RMOL.Setelah mundur dari Partai Demokrat, GBPH Prabukusumo segera mendirikan Hamengku Buwono Institute demi memperjuangkan harga diri Bapaknya Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
“Saya terus memperjuangkan harga diri Bapak saya yang diÂinjak-injak ini,’’ ujar adik kanÂdung Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH PrabukuÂsumo, kepada Rakyat Merdeka via telepon dari Yogyakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Kenapa Anda mau mendiriÂkan Hamengku Buwono InsÂtitute?
Ya, untuk menggali pemikiran almarhum Bapak saya demi memperjuangkan harga dirinya. Begitu juga dengan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono X di segala bidang. Ini tentu akan berÂmanfaat bagi masyarakat.
Selain nanti mengelola InstiÂtute ini, apa lagi yang Anda kerÂÂÂjaÂkan?
Saya akan berkonsentrasi seÂbagai Ketua KONI.
O ya, apa pengunduran diri Anda sudah disetujui DPP ParÂtai Demokrat?
Belum ada surat dari DPP. Nggak pakai surat juga nggak apa-apa, saya sudah mundur kok. LagiÂpula surat saya juga belum sampai.
Apakah ada reaksi Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada Anda?
Nggak ada. Kalau dilihat di inÂternet, katanya sih sangat menyaÂyangkan kalau saya mundur.
Kalau petinggi Partai DemoÂkrat lainnya?
Tentu reaksinya beragam. Banyak yang memahami saya mengundurkan diri.
Anda kecewa dengan kondisi ini?
Saya bukan tipe pendendam. Mungkin itu jalan hidup saya.
Apa Anda pernah diajak biÂcara terkait RUUK DIY?
Selama ini saya belum pernah diajak bicara tentang RUUK DIY. Seolah-olah saya nggak ada. Kan bisa diajak bicara, tapi ini tidak.
Nggak khawatir kalau dinilai negatif dengan pengunduran diri itu?
Buat apa khawatir. Saya mau dikata-katain apa saja, monggo saja. Saya menerima dengan seÂnang hati.
Apa Anda mendapat SMS dari Presiden?
Saya nggak tahu. Sebab, di telepon genggam saya ratusan SMS yang mendukung saya mundur dari Partai Demokrat. Yang mendukung itu dari Sabang sampai Marauke. Teman-teman saya yang tidak pernah ketemu mencari-cari nomor saya untuk memberi dukungannya.
Anda terlihat kurang suka dengan pernyataan bahwa tiÂdak ada monarki di negeri ini dan tidak ada darah biru, apa betul begitu?
Kami ini kan tidak bisa meÂmilih lahir di mana. Kalau boleh memilih, saya akan milih yang lebih sejahtera. Padahal, yang namanya perbedaan manusia tergantung ketaqwaannya pada Tuhan dengan Agama manapun. Siapa yang lebih taqwa itulah yang lebih luhur, dibanding orang yang kurang taqwa.
Apa Anda tersinggung bahwa Fraksi Partai Demokrat di DPRD DIY menyetujui pemiliÂhan Gubernur melalui pemiliÂhan?
Di sini ada perÂbedaan politik. Kalau dibandingkan pertikaian politik harganya jauh lebih besar dengan sejarah.
Petinggi Partai Demokrat menyatakan bahwa SBY sangat menghormati keistimewaan Yogyakarta, pendapat Anda?
Keistimewaan yang disampaiÂkan itu hanya iming-iming. Seharusnya pemerintah lebih peka dan paham mendengar hati rakyat seperti apa dan bagaimana. Itu tidak pernah ada.
Apa benar SBY dengan SulÂtan diadu terkait RUUK DIY itu?
Masyarakat tidak bodoh, bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Kalau memang ada niat menyelesaikan masalah ini, kan bisa dibicarakan dengan keterÂbukaan hati antara Pak SBY dengan Sultan.
Jadi, monggo keterbukaan hati berdua. Sebab, semuanya harus punya niat baik untuk KeistimeÂwaan DIY ini. Kalau landasannya seperti itu akan selesai. Tapi kalau tidak dilandasi dengan hati yang baik oleh pemerintah, ini akan berbahaya sekali. [RM]