Berita

Hardjono

Wawancara

WAWANCARA

Hardjono: Saya Belum Bisa Berkomentar, Lihat Dulu Materi Gugatannya

SABTU, 19 FEBRUARI 2011 | 08:06 WIB

RMOL. Bekas Ketua Majelis Kehormatan Hakim Mahkamah Konstitusi (MKH MK) Hardjono enggan mengomentari rencana gugatan putri bekas Hakim Konstitusi Arsyad Sanusi, Neshawaty Arsyad.

Menurutnya, adanya pihak pihak yang tidak puas terhadap sebuah keputusan merupakan hal yang wajar.

“Ya wajar saja. Setiap keputu­san kan pasti ada yang puas dan ada yang tidak puas,” kata Har­djono kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.


Seperti diberitakan sebelum­nya, Putri bekas Hakim Konsti­tusi Arsyad Sanusi, Neshawaty Arsyad menyatakan, akan meng­gugat bekas Ketua MKH, Har­djono de­ngan gugatan penghi­naan perdata di Pengadilan Umum.

Pasalnya, merasa terhina atas putusan MKH MK yang menye­butkan dirinya berlaku kolutif dan aktif, sehingga seakan-akan Nesha seperti pemeras.

Hardjono selanjutnya menga­ta­kan, pihaknya belum bisa mengo­mentarinya. Sebab, belum tahu gu­gatan kepada dirinya itu  seperti apa.

“Jadi, saya belum bisa berko­mentar, kita lihat dulu materi gugatannya, ’’ ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa Anda belum tahu ren­cana gugatan itu?
Saya memang mengetahui infor­masi itu dari media. Tapi, saya tidak bisa menjawab infor­masi melalui surat kabar. Masa’ kami saling menjawab masalah itu di media massa.

Bagaimana proses pembua­tan keputusan itu, adakah yang mengintervensi?
Siapa yang mengintervensi. Ke­putusan itu dibuat oleh sejum­lah guru besar dan orang-orang yang kompeten. Apa mungkin diintervensi. Kalau pun ada yang mau mengintervensi apa dia berani.

Dari segi akademisi, dari se­mua anggota MKH cuma saya yang bukan pro­fesor. Mi­salnya saja Profesor Bagir Manan yang juga bekas Ke­tua  MA, Profesor Abdul Mukthie Fadjar yang juga bekas Hakim Konstitusi. Masa’ orang-orang seperti itu’mau diin­ter­vensi, saya kira nggaklah ya.

Bagaimana komentar Anda atas mundurnya Arsyad Sa­nusi?
Itu keputsan Pak Arsyad. Kami sangat menghargai hal itu, karena keputusan itu sangat mulia.

Ketua MK pun sangat meng­hargai keputusan tersebut.

Padahal dengan putusan MKH itu, secara etik sudah selesai, ka­rena diberi sanksi teguran. Tapi Pak Arsyad mundur.

Neshawaty merasa putusan itu tidak adil?
Saya tadi sudah bilang, setiap putusan selalu ada yang puas dan ada yang tidak puas. Itu wajar saja. Yang jelas, MKH dalam me­nangani masalah ini memang me­meriksa hakim. Namun, dalam melakukan pemeriksaan kan tidak hanya hakimnya saja yang ditanya-tanya. Harus ada saksi-saksi. Dalam hal ini, Pak Arsyad itu hakimnya. Kenapa dia sampai diberikan teguran, ya harus ada latar belakangnya.

Latar belakangnya adalah putri­nya, iparnya, dan bawahan­nya. Kalau itu bukan putrinya, bukan ipar, dan bukan bawa­hannya, maka perkara itu tidak ada hubungannya dengan Pak Arsyad. Jadi, tidak perlu diberi­kan teguran.   [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

11 Juta PBI BPJS Dihapus, Strategi Politik?

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:04

Warga Jateng Tunda Pembayaran Pajak Kendaraan

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:34

Kepemimpinan Bobby Nasution di Sumut Gagal

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:19

Boikot Kurma Israel

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:09

7 Dugaan Kekerasan Berbasis Gender Ditemukan di Lokasi Pengungsian Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:33

Pengolahan Sampah RDF Dibangun di Paser

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:03

Begal Perampas Handphone Remaja di Palembang Didor Kakinya

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:00

Jokowi Terus Kena Bullying Tanpa Henti

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:34

4 Faktor Jokowi Ngotot Prabowo-Gibran Dua Periode

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:10

Rano Gandeng Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:09

Selengkapnya