RMOL. Bekas Ketua MPR Amien Rais menilai ada nilai positif dan negatif dari setahun pemerintahan SBY-Boediono. Positifnya adalah terjadi kebebasan berserikat yang terbaik di Asia.
Tapi sisi negatifnya, pemberanÂtasan korupsi masih amburadul, belum ada perubahan signifikan. Begitu juga tidak membawa peÂrubahan bagi rakyat kecil. Nasib mereka berlalu tanpa perbaikan.
“Saya berharap pemerintah ini perlu dikritisi agar semakin bagus ke depan,’’ ujarnya kepada RakÂyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (23/10).
Untuk itu, lanjut Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai AmaÂnat Nasional tersebut, semua elemen bangsa hendaknya meÂlihat masalah ini secara kompreÂhensif dan memikirkan nasib rakyat.
“Jadi, jangan sampai melakuÂkan penggulingan kekuasaan pemerintahan di tengah jalan. Sebab, cara seperti ini lebih baÂnyak mudharatnya. Rakyat akan menderita,’’ katanya.
Selain itu, katanya, terjadi keÂhancuran konstitusi, menimbulÂkan
chaos dan anarki. Bahkan bisa lebih berbahaya dari itu.
“Makanya media massa, tokoh masyarakat, intelektual, mahaÂsiswa, dan politisi yang punya hati nurani hendaknya terus mengÂgeber pemerintah dengan kritik yang setajam-tajamnya. Ini supaya pemerintah segera siuÂman, sadar, bahwa bagi rakyat kebanyakan selama ini pemeÂrintah belum berbuat banyak,†papar tokoh reformasi itu.
Berikut petikan selengkapnya:Bagaimana penilaian Anda terÂhadap setahun pemerintah SBY-Boediono?Pemerintah secara umum meÂmang belum menampakkan peruÂbahan yang cukup signifikan. TeruÂtama bagi rakyat kecil, seoÂlah-olah nasib mereka dibiarkan berlalu tanpa perbaikan.
Kemudian bisa dikatakan gagal soal pemberantasan koÂrupsi. Jadi, sebaiknya jangan meÂÂlakukan tamÂbal sulam terhaÂdap KPK. PoÂsisinya kan seÂsungguhÂnya sudah di ujung tanÂduk. Sebab, dua WaÂkil Ketua KPK, Bibit Samad RiÂyanto dan Chandra Hamzah seÂdang diproÂses secara hukum.
Solusinya bagaimana?Menurut saya, seluruh KPK dipertahankan sebagai institusi, tapi seluruh pimpinannya dipilih kembali sesegera mungkin. SuÂpaya dagelan hukum di KPK tidak semakin berlarut-larut.
Apa di pemberantasan koÂrupsi saja kegagalannya?Setahun pemerintahan SBY-Boediono belum mampu menunÂjukkan citra Indonesia di mata internasional. Menghadapi SiÂngaÂÂpura selalu gamang, hadapi Malaysia juga selalu ragu-ragu, apalagi menghadapi tekanan-tekanan korporasi yang terus menguras sumber daya alam Indonesia tanpa ampun.
Kalau tahun kedua masih sama seperti tahun pertama, memang tidak dapat diharapkan adanya perbaikan kehidupan hukum, maupun perbaikan ekonomi. Hukum tidak pernah tegak, koÂrupsi tetap merajalela, dan ekoÂnomi nasional selalu berjalan gontai karena sumber daya alam, minyak, gas, batubara dan mineÂral sebagian besar telah dikuasai asing.
Dengan kondisi seperti ini, apa mungkin terjadi demonsÂtran yang bisa memicu gerakan people power?Saya kira berpikir people poÂwer, apalagi revolusi sosial, atau lebih sempit menggulingkan kekuasaan, merupakan alternatif ekstra bahaya.
Kenapa?Karena yang akan kita temui adalah kehancuran konstitusi, dan menimbulkan
chaos dan anarki yang bahkan bisa lebih berbahaya lagi. Yang penting media massa, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh intelektual, tokoh-tokoh mahasiswa, dan politisi yang punya hati nurani, harus terus menggeber pemerintah dengan kritik yang setajam-tajamnya. Ini supaya pemerintah segera siuÂman, sadar, bahwa bagi rakyat kebanyakan selama ini pemeÂrintah belum berbuat banyak.
Tapi pemerintah mengklaim suÂdah melakukan perbaikan?Itu klaim saja. Faktanya tidak begitu. Ini bisa dilihat dari pemÂberantasan korupsi yang masih amburadul, korupsi masih meraÂjalela, ekonomi kita juga tidak bisa tumbuh karena kekayaan kita disedot korporasi-korporasi asing.
Apa keberhasilan dari pemeÂrintahan SBY-Boediono?Dari segi keamanan. Saya kira secara umum memang keamanan sudah fokus dinikmati bangsa Indonesia. Sekalipun ada letupan-letupan konflik di sana-sini. Dan yang paling jelas sekali, prestasi yang patut kita acungi jempol adalah bahwa kebebasan berseÂrikat dan berkumpul, kebebasan pers, sudah mencapai tahapan yang barangkali paling bagus di seluruh Asia.
Jadi, nilainya pemerintahan ini berapa?Saya punya pendapat yang agak lain dengan pendapat keÂbanyakan. Saya yakin bahwa sebuah kepemimpinan itu bisa baik, bisa buruk, sepenuhnya terÂgantung pada sang pemimpin. Kalau dalam dunia militer, tidak ada prajurit yang gagal, yang gagal adalah sang komandan. Dari cara pandang seperti ini, seÂsungguhnya menuding sejumlah menteri sebagai menÂÂteri gagal, sementara pemÂbagian kabinet seolah-olah suÂdah pas, seÂsungÂguhÂÂnya merupaÂkan peÂnilaian yang tidak wajar dan tidak adil. Tapi saya tidak tahu kok ada koor nyanyian berÂsama bahwa yang salah adalah para menteri, semenÂtara komanÂdan menteri atau Presiden seÂolah-olah sudah semÂpurna.
Jika dilakukan reshuffle apa itu solusi bagi peningkatan kiÂnerja pemerintah?Menurut saya reshuffle tiap minggu pun belum tentu baik, apapun yang diambil tindakan tidak akan berubah selama tipe kepemimpinan PreÂsiden itu berÂsiÂfat gamang, maju mundur, dan tidak yaÂkin diri.
[RM]