Berita

Wawancara

Hadi Supeno: Sukses Kampanye KondomGagal Cegah Seks Bebas

KAMIS, 02 DESEMBER 2010 | 01:55 WIB

RMOL.Hasil survei  Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sangat mencengangkan. Sebab, lebih 50 persen anak baru gede (ABG) sudah tidak perawan lagi.

”Itu pertanda bahaya, ibaratnya lampu menyala-nyala untuk me­ngingatkan kita agar perlu di­carikan solusinya,’’ ujar Ketua Ko­misi Perlindungan Anak In­do­nesia (KPAI) Hadi Supeno ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana reaksi Anda dengan hasil survei itu?

Nggak logis saja. Masa ya sih, lebih 50 persen ABG nggak pe­rawan lagi. Ini sungguh me­n­ye­ram­kan kalau benar-benar terjadi se­perti itu.

BKKBN kan melakukan pe­ne­litian, jadi nggak se­mb­a­rangan mengeluarkan data-data?

Ya benar, tapi tetap saja saya kurang percaya. Sebab, metode penelitiannya diragukan. Dalam dunia ilmiah bahwa riset itu be­rangkat dari keraguan. Ma­kanya nanti saya akan meriset juga. Tapi tujuan BKKBN bagus tetapi angka sekian, saya mohon untuk dicek lagi metodologinya.

Jadi, BKKBN lanjutkan pen­e­litiannya. Tapi bukan hanya me­mas­ti­kan setiap pasangan usia subur melalui akseptor KB dan jangan hanya bicara kampanye kon­dom. Tetapi juga memastikan bah­wa anak-anak remaja bisa ter­hindar dari seks pra nikah.

O ya, metode penelitiannya seperti apa agar Anda percaya?

Gini ya, survei hanya di­la­ku­kan terhadap 100 remaja pe­rem­puan di setiap kota, apakah jum­lah itu sudah mewakili. K­em­u­dian harus dijabarkan juga ka­rak­ter respondennya. Jangan-jangan yang bekerja di hiburan malam.

Penelitian itu tujuannya untuk men­jawab pertanyaan. Jadi, se­telah ada penelitian pertanyaan jadi semakin jelas. Bukannya malah membuat bingung ma­sya­rakat. Jangan sampai orangtua resah ka­rena punya anak pe­rem­puan. Jangan-jangan anakku yang ter­masuk seperti itu.

Mungkinkah KPAI mau mem­pertanyakan hasil survei BKKBN?

Akan saya coba. Tadi (29/11) saya ketemu dengan salah se­orang Deputi BKKBN dan dia sen­­diri juga ragu.

Adakah rencana berdiskusi ber­sama dengan BKKBN ter­kait penelitian itu?

Oh pasti. Efeknya menyangkut persepsi. Pasti dibenak orang akan kasihan. Mestinya remaja harus dibantu untuk menemukan jati diri dan kedewasaannya. Tapi karena vonis-vonis seperti ini nanti bisa memandang remaja penuh curiga.

Kapan diskusinya?

Saya berharap tidak terlalu lama.

Bagaimana Anda melihat pergaulan remaja sekarang?

Keliru kalau digeneralisasikan semua remaja seperti itu. Sebab, masih ada remaja yang dipantau keluarganya. Pengaruh pergaulan bebas didorong oleh nilai-nilai luar yang masuk, dan mo­derni­sasi.

Usia anak remaja memang ku­rang memperoleh perhatian dar­i­pada bayi yang gegap gem­pita kam­panyenya. Padahal remaja sangat rawan juga karena masih ada orientasi nilai yang baru.

Survei apa yang Anda per­caya?

Saya lebih percaya survei BPS (Badan Pusat Statistik) dan survei Ke­m­enterian Kesehatan. Awal 2010 untuk perempuan 76 persen mengaku sudah pacaran sebelum nikah. Yang ML 6,3 persen. Ke­mu­dian laki-laki 72 persen me­ngaku pacaran sebelum nikah. Yang ML 10 persen. Itu di 12 kota.

Kalau survei KPAI seperti apa?

KPAI punya survei kecil-kecilan untuk di 3 kota besar, yakni di Sura­baya, Bandung dan Jakarta. Khu­sus untuk wanita ABG yang be­kerja di hiburan malam me­ngaku, bahwa 30 per­sen ML se­belum nikah.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat survei BKKBN itu?

Penelitian BKKBN bisa di­jadi­kan warning kepada negara, to­koh masyarakat, tokoh agama, guru, dan para orangtua, dan re­maja itu sendiri bahwa kondisi ban­gsa sudah lampu merah dalam men­jaga moral ABG. Lampu itu menyala-nyala untuk men­gingat­kan kita.

Siapa yang paling besar yang perlu diingatkan?

Ya, tentu orangtua. Sebab, pe­ran orangtua cukup besar untuk me­m­bina anak-anaknya. [RM]


Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Program Prabowo Tak Akan Berdampak Jika Soliditas Internal Rapuh

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:03

Prabowo Tantang Danantara Capai Return on Asset 7 Persen

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:01

Pakar: Investigasi Digital Forensik Bisa jadi Alat Penegakan Hukum Kasus Investasi

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:46

Wapres Tekankan Kuartal I Momentum Emas Sektor Pariwisata

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:40

Kapolri Siap Bangun Lebih dari 1.500 SPPG Selama 2026

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:26

Kolaborasi Inspiratif: Dari Ilustrasi ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:20

Setnov Hadir, Bahlil Hanya Pidato Singkat di HUT Fraksi Partai Golkar DPR

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:18

Kepala BPKH: Desain Kelembagaan Sudah Tepat, Tak Perlu Ubah Struktur

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:16

Prabowo Hadiri Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:53

Keuangan Haji Harus Berubah, Wamenhaj Dorong Tata Kelola yang Lebih Modern

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:36

Selengkapnya