RMOL. Bukan tanpa alasan bila Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan begitu mengagumi Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Menurut Menkop, baru pertama kali ini ada Bupati yang mengundang akademisi dari Amerika Serikat untuk menggali potensi apa yang dimiliki wilayahnya.
"Ini ide kreatif dari Bupati Bojonegoro (Suyoto). Ini Bupati paling agresif," puji Syarifuddin saat meninjau Bojonegoro Wood Fair 2011, di Desa Sukorejo, Bojonegoro, akhir pekan lalu.
Bojonegoro Wood Fair 2011 merupakan salah satu bukti kongkret yang sulit dibantah. Di kawasan itu sudah dibangun kluster khusus furnitur asli Bojonegoro.
"Kluster seperti ini yang seharusnya diberdayakan di setiap daerah di Indonesia dengan menonjolkan produk khas asli daerah. Titik prioritasnya adalah membangun jiwa kewirausahaan," kata Menkop seraya menyebutkan, kluster UMKM tersebut sejalan dengan program pemerintah mengenai
one village one produk atau OVOP.
Menkop menambahkan, OVOP perlu dikembangkan dengan memilih beberapa produk unggulan daerah dan ditingkatkan nilai tambahnya sesuai dengan selera konsumen. Sehingga masyarakat luar akan mengetahui eksistensi produk UMKM tersebut.
"Di Jakarta, kami sudah punya gedung SMESCO UKM. Itu bisa dijadikan etalase bagi seluruh produk UMKM di seluruh Indonesia. Jadi, kalau ada
buyer luar negeri datang di tahap awal cukup datang ke gedung kita itu," papar Menkop seraya menyebutkan, saat ini sudah tujuh provinsi yang ‘memejeng’ produk unggulannya di gedung tersebut.
Dengan kluster seperti itu, lanjut Menkop, kendala UMKM seperti akses ke perbankan dan pemasaran akan dapat teratasi. "Produk UMKM harus kreatif dan inovatif karena di pasar tetap berlaku hukum pasar dan
customer satisfaction. Oleh karena itu, kualitas harus tetap didorong agar lebih bagus," kata politisi senior Partai Demokrat ini.
Salah satu program yang digulirkan pemerintah pada 2010 adalah kredit usaha rakyat (KUR) yang dananya dialokasikan sebesar Rp20 triliun. Dalam mengambil KUR, perajin bisa mengambil pinjaman ke bank yang ditunjuk yang besarnya Rp 20 juta, tanpa agunan. "Agunannya ya usaha kerajinan itu," kata Menkop.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengemukakan, produk kerajinan orisinal yang merupakan ciri khas daerah setempat, selama ini mampu bertahan dan bersaing di pasar lokal maupun global. "Keberadaan produk kerajinan yang orisinal di suatu daerah, sangat berpengaruh dengan kelangsungan kerajinan itu," kata Mahendra.
Mahendra mengatakan, produk kerajinan yang mendapatkan penghargaan, biasanya merupakan produk orisinal di daerah setempat. Bukan yang diperoleh dengan cara meniru produk kerajinan daerah lainnya, termasuk meniru produk kerajinan negara lain. "Jangan hanya menjadi membuat kerajinan seperti tukang jahit, karena produk kerajinan seperti itu kurang dihargai," jelas Mahendra seraya mencontohkan, di Bojonegoro sudah ada motif batik yang asli khas "
bojonegoroan" yang digali langsung dari daerah setempat.
[zul]