Berita

ilustrasi

Bila Dibiarkan Konflik Sahara Ciptakan Instabilitas

JUMAT, 14 JANUARI 2011 | 10:35 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Toleransi beragama di Maroko dan ancaman kekerasan kelompok fundamentalis di negara itu kembali jadi bahan pembicaraan di Amerika Serikat.

Jurnalis Washington Post Jennifer Rubin dalam artikelnya baru-baru ini memotret Maroko sebagai negara Muslim yang berbeda dari kebanyakan negara Muslim lainnya. Maroko yang merdeka dari pendudukan Prancis pada tahun 1956 itu berhasil menata diri sebagai negara yang mengedepankan toleransi beragama. Di Maroko itu, tidak ada kekerasan berlatar belakang agama.

Namun demikian, Maroko juga menghadapi persoalan yang dihadapi oleh banyak negara Muslim di dunia, yakni kekerasaan yang dilakukan oleh kelompok fundamentalis. Di awal Januari 2011 ini, pemerintah Maroko menangkap 27 anggota kelompok fundamentalis yang beberapa diantaranya memiliki hubungan dengan jaringan Al Qaeda di kawasan Afrika Utara. Kelompok ini berencana mendirikan pangkalan di garis belakang Maroko.

Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Maroko dalam keterangannya seperti dikutip MAP mengatakan, bahwa selain ke 27 orang itu, petugas keamanan juga menyita sejumlah senjata yang terdiri dari 33 Kalashnikov berikut amunisi, dua roket peluncur granat, dan sebuah mortar.

Penemuan ini merupakan bukti kuat mengenai hubungan antara kelompok Polisario, yang oleh Rubin disebut sebagai kelompok pembebasan Sahara Barat bergaya Soviet dengan Al Qaeda di Afrika Utara.

Bulan November lalu, kelompok Polisario berhasil menyusup ke Laayoune di wilayah Provinsi Sahara dan memantik konflik, yang menewaskan sebelas orang termasuk pasukan keamanan Maroko yang tidak bersenjata.

Sejumlah analis khawatir, kejadian ini akan memberikan kontribusi kepada kekacauan di kawasan itu, yang bisa dimanfaatkan kelompok fundamentalis untuk mendirikan basis yang lebih besar lagi di kawasan Sahara.

Dutabesar Maroko untuk AS, Aziz Mekouar, seperti dikutip Rubin, mengatakan, semakin hari semakin banyak laporan, yang menyebutkan bahwa Polisario memiliki hubungan yang signifikan dengan Al Qaeda. Selain dengan kelompok terorisme. Mekouar menambahkan, bahwa Polisario juga memiliki kaitan dengan kelompok penyelundup manusia dan obat-obatan terlarang. Ketiga bentuk kriminalitas ini, menurut hemat Mekouar, tidak hanya mengancam Maroko, melainkan membahayakan semua negara di kawasan itu.

Mekouar juga menyesalkan sikap Aljazair, negeri tetangga Maroko, yang menampung kelompok Polisario di Tindouf. Tahun 2007 lalu, Maroko telah menawarkan proposal otonomi khusus untuk mengakhiri ketegangan dengan kelompok Polisario. Namun Polisario sama sekali tidak mau membahas proposal itu. Adapun PBB dan AS telah menyatakan, bahwa proposal otonomi tersebut adalah jalan keluar yang serius dan kredibel.

Mekouar juga berkeyakinan, bila konflik dengan Polisario semakin lama dibiarkan, dan praktik pelanggaran hukum terus terjadi di kawasan itu, maka seluruh Sahel dan Afrika Utara akan mengalami instabilitas yang berbahaya. [guh]


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya