Berita

Wawancara

WAWANCARA

Irjen Sutarman: Masih Ada Anggota Polisi Menyelam Sambil Kencing

JUMAT, 19 NOVEMBER 2010 | 06:03 WIB

RMOL. Irjen Sutarman mengaku selama 41 hari menjadi Kapolda Metro Jaya sudah banyak kritikan, cibiran, dan pengaduan masyarakat, seperti macet, banjir, dan aksi premanisme.

“Sebagai pengayom masya­ra­kat, segala kritik itu dihadapi dengan lapang dada. Biar kita di­hujat, kita harus senyum saja,” kata Sutarman saat mengunjungi Redaksi Rakyat Merdeka, Ge­dung Graha Pena, Jakarta, kemarin.

Dikatakan, untuk atasi seluruh masalah pelik yang dihadapi Jakarta, polisi akan mengerahkan seluruh daya dan usahanya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.


“Memang belum sempurna, tapi saya tetap berusaha mem­berikan pelayanan yang terbaik,” tegasnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Problem besar Jakarta ada­lah kemacetan, menurut Anda bagaimana model pengelolaan lalu lintas?
Satu gagasan yang dibentuk pemerintah daerah sekarang ada­lah memaksa masyarakat untuk gunakan angkutan massal seperti busway. Tapi kenyataan­nya, kita tidak bisa memaksa masyarakat agar beralih ke busway. Sebab, seluruh koridor ini belum me­nyentuh seluruh lingkungan. Makanya saya sudah sampaikan ke Gubernur perlu lang­kah stra­tegis jang­ka panjang.  

Seringkali macet itu gara-gara ngetemnya angkutan umum?
Kita pelan-pelan la­kukan pe­nertiban agar tidak ada angkutan yang ngetem.

Kita akan tetap maksimal atasi kemacetan. Kalau macet, sabar. Tapi sekarang jika macet, mau cepat semua. Begitu juga jadi ke­pala daerah, jadi Presiden, se­mua­­nya mau cepat-cepatan. Saya pernah ikut dengan Presiden, dia bilang, memang apa enaknya jadi Presiden, dihujat terus. Makanya paling enak jadi Kapolres, ke­mana-mana mudah, ha-ha...

Bagaimana kalau ada aparat Anda yang melakukan pelangga­ran?
Memang ada anggota kita yang menyelam sambil kencing, ha-ha-ha...

Kita akui ada, tapi pasti akan kita tertibkan. Itu yang bisa kita lakukan.

Langkah apa yang Anda la­kukan untuk meningkatkan ke­nyamanan masyarakat?
Sebagai Kapolda, sudah men­jadi tugas saya untuk mencipta­kan rasa keamanan, ketertiban, melindungi, dan mengayomi ma­syarakat demi terlindunginya hak asasi manusia (HAM). Ini juga menjadi visi Polri. Jadi, masya­rakat keluar rumah tak ada lagi rasa waswas.

Tapi untuk menciptakan rasa aman itu, perlu diciptakan la­pa­ngan pekerjaan demi pening­katan kesehjahteraan. Artinya pe­ngang­gu­ran berkurang, se­hingga berkurang juga aksi keja­hatan. Ini bukan jadi tugas polri semata tapi menjadi visi seluruh stakeholders yang juga tertuang dalam Un­dang-Undang Dasar 1945.

Bagaimana mengerahkan sum­ber daya di kepolisian?
Menyangkut masalah kejiwaan seseorang setiap saat bisa beru­bah. Makanya sebagai motivator dalam rangka perubahan, kita akan bera­lih ke fungsi pelayanan masya­ra­kat dan itu pasti mengu­bah culture dan mindsheet, jadi perlu juga dukungan teman-te­man media. Prinsip saya itu, meski belum sempurna, saya tetap berusaha.

Bagaimana dengan konflik antar-kelompok?
Konflik antar-kelompok me­mang kita melihat dari sisi kea­manan. Saya tidak bisa katakan antara aliran kepercayaan dan agama tertentu yang jadi fokus kita karena kita hanya mencegah dampaknya, seperti pembakaran rumah ibadah harus dicegah.

Kita hendaki aturan itu yang mengatur lebih tegas, kalau di­larang, kita yang menutup. Tapi karena tidak ada, sudah berantem dulu, terbakar habis. Untuk itu, kita sudah tempatkan intel kita supaya tidak terlambat cegah kon­flik seperti pembakaran ru­mah ibadah.  

Untuk selesaikan masalah pre­manisme, strategi apa yang Anda lakukan?
Saya menganggap media itu memilik peran yang sangat strategis.

Makanya saya senang, biar kita dihujat-hujat kita senyum saja. Makanya saya datangi pelan-pelan, tapi bukan hanya media, tapi juga komunitas kemasyara­katan. Dengan mendatangi itu kan kita bisa tahu siapa yang bisa sebabkan masalah atau komu­nitas mana yang sumbat komu­nitas lain.

Anda pernah menjadi penga­wal Presiden di era Gus Dur, apa saja suka dukanya?
Saya suka semua. Setiap tugas yang diberikan kalau dikerjakan secara ikhlas, dari hati yang jujur, bersih, dan dibarengi kemam­puan teknis, profesional dengan penguasaan ilmu yang baru, saya kira akan berjalan dengan baik. Tapi jangan kemampuan kita di­salahgunakan.   [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Program Prabowo Tak Akan Berdampak Jika Soliditas Internal Rapuh

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:03

Prabowo Tantang Danantara Capai Return on Asset 7 Persen

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:01

Pakar: Investigasi Digital Forensik Bisa jadi Alat Penegakan Hukum Kasus Investasi

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:46

Wapres Tekankan Kuartal I Momentum Emas Sektor Pariwisata

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:40

Kapolri Siap Bangun Lebih dari 1.500 SPPG Selama 2026

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:26

Kolaborasi Inspiratif: Dari Ilustrasi ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:20

Setnov Hadir, Bahlil Hanya Pidato Singkat di HUT Fraksi Partai Golkar DPR

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:18

Kepala BPKH: Desain Kelembagaan Sudah Tepat, Tak Perlu Ubah Struktur

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:16

Prabowo Hadiri Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:53

Keuangan Haji Harus Berubah, Wamenhaj Dorong Tata Kelola yang Lebih Modern

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:36

Selengkapnya