RMOL.Hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sangat mencengangkan. Sebab, lebih 50 persen anak baru gede (ABG) sudah tidak perawan lagi.
â€Itu pertanda bahaya, ibaratnya lampu menyala-nyala untuk meÂngingatkan kita agar perlu diÂcarikan solusinya,’’ ujar Ketua KoÂmisi Perlindungan Anak InÂdoÂnesia (KPAI) Hadi Supeno keÂpada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana reaksi Anda dengan hasil survei itu?
Nggak logis saja. Masa ya sih, lebih 50 persen ABG nggak peÂrawan lagi. Ini sungguh meÂnÂyeÂramÂkan kalau benar-benar terjadi seÂperti itu.
BKKBN kan melakukan peÂneÂlitian, jadi nggak seÂmbÂaÂrangan mengeluarkan data-data?
Ya benar, tapi tetap saja saya kurang percaya. Sebab, metode penelitiannya diragukan. Dalam dunia ilmiah bahwa riset itu beÂrangkat dari keraguan. MaÂkanya nanti saya akan meriset juga. Tapi tujuan BKKBN bagus tetapi angka sekian, saya mohon untuk dicek lagi metodologinya.
Jadi, BKKBN lanjutkan penÂeÂlitiannya. Tapi bukan hanya meÂmasÂtiÂkan setiap pasangan usia subur melalui akseptor KB dan jangan hanya bicara kampanye konÂdom. Tetapi juga memastikan bahÂwa anak-anak remaja bisa terÂhindar dari seks pra nikah.
O ya, metode penelitiannya seperti apa agar Anda percaya?
Gini ya, survei hanya diÂlaÂkuÂkan terhadap 100 remaja peÂremÂpuan di setiap kota, apakah jumÂlah itu sudah mewakili. KÂemÂuÂdian harus dijabarkan juga kaÂrakÂter respondennya. Jangan-jangan yang bekerja di hiburan malam.
Penelitian itu tujuannya untuk menÂjawab pertanyaan. Jadi, seÂtelah ada penelitian pertanyaan jadi semakin jelas. Bukannya malah membuat bingung maÂsyaÂrakat. Jangan sampai orangtua resah kaÂrena punya anak peÂremÂpuan. Jangan-jangan anakku yang terÂmasuk seperti itu.
Mungkinkah KPAI mau memÂpertanyakan hasil survei BKKBN?
Akan saya coba. Tadi (29/11) saya ketemu dengan salah seÂorang Deputi BKKBN dan dia senÂÂdiri juga ragu.
Adakah rencana berdiskusi berÂsama dengan BKKBN terÂkait penelitian itu?
Oh pasti. Efeknya menyangkut persepsi. Pasti dibenak orang akan kasihan. Mestinya remaja harus dibantu untuk menemukan jati diri dan kedewasaannya. Tapi karena vonis-vonis seperti ini nanti bisa memandang remaja penuh curiga.
Kapan diskusinya?
Saya berharap tidak terlalu lama.
Bagaimana Anda melihat pergaulan remaja sekarang?
Keliru kalau digeneralisasikan semua remaja seperti itu. Sebab, masih ada remaja yang dipantau keluarganya. Pengaruh pergaulan bebas didorong oleh nilai-nilai luar yang masuk, dan moÂderniÂsasi.
Usia anak remaja memang kuÂrang memperoleh perhatian darÂiÂpada bayi yang gegap gemÂpita kamÂpanyenya. Padahal remaja sangat rawan juga karena masih ada orientasi nilai yang baru.
Survei apa yang Anda perÂcaya?
Saya lebih percaya survei BPS (Badan Pusat Statistik) dan survei KeÂmÂenterian Kesehatan. Awal 2010 untuk perempuan 76 persen mengaku sudah pacaran sebelum nikah. Yang ML 6,3 persen. KeÂmuÂdian laki-laki 72 persen meÂngaku pacaran sebelum nikah. Yang ML 10 persen. Itu di 12 kota.
Kalau survei KPAI seperti apa?
KPAI punya survei kecil-kecilan untuk di 3 kota besar, yakni di SuraÂbaya, Bandung dan Jakarta. KhuÂsus untuk wanita ABG yang beÂkerja di hiburan malam meÂngaku, bahwa 30 perÂsen ML seÂbelum nikah.
Kalau begitu, bagaimana Anda melihat survei BKKBN itu?
Penelitian BKKBN bisa diÂjadiÂkan warning kepada negara, toÂkoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan para orangtua, dan reÂmaja itu sendiri bahwa kondisi banÂgsa sudah lampu merah dalam menÂjaga moral ABG. Lampu itu menyala-nyala untuk menÂgingatÂkan kita.
Siapa yang paling besar yang perlu diingatkan?
Ya, tentu orangtua. Sebab, peÂran orangtua cukup besar untuk meÂmÂbina anak-anaknya. [RM]