Berita

Wawancara

Amidhan, Kita Diterpa Banyak Bencana Mari Lebih Banyak Berkurban

RABU, 17 NOVEMBER 2010 | 06:59 WIB

RMOL. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan berharap perayaan Idul Adha bisa lebih khidmat dilakukan karena bangsa ini diterpa banyak bencana.

“Dalam keadaan seperti ini kita lebih banyak berkurban untuk disebarkan ke orang-orang yang menjadi korban bencana alam,” katanya kepada Rakyat Merdeka,  Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa ajakan seperti ini efek­tif?

Apa ajakan seperti ini efek­tif?
Kurban itu kan untuk masyara­kat yang tidak mampu. Tidak mampu itu termasuk yang sedang mengalami bencana. Jadi, sangat dianjurkan dalam keadaan seperti ini kita lebih banyak berkurban. Kalau dulu misalnya berkurban satu ekor kambing, kenapa tidak dua ekor kambing. Kalau yang punya kemampuan berlebih, bisa berkurban sapi. Pokoknya diper­banyak dan itu disebarkan ke tempat-tempat yang mengalami bencana. Karena ini bantuan kepada dhuafa.

Berarti kurban diserahkan ke relawan untuk dimasak ya?
Ya, itu lebih bagus. Orang di pengungsian kan tidak mungkin menerima daging mentah untuk digoreng. Kemudian diutamakan dibagikan kepada kaum dhuafa yang berada di pengungsian.

Tapi untuk penyaluran he­wan kurban ke lokasi bencana, bagaimana prosedurnya?
Yang semacam itu kan ada Rumah Zakat Indonesia. Saya kira Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) juga mengarahnya ke sana. Biasanya itu kalau di rumah zakat ada yang dikalengkan untuk berkurban.

Sementara yang baru ber­kur­ban sekarang, sebaiknya bisa langsung diserahkan ke relawan melalui dapur umum.

Bagaimana Anda melihat dengan banyaknya bencana me­nimpa negeri ini?
Bencana ini bisa dipandang dari berbagai segi. Dari segi spiritual ini peringatan dari Allah SWT kepada kita. Anggaplah teguran supaya kita lebih mening­katkan keimanan dan ketaqwaan kita. Sekarang itu dimanifesta­sikan dengan berkurban karena Al-quran dalam ayatnya mene­gas­kan bukanlah dagingnya yang sampai kepada Allah tapi ke­ikhlasan dan ketaqwaan kamu se­kalian yang sampai kepada­Nya. Karena ada teguran sema­cam ini tentunya dengan berkurban.

Kurban ini kan napak tilas dari Nabi Ibrahim yang waktu itu diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya Ismail, tapi itu tidak terjadi dan diganti dengan hewan gibas. Nah, menjadi kewajiban bagi yang berkelebihan untuk berkurban dan dibagikan dagingnya kepada masyarakat.

Bagaimana pandangan Anda dari sisi lain?
Kalau dari segi bencana ada natural disaster yakni bencana karena alam. Tapi ada juga yang namanya human disaster karena ulah manusia. Dan ada ayat me­ngatakan terjadi ke­rusakan di laut dan di darat karena tangan-tangan manusia. Banjir itu pada dasarnya kalau dikaitkan dengan gundul­nya hutan kan bisa juga disebab­kan tangan manusia. Ben­cana tsunami ka­rena gerakan lem­­peng bumi kata­­kanlah me­ru­pakan ben­cana karena alam, tapi semua­nya itu merupa­kan peringatan kepada kita. Ka­lau kita diingatkan berarti Allah itu masih sayang sama kita. Coba kalau tidak diingatkan, azab saja yang datang.

Apa yang diperbuat kalau di­peringatkan seperti ini?
Kita perlu bertobat. Dulu ada namanya tobat politik atau tobat nadzuna, yaitu dimulai dari kita sendiri. Kemudian dari keluarga­nya. Teguran itu kan tujuannya untuk meningkatkan ketaqwaan yang dimanifestasikan dengan berkurban. Kurbannya itu dibagi­kan antara lain kepada korban bencana. Jadi, jangan kita saja yang makan enak-enak.

Apa Anda punya pesan khu­sus kepada para korban ben­cana?
Kepada para korban bencana alam agar tabahlah, sabar, dan ja­ngan berprasangka buruk ke­pada Allah. Kalau berpra­sangka buruk kita nanti malah tambah dosa.

Jadi kita harus berprasangka positif, yakni Allah mengingat­kan kepada kita dengan bencana ini Allah sayang pada kita.

Soal perbedaan penetapan Idul Adha antara pemerintah dan beberapa ormas Islam, ba­gai­mana pandangan Anda?
Itu klasik. Artinya, ada orang yang menganggap Hari Raya Idul Adha itu hari raya haji. Karena di Arab Saudi itu jatuhnya Hari Arafah itu tanggal 15 November. Hari Arafah itu hanya ada satu di dunia yakni di Padang Arafah.

Setelah Hari Arafah itu kan Hari Raya Idul Adha. Jadi hari raya mereka itu hari ini (Selasa), karena Hari Arafahnya kemarin (Senin, 15/11). Adapun Muham­ma­diyah bukan mengikuti Saudi, tapi hitungan melalui sistemnya wujudul hilal.

Nah, kalau pemerintah itu hi­zab dan rukyat. Jadi dihizab dulu posisi bulan di mana dan ternyata ada di atas wuquf, tapi tidak bisa dilihat karena tidak bisa di-rukyat. Akhirnya jatuh tanggal 17 No­vem­ber. Kedua-duanya punya alasan, jadi jangan diperten­tang­kan. Kedua-duanya sah.

MUI mengikuti yang mana?
MUI sebagai lembaga ikut pe­me­rintah. Tapi perorangan itu terserah mereka, sehingga ada yang ikut  hari ini (kemarin), tapi ada juga yang ikut besok (hari ini),  [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Program Prabowo Tak Akan Berdampak Jika Soliditas Internal Rapuh

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:03

Prabowo Tantang Danantara Capai Return on Asset 7 Persen

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:01

Pakar: Investigasi Digital Forensik Bisa jadi Alat Penegakan Hukum Kasus Investasi

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:46

Wapres Tekankan Kuartal I Momentum Emas Sektor Pariwisata

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:40

Kapolri Siap Bangun Lebih dari 1.500 SPPG Selama 2026

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:26

Kolaborasi Inspiratif: Dari Ilustrasi ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:20

Setnov Hadir, Bahlil Hanya Pidato Singkat di HUT Fraksi Partai Golkar DPR

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:18

Kepala BPKH: Desain Kelembagaan Sudah Tepat, Tak Perlu Ubah Struktur

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:16

Prabowo Hadiri Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:53

Keuangan Haji Harus Berubah, Wamenhaj Dorong Tata Kelola yang Lebih Modern

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:36

Selengkapnya