Berita

Soal Bocoran WikiLeaks, SMC Ingatkan Indonesia Bukan Antek Amerika

JUMAT, 10 DESEMBER 2010 | 18:46 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta memberikan respons kasus bocornya 3.059 dokumen rahasia menyangkut kawat diplomatik Indonesia-Amerika Serikat, sebagai bagian diungkapnya 251.287 dokumen rahasia negara adikuasa itu oleh situs Wikileaks.org dalam beberapa hari ini.

"Pemerintah harus menegaskan, Indonesia bukan subordinat Amerika Serikat," tegas Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan di Jakarta, Jumat (10/12).

Diingatkan, Indonesia merupakan negara anti imperialisme global, sehingga jangan sampai terkesan mendukung gerakan imperialisme Amerika. Tersebarnya sejumlah dokumen WikiLeaks memang dapat dipandang adanya wujud imperialisme Amerika di tingkat global, dengan berperan sebagai pengatur dunia secara menggurita. Namun demikian, peranan tersebut kini dibongkar melalui situs WikiLeaks.


Pada sisi lain, mantan aktivis ITB itu justru mendukung upaya WikiLeaks mengungkap dokumen rahasia, yang dilakukan para diplomat Amerika Serikat di penjuru dunia, termasuk di Indonesia, guna membangun transparansi diplomatik di tataran global.

Jika ada dokumen yang dianggap negatif menyangkut perilaku para diplomat Indonesia, jelas Syahganda, menjadi tugas pemerintah untuk memberikan klarifikasi kepada masyarakat. "Tidak perlu ditutup-tutupi, tetapi justru dijelaskan apa yang sesungguhnya terjadi supaya tidak menjadi gosip yang berkepanjangan," ujarnya.

Selain mengungkap sejumlah isu sensitif di tingkat dunia, di antaranya keinginan Raja Fahd (Arab Saudi) agar Amerika Serikat dan sekutunya memerangi Iran agar tidak mengembangkan nuklirnya, WikiLeaks juga melansir sejumlah dokumen lain yang melibatkan pejabat Indonesia.

Setidaknya ada tiga dokumen rahasia tentang Indonesia yang dibocorkan WikiLeaks, terkait campur tangan Presiden Bill Clinton yang menekan Indonesia untuk menerima kehadiran pasukan perdamaian di Timor Timur usai jajak pendapat 1999, serta kekhawatiran akan rumitnya hubungan Indonesia-Amerika Serikat jika Wiranto jadi Presiden pada Pemilu 2004. Di samping itu, juga dirilis adanya Pasukan Baret Hijau AS melatih 60 anggota pasukan khusus TNI yang sebagian meski Kongres Amerika Serikat telah menghentikan program Pelatihan dan Pendidikan Militer Internasional (IMET) antara Indonesia-AS.

Syahganda menekankan, dengan belajar dari kasus WikiLeaks, pemerintah harus menegaskan posisi Indonesia dalam hubungan diplomatik internasional. Apalagi sebagai negara yang menganut prinsip bebas aktif, lanjutnya, Indonesia tidak boleh menjadi bagian kekuatan imperialisme Internasional.

"Karenanya, kalau ada bocoran yang mengesankan Indonesia seolah-olah mendukung imperialisme global, maka pemerintah harus memberikan klarifikasi atas masalah tersebut," pintanya.

Selanjutnya Syahganda mendesak pemerintah juga mengambil tindakan, jika dokumen yang dibocorkan WikiLeaks menunjukkan indikasi seolah-olah Indonesia subordinat dari kepentingan Amerika Serikat. "Kita negara berdaulat, jangan sampai muncul kesan bahwa Indonesia bagian dari negara adikuasa itu," tambah Syahganda.

Saat disebutkan selain WikiLekas kini ada Indoleaks.org, yang secara khusus mengungkap bocoran-bocoran para pejabat Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk perjanjian kerjasama Indonesia dan Microsoft, Syahganda mengaku tidak terkejut.

Menurutnya, cepat atau lambat kebobrokan para pejabat Indonesia yang memanfaatkan hubungan diplomatik akan terbongkar pula dengan perjalanan waktu. Dengan begitu, pemerintah tidak perlu melakukan upaya defensif atas isi bocoran dokumen rahasia itu. Sebaliknya, perlu melakukan klarifikasi atas apa yang sesungguhnya terjadi, dan mengambil tindakan yang diperlukan atas adanya penyimpangan.

SMC sendiri akan melakukan kajian atas fenomena WikiLeaks ini melalui seminar yang akan diselenggarakan di Hotel Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/12) mendatang. Dalam seminar yang diselenggarakan bekerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dan BEM Institut Teknologi Bandung, itu akan tampil pembicara Hemly Fauzy (anggota Komisi I DPR), Ali Mochtar Ngabalin (Partai Golkar), Ketua BEM UI, serta Ketua BEM ITB.(guh)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya