie. Sedangkan Nurdin Halid orang penting di Golkar, yang dipimpin Aburizal, dan Nirwan adiknya bos partai beringin itu.

Jadi George Toisutta tampaknya salah milih pintu masuk ke Stadion Senayan…! [**]


Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya