Berita

Wawancara

WAWANCARA

Ebiet G Ade: Mungkin Tuhan Mulai Bosan Melihat Tingkah & Dosa Kita

JUMAT, 29 OKTOBER 2010 | 07:44 WIB

RMOL. Perjalanan ini. Trasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan. Di tanah kering bebatuan...
Barangkali di sana ada jawabnya. Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang...

Itulah salah satu bait lagu ber­judul “Berita Kepada Kawan” diciptakan dan dinyanyikan Ebiet G Ade. Bait itu memang sering kita dengar jika ada tayangan bencana di televisi. Selain itu ada dua lagu yang sering diputar ber­kaitan dengan bencana, yaitu “Untuk Kita Renungkan”, dan “Masih Ada Waktu”.

Penyanyi era 1980-an ini mengaku, lagunya itu sering men­jadi berkah bagi korban ben­cana. Sebab, setelah men­dengar­kan lagunya itu, orang tergerak hatinya untuk membantu, ikut bersimpati atau setidaknya ikut mendoakan mereka yang terkena bencana.


“Kan itu bagus. Jadi, mudah-mudahan itu ibadah juga,” ujar penyanyi dan penulis lagu, Ebiet G Ade, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kalau ada bencana alam, orang teringat lagu yang Anda cip­takan dan nyanyikan, bagai­mana komentarnya?
Tentu saya sedih melihat ben­cana selalu menimpa negeri ini. Yang jadi korban kan saudara-saudara kita juga. Bencana di negara lain saja yang kita tidak kenal, itu sedih. Apalagi, sesama anak bangsa, satu negeri. Tentu sedih dong.

Bukannya senang karena lagu Anda sering dinyanyikan di siaran televisi?
Ah, tidak seperti itu.

Saya hanya melihat dari sisi positifnya saja, yakni dengan men­­dengarkan lagu itu bisa ter­gerak hatinya untuk membantu korban bencana. Begitu juga pemerintah hendak­nya bisa membantu dengan cepat terhadap korban tsunami Menta­wai dan meletusnya Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.

Salah satu bait di lagu itu, mung­kin Tuhan mulai bosan me­lihat tingkah kita yang selalu sa­lah dan bangga dengan dosa-dosa, apa memang kondisinya se­­perti itu?
Ya bisa jadi, mungkin Tuhan mulai bosan dengan tingkah laku kita dan dosa-dosa kita.

Ada yang mengkaitkan ben­cana dengan rumor dan mitos, komentar Anda?
Rumor itu selalu datang dari pikiran-pikiran yang berkelana liar. Jadi, kalau orang politik mung­kin dikaitkan dengan peja­bat, pemerintah dan sebagainya. Se­dangkan untuk orang hukum di­kaitkan dengan orang-orang yang memegang kekuasaan hu­kum, kesewenang-wenangan, dan seba­gainya. Jadi, saya kira bencana ini rasanya memang su­dah merupa­kan hukum alam.

Ada yang mengkaitkan de­ngan kepemimpinan SBY?
Kalau dikait-kaitkan dengan kepemimpinan SBY itu namanya su’uzon. Tapi saya melihatnya tidak seperti itu. Memang ada juga orang yang punya pikiran se­perti itu. Tapi itu kan tidak pro­duktif dan sangat mengganggu. Akibatnya malah akan melempar kesalahan kepada orang lain. Pada­hal, kita sendiri tidak beru­saha memperbaiki kualitas kede­katan kita dengan alam.

Lantas siapa yang disalahkan dengan adanya bencana ini?
Ada bagian-bagian yang me­mang akibat dari ulah kita. Mi­salnya, kalau longsor dan banjir diakibatkan dari pembalakan liar, penggundulan hutan atau keti­dakpedulian masyarakat terhadap lingkungan. Misalnya, banjir aki­bat pene­bangan hutan.

Bagaimana dengan meletus­nya gunung Merapi?
Saya kira itu alam punya cara­nya sendiri untuk hidup, bergerak untuk melakukan tugasnya.

Apa tidak ada niat pergi ke Yogya­karta melihat pengungsi aki­bat Gunung Merapi mele­tus?
Memang saya kepingin ke Yogya dalam waktu dekat ini untuk ikut berempati. Supaya tidak lupa bersyukur. Sebab kita masih diberi kesempatan untuk melihat matahari esok.

Apa ada niat untuk  menyanyi terkait bencana alam?
Kalau itu tidak mungkin. Se­bab, itu kontraproduktif. Sau­dara-sau­dara kita itu kan lagi ber­sedih.

Saya juga tidak ingin menjadi berita yang justru seolah-olah saya menjadi pahlawan. Justru saya takut sekali dengan itu. Saya khawatir, nanti orang berpikir saya mencari kesempatan dalam kesempitan.

O ya, sekarang kesibukannya apa?
Saya masih nyanyi dan keliling kemana-mana. Tapi kalau tampil di televisi, itu tidak pas buat saya lagi, ha ha ha kan sekarang ini banyak anak-anak muda.

Mungkin ada keinginan un­tuk menciptakan lagu tentang ben­­cana alam?
Saya akan terus mencipta lagu. Walaupun tidak seproduktif dulu. Tapi kalau menciptakan lagu untuk dinyanyikan orang lain, sam­pai sekarang belum ada. Ma­sih untuk saya nyanyikan sendiri.   [RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya