Berita

Wawancara

WAWANCARA

Adhie Massardi: Target Kami Demo Di 100 Kota, Puncaknya Akhir Desember 2010

MINGGU, 24 OKTOBER 2010 | 06:44 WIB

RMOL. Ketua Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi mengaku, aksi 20 Oktober 2010 dinilai sangat bermutu. Sebab, sudah sesuai dengan apa yang diharapkan dan diinginkan para pendemo.

“Demo itu bukan soal jumlah­nya, tapi mutunya. Saya kira demo itu bermutu, karena pesan yang kami sampaikan sudah diterima rakyat. Kita targetkan 100 kota akan tetap melakukan demo sampai pemerintah ini berubah,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda bilang ber­mutu?


Kenapa Anda bilang ber­mutu?
Soalnya sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita ingin­kan. Agar semuanya berjalan de­ngan damai. Kita optimistas se­cara moral sudah berhasil.

Apanya berhasil?
Dengan demo itu kita berhasil memberikan pesan bahwa peme­rintah ini perlu diperbaiki.

Tapi jumlah massa tidak ba­nyak tuh?
Kami memang tidak menurun­kan jumlah massa yang besar. Soalnya, ini hanya demonstrasi untuk menunjukkan sikap dan mencari perhatian. Dan misi itu sudah berhasil.

Selain itu, kita juga berhasil mencegah adanya provokasi. Teman-teman mahasiswa sudah berjalan dengan baik. Tetapi yang kita sesalkan ternyata yang ter­provokasi sesungguhnya aparat.

Maksudnya?
Saya menyaksikan dengan kepala saya sendiri, depan istana tiba-tiba aparat menembakan gas air mata dan water canon tanpa kejelasan urgensinya. Ini yang membuat massa menjadi marah. Kemudian menjadi agak sedikit bentrokan. Tapi yang memulai di situ adalah aparat tanpa kejelasan dan alasan menembakan water canon dan gas air mata dan me­ngeluarkan aparat bertameng anti huru-hara itu.

Kalau di tempat lain, bagai­mana?
Sama saja. Aksi teman-teman UBK di LBH terkontrol dengan baik. Kalau polisi menjaga dari luar sekian meter saja, nggak akan ada masalah. Karena semua aksi pada pukul 17.00-18.00 WIB akan surut (bubar) dengan sen­dirinya.

Tapi kenapa ri­but?
Polisi me­maksa untuk mem­bubarkan sebelum waktu­nya bu­bar. Ini menim­bul­kan per­lawanan dari teman-te­man UBK. Cara seperti ini kami sesalkan, apa­lagi sampai ada korban, Farel, yang kena peluru tajam. Ini kan di luar prosedur res­mi penga­manan masyarakat de­ngan peluru ta­jam. Biasanya kan peluru karet.

Apa kesimpulan Anda?
Jadi, memang sudah dipersiap­kan untuk represi massa aksi. Dan ini terjadi hampir di seluruh kota yang melakukan aksi. Ada sekitar 24 kota yang menggelar aksi yang sama. Jadi secara kualitas kami sudah memenangi perta­rungan awal. Nah, kemudian yang kami pertanyakan kepada Kapolri adalah siapa yang ber­tanggung jawab kalau ternyata faktanya adalah aparat yang ter­provokasi.

Namun demikian kita tetap dalam batas-batas kewajaran untuk melakukan aksi. Puncak demo akhir Desember 2010, target kita  minimal di 100 kota.

Wow, di mana saja?
Pokoknya kota-kota yang ada kampusnya.

Artinya demo akan berlanjut terus?
Ya, sampai muncul lahirnya pemerintahan yang baik dan pro-rakyat. Ada dua kemungkinan. Pertama, bahwa pemerintahan ini banting setir meninggalkan pihak-pihak asing yang mendikte selama ini. Kedua, pemerintah banting setir ke pro-rakyat untuk lebih memperhatikan rakyat.

Tapi massa yang diturunkan nggak banyak kan?
Kami merasa belum perlu menurunkan massa yang besar. Yang penting kita memeratakan situasi ini dan pandangan-pan­dangan ini ke seluruh Indonesia. Yaitu dengan melakukan aksi massa pada hari yang sama. Sampai muncul di 100 kota.

Apa betul aksi itu disusupi oleh beberapa kepentingan?
Kita lihat track recordnya, ma­hasiswa bergerak moral dan cara berpikir mereka sangat in­telek­tual. Bagi mahasiwa dan aktivis ini tidak penting, siapa yang menunggangi. Tapi yang penting tujuannya menciptakan pemerin­tahan yang pro-rakyat.  

Kira-kira berapa korban yang jatuh?
Saya belum pantau. Tapi yang luka-luka sudah banyak.   [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Penyegelan Tiffany & Co jadi Pesan Tegas ke Pelaku Usaha yang Curang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:57

Istri Mantan Kapolres Bima Kota Turut Diperiksa soal Kepemilikan Narkoba

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:36

Dokter Diaspora Kenang Kisah Bersama PDIP saat Bencana Sumatera

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:19

Kepala BGN Hingga Puluhan Perwira Polri Peroleh Bintang Jasa dari Prabowo

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:57

Sekjen PDIP: Bencana adalah Teguran Akibat Kebijakan yang Salah

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:32

Garda Satu Papua Barat Tempuh Jalur Hukum Atasi Aksi Premanisme

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:10

Kerry Riza Chalid Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp13,4 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:01

Legislator Demokrat Jakarta Pimpin Kader Ziarahi Makam Misan Syamsuri

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:54

Polisi Tangkap Warga Malaysia Pengedar Narkoba Senilai Rp39,8 Miliar

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:28

BPKH Dorong Peningkatan Diplomasi Ekonomi ke Arab Saudi

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:07

Selengkapnya