RMOL.Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub membeberkan apa saja yang dibicarakan dengan PreÂsiden AS Barack Obama dan MicÂhelle Obama saat berkunjung ke Masjid Istiqlal, Jakarta, keÂmarin.
Berikut kutipannya:
Apa saja yang dibicarakan PreÂÂsiden Barack Obama?
Ya, banyak yang dibicarakan. Saya menerangkan tentang sejaÂrah dan makna-makna yang terÂkanÂdung dalam bangunan fisik MasÂjid Istiqlal. Saya juga meÂneÂrangkan hubungan antara Islam dengan kebudayaan. Sebab, di IsÂtiqÂlal, kebudayaan itu diÂsimÂbolkan dengan bedug.
Jadi, saya katakan, Islam daÂtang tidak untuk mengÂhiÂlangkan budaya-budaya lokal. Bahkan biÂsa saja budaya lokal itu bersinergi dengan Islam. Contohnya, bedug bisa masuk Masjid. Bedug kan budaya.
Lebih jauh dari itu, datangnya Islam tidak bermaksud untuk mengÂhilangkan budaya-budaya lain. Ya, oke kalau ada dakwah. Dan kalau mau masuk Islam silaÂkan. Tapi kalau nggak, tidak ada pemaksaan. Saya contohkan pada masa Nabi waktu masih hidup, ada 5 agama yang eksis. KemuÂdiÂan saya contohkan juga di InÂdoÂnesia, ada 6 agama. Jadi, Islam meÂngamanatkan agama lain seÂcara damai.
Termasuk dibicarkan kerukunÂan antar-agama?
O ya. Saya jelas, Istiqlal itu puÂnya tetangga Gereja Katedral yang dipisah jalan raya saja. IniÂlah sebagai simbol tentang harÂmoÂnisnya hubungan antar umat berÂagama di Indonesia. Tapi saya katakan, bahwa Gereja Katedral bukan simbol saja. Tapi adanya kerja sama.
Maksudnya?
Gereja Katedral itu tidak meÂmiÂliki lahan parkir yang luas. PaÂdahal pada perayaan Natal baÂnyak pengunjungnya. Nah, bagaiÂmana mereka parkir. Tapi Istiqlal selalu menyiapkan lahan parkir baÂgi orang-orang yang sedang meÂrayakan Natal di Gereja Katedral.
Ketika mendengar itu, bagaiÂmana komentar Obama?
Responnya bag us sekali. BeÂliau langsung mendekati warÂtaÂwan dan menyampaikan bahwa, inilah contoh yang bagus dalam kerja sama antar umat beragama. Yakni tidak saling memusuhi dan lain sebagainya. Jadi, inilah yang perlu ditiru.
Kemana saja Obama berkÂeÂliling di Masjid Istiqlal?
Beliau keliling lihat menara dan kubah. Saya terangkan kubah ini besar dengan berdiameter 45 meÂter dan itu lambang dari keÂmerÂdekaan Indonesia. Sebab, di atasnya ada 17 meter itu adalah tangÂgal kemerdekaan Indonesia. SeÂdangkan kubah yang kecil ini diameternya 8 meter sebagai lamÂbang dari bulan Agustus.
Jadi, kita itu membaca kemerÂdekaan. Dan saya katakan juga ini adalah kemerdekaan Indonesia dari kolonialis Belanda yang diÂsimÂbolkan dengan masjid.
Mengapa demikian?
Masjid adalah tempat ibadah IsÂlam. Sementara Islam telah memÂberikan ispirasi dan seÂmangat kepada umat Islam untuk melawan penjajah. Karena Islam meÂlarang adanya penjajahan dan meÂlarang penindasan antara orang dengan orang lain, antar suÂku dengan suku yang lain, dan anÂtar bangsa dengan bangsa yang lain.
Bagaimana komentar Obama ketika melihat Masjid Istiqlal?
Beliau tampaknya kagum. BeÂliau bertanya, “apakah ini Masjid terÂbesar di Indonesiaâ€. Lalu saya jawab, tidak. Ini Masjid terbesar di dunia sesudah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinahâ€. Beliau langsung kaÂget, “ uhâ€.
Kemudian saya terangkan lagi, Masjid ini dapat menampung samÂpai 200 ribu orang. Terutama kalau hari raya, apalagi Idul Adha nanti. Ketika di dalam melihat kubah dan tampaknya cantik dari dalam. Beliau kagum juga, “oh, very nice dome (kubah yang saÂngat bagus)â€. Inilah yang meÂnaÂrik bagi beliau.
Berapa lama Anda wawancara dengan beliau?
Hanya 25 menit saja kok. Tapi menjelang pulang, beliau menulis kesan-kesannya terhadap Masjid Istiqlal.
Perasaan Anda bagaimana keÂtika berbincang-bincang dengan beliau?
Saya nggak tahu dan tidak puÂnya perasaan apa-apa.
Maksudnya?
Ya, biasa-biasa aja.
Mengapa demikian?
Sebab, saya sudah sering kali menerima banyak tamu-tamu neÂgara yang levelnya Raja, PreÂsiden, dan Perdana Menteri. Jadi, saya tidak melihat suatu hal yang luar biasa untuk kunjungan tamu-tamu negara ke Istiqlal itu.
Lantas apa saja persiapan meÂnyambut Obama?
Nggak ada persiapan khusus, semuanya sama seperti meÂnyamÂbut tamu-tamu negara yang lain. Justru yang membuat persiapan baÂnyak adalah utusan-utusan dari Gedung Putih. Yakni untuk peÂnyamÂbutannya saja harus ada glaÂdi resik. Termasuk berjalannya saya di mana yaitu Obama di deÂpan sebelah kanan saya. SeÂdangÂkan sebelah kiri saya Michelle Obama.
Tapi dalam perjalanan, saya nggak tahu. Tiba-tiba kok MicÂhelle Obama di sebelah kanan saya. Ketika Ibu Negara AS ada di sebelah kanan saya, saya langÂsung tanya agar nggak kaku. “Apa ini yang pertama kali Anda ke Indonesiaâ€. Jawabnya, “ya dan saÂya juga bilang sama suami saÂya, kalau ada acara kunjungan keÂnegaraan ke luar negeri supaya mengÂagendakan ke Indonesiaâ€. TamÂpaknya Michelle Obama tertarik juga dengan Indonesia.
Bagaimanapun juga Indonesia adalah negara yang pernah di diÂdiami oleh suaminya. Dan wakÂtu pertama kali beliau datang, saya ucapkan, “selamat datang di MasÂjid Istiqlal dan di Indonesia seÂbagai negara Anda yang keduaâ€. Ternyata ketika beliau mau meÂningÂgalkan Istiqlal, Obama maÂlah mengatakan, “Indonesia adalah negara Anda yang pertama tapi negara saya yang keduaâ€.
O ya, katanya Anda memÂbeÂrikan kerudung kepada Michelle Obama?
Oh nggak, saya tidak pernah meÂrasa memberikan kerudung keÂpada beliau. Sebab, beliau datang ke Mesjid itu sudah dalam posisi memakai kerudung.
Apakah Anda meminta meÂmakai kerudung ketika meÂmasuki Masjid Istiqlal?
Nggak ada perintah dari IsÂtiqlal. Cuma mungkin Gedung PuÂtih sudah tahu bahwa di IsÂtiqlal itu kalau perempuan harus meÂÂmakai kerudung. Jadi, baÂrangkali GeÂdung Putih yang memÂberi arahan untuk memakai keÂrudung. [RM]