Berita

syahganda nainggolan/ist

AFF 2010

Dukungan Meledak, Karena Pasca Reformasi Indonesia Miskin Prestasi

SENIN, 27 DESEMBER 2010 | 20:22 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Masyarakat memang sangat merindukan kemenangan Timnas Indonesia dalam ajang final Piala Asean Footbal Federation (AFF), tidak peduli siapa pun lawan yang dihadapi di final. Seandainya bukan Malaysia yang menjadi lawan Timnas Indonesia di final Piala AFF, heboh dukungan masyarakat terhadap Timnas Sepakbola Indonesia akan tetap meledak seperti saat ini.

"Ini refleksi dari perlawanan atas rasa 'kalah' yang selama ini selalu diderita rakyat dalam ajang apa pun," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan di Jakarta, Senin (27/12).

Antusiasme dukungan itu juga akibat kehausan masyarakat dalam mewujudkan prestasi bangsa yang prestisius, apalagi sejauh ini pemerintahan SBY dipandang kurang dapat memenuhi kehausan tersebut.

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia itu menyebutkan, semenjak keberhasilan menjatuhkan rezim Soeharto pada masa Reformasi 1998, rakyat yang sempat berharap pada kebangkitan Indonesia dalam segala aspek kehidupan, ternyata mendapatkan realitas tidak sesuai dengan cita-cita reformasi.

Diakui, rakyat tidak hanya gagal menikmati hasil reformasi, tetapi justru makin tersingkir oleh kekuatan korup dan para pemodal yang menjalin koneksi dengan elit politik.

"Rakyat tidak memiliki kebanggaan. Mereka frustasi menghadapi kehidupan yang tidak kunjung membaik. Rakyat sudah merasa berperang dan seolah-olah akan menang di awal Reformasi, tapi kemudian hanya menunjukkan kalau mereka selalu 'kalah'," ucap Syahganda.

Perasaan tertekan dan merasa menjadi bangsa yang 'kalah' itu, katanya, semakin menjadi-jadi saat disadari merosotnya prestasi bangsa Indonesia di tingkat dunia dalam segala bidang. Di bidang olahraga, misalnya, jangankan prestasi tingkat dunia seperti Olimpiade atau World Cup, untuk tingkat Asia Tenggara saja, Indonesia sudah tidak bisa menguasai ajang olahraga. Di Sea Games, ranking Indonesia kalah atas Malaysia atau Thailand.

"Bahkan, untuk cabang olahraga bulutangkis yang dulu Indonesia sangat merajai hampir semua kejuaraan internasional, kini Indonesia umumnya selalu berada di bawah Cina, Korea Selatan, atau Malaysia," papar Syahganda.

Karenanya tak heran, ketika Timnas Sepakbola Indonesia mulai 'menjanjikan' prestasi dengan kemenangan atas tim-tim di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia di babak awal Piala AFF, lanjut Syahganda, rakyat seperti sudah merasakan euforia yang luar biasa. Masyarakat dari segala lapisan, seolah-olah sudah merasakan kemenangan yang luar biasa.

"Padahal kalau toh kita menang lawan Malaysia, kita hanya menjadi juara Asia Tenggara, belum Asia. Jadi, belum ada hitungannya di tingkat sepakbola dunia," ujarnya.

Syahganda menganggap euforia dan kehebohan dalam mendukung Timnas Sepakbola Indonesia itu sebagai hal yang wajar. Namun ia mengingatkan, agar kehebohan itu tidak menghilangkan subtansi perjuangan rakyat untuk bisa hidup lebih sejahtera dan adil.

Ia juga berharap, agar rakyat tetap waspada atas masuknya tokoh-tokoh politik ke dalam kehebohan tersebut. Menurutnya, masuknya para politisi pasti tidak didasari frustrasi rasa 'kalah' dalam segala aspek kehidupan sebagaimana dirasakan rakyat, tetapi memiliki niat memanfaatkan euforia rakyat untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan pada Pemilu 2014. [guh]


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya