Berita

Ilustrasi

REVOLUSI MESIR

30 Tahun Hosni Mubarak dan Kemarahan yang Tak Dapat Diredam Lagi

SABTU, 12 FEBRUARI 2011 | 08:25 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Hanya satu dari tiga granat yang dilemparkan Letnan Khalid Islambouli ke arah Presiden Anwar Sadat yang meledak. Bersamaan ledakan itu, beberapa anggota Letnan Islambouli melompat dari truk dan melepaskan tembakan membabi buta ke arah podium.

Parade militer yang digelar pagi itu berubah menjadi ladang pembantaian.

Hari itu, 6 Oktober 1981. Anwar Sadat memimpin parade militer untuk memperingati keberhasilan pasukan Mesir merebut Terusan Suez dari tangan Inggris dan sekutunya dalam Operasi Badar tahun 1973. Empat lapis pasukan keamanan melindungi Anwar Sadat. Belum lagi delapan bodyguard yang menempelnya dengan ketat.

Melihat betapa ketatnya pengawalan Anwar Sadat, sulit membayangkan Letnan Islambouli dan kelompoknya bertindak nekat.

Anwar Sadat terluka di bagian dada, perut dan leher. Ia dilarikan ke rumah sakit. Setelah beberapa jam, delapan dokter yang menanganinya mengumumkan kematian Anwar Sadat. Selain Anwar Sadat, korban tewas lainnya adalah Dutabesar Kuba, Dutabesar Oman dan Bishop Koptik Ortodoks.

Adapun Wakil Presiden Hosni Mubarak yang mendampingi Anwar Sadat sejak 1975 hanya terluka dalam serangan itu bersama Menteri Pertahanan Irlandia James Tulli dan empat liasion officers militer AS.

Dua penyerang tewas ditembak pasukan pengawal, dan beberapa lainnya, termasuk Letnan Islambouli, ditangkap. Bulan April 1982 Islambouli dan kelompoknya yang tertangkap dihukum mati.

Kenekatan Letnan Islambouli inilah yang telah membuka lebar jalan di depan Hosni Mubarak, yang sebelum menjadi Wakil Presiden adalah Komandan Angkatan Udara Mesir. Sejak kematian Anwar Sadat dia menjadi penguasa Mesir dan bertahan sampai hari ini.

Selama tiga dekade berkuasa, Hosni Mubarak membangun basis kekuatannya dengan dukungan empat pilar utama: Dinas Keamanan Internal, Partai Nasional Demokrat, militer, dan kelompok elit pengusaha.

Namun dalam tiga pekan terakhir, pondasi dan simpul-simpul kekuasaan yang dibangun Hosni Mubarak dengan susah payah hancur berantakan. Keputusannya untuk bertahan sampai pemilihan September nanti tidak berarti banyak.

Kalangan elit partainya pekan lalu ramai-ramai mengundurkan diri. Sementara kalangan militer yang dimotori sejumlah jenderal penting Angkatan Darat terus mendesak dari dalam.

Di luar Istana dan di banyak kota di Mesir, rakyat Mesir terus mendesak, agar Hosni Mubarak mengundurkan diri. Lapangan Tahrir, di pusat Kairo, menjadi saksi mata betapa kebencian rakyat terhadap Hosni Mubarak telah mencapai puncak dan tak dapat diredam lagi.

Upaya Wakil Presiden Omar Suleiman membujuk kelompok oposisi pun tak ada gunanya. Omar adalah mantan Kepala Dinas Intelijen yang baru dua pekan lalu diangkat sebagai Wakil Presiden, setelah kursi itu dibiarkan kosong selama Hosni Mubarak berkuasa. Seperti Hosni Mubarak, Omar Suleiman pun pernah menduduki kursi Panglima Angkatan Udara.

Dalam satu pekan terakhir dunia dapat menyaksikan, bagaimana Hosni Mubarak berusaha sekuat mungkin mempertahankan kekuasaannya. Tetapi semua ada batasnya. Adalah Omar Suleiman yang mengumumkan pengunduran diri Hosni Mubarak itu sekitar pukul 18.00 waktu Mesir.

Keputusan Hosni Mubarak ini tentu saja disambut dengan suka cita dan air mata oleh ratusan ribu warga Mesir yang telah berkumpul di lapangan Tahrir selama 18 hari. [guh]


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya