Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengaku prihatin dengan kondisi bangsa ini. Sebab, setiap kekurangan pemerintah selalu Presiden SBY yang disalahkan.
“Jangan selalu Presiden yang disalahkan dong, tapi salahkan yang diberi wewenang, siapa pelaksana tugas tersebut,’’ ujar Freddy Numberi saat peluncuran buku karyanya Kepemimpinan Sepanjang Zaman, di Wisma Elang Laut, Jakarta, kemarin.
Peluncuran buku setebal 206 halaman itu dipandu Andy F Noya (presenter Metro TV) dengÂan pembedah antara lain Tanri Abeng (bekas Menneg BUMN) dan Freddy Numberi.
Menurut Laksamana Madya TNI (Purn) itu, tugas Presiden itu hanya aspek kebijakan saja. Tapi implementasinya kepada sektor yang mengerjakannya.
“Misalnya, ada kebijakan menÂteri yang turun ke bawah, tapi pelayanannya tidak jalan, kok Presiden yang salah. Pihak peÂlaksananya dong yang salah,’’ ucapnya.
Berikut kutipan selengkapnya:Kenapa Anda berkata seperti itu, apakah ini ada kaitannya dengan sejumlah tokoh yang selalu menyalahkan Presiden?Saya merasa aneh saja. Banyak orang menyalahkan Prsiden SBY, tanpa menganalisa terlebih daÂhulu siapa yang bertanggung jawab atas kerjaan itu.
Bukankah Presiden sebagai pucuk pimpinan yang harus diÂsalahkan?Presiden hanya memberikan kebijakan, misalnya ke menteri.
Jangan gara-gara para menteri, Presiden yang disalahkan. Itu kan tidak benar dong. Kalau kita yang bersalah maka kita yang harus bertanggung jawab.
Pernyataan ini bukan menÂcari simpati kepada SBY kan?O, tidak. Sedikit-sedikit ada salah, maka yang disalahkan PreÂsiden.
Jangan salahkan yang atasanÂnya dong. Kita harusnya sudah bisa menebak, yang salah pada implementasinya.
Jangan kalau ada salah sedikit, langsung ditujukan ke Presiden. Kan tidak benar juga. Jadi, maÂsyarakat kita salah kaprah juga. Padahal kebijakan sudah baik, tapi implementasi yang harus kita awasi.
Apa harapan SBY terhadap buku ini?Beliau mengatakan, mudah-mudahan buku ini juga mendoÂrong generasi muda untuk meÂmimpin Indonesia dengan baik. Sebab, pemimpin Indonesia itu unik. Begitu beragam masyarakat bangsa yang perlu kesadaran. Tapi utamanya membangun koÂmuÂnikasi. Intinya jangan meÂnutup diri.
Bagaimana perasaannya seÂteÂlah diluncurkan buku ini?O, tentunya bahagia dong. Saya bersyukur karena selama dua tahun menyulis buku ini, akhirnya bisa diluncurkan. Ini bisa menambah perpusÂtakaan di Indonesia tentang baÂgaiÂmana meÂmimÂpin yang baik.
Kendala apa yang dihadapi untuk menulis buku itu?Banyak, harus melakukan peÂnelitian-penelitian.
Mengapa Anda menulis di tengah kesibukan sebagai MenÂhub?Kepemimpinan paling utama di dalam menggerakkan roda-roda pemerintah yang ada. Dan saya berpikir, tidak ada salahnya memberi sumbangsih.
Apa yang ditonjolkan dalam buku ini?Pemimpin Indonesia harus orang nasionalis. Kalau negeri ini diharapkan bisa langgeng sampai kiamat, nasioÂnalisme harus diÂangÂkat. Setiap anak bangsa berÂdiri sama tinggi, duduk sama rendah.
Di sisi lain yang saya ungÂÂkapÂkan bahwa diera reforÂmasi ini harus menuntun kerakÂyatan. Makanya dalam bab terÂakhir itu termuat tentang the servant leadership. Makanya yang kita lakuÂkan adaÂlah bagaiÂmana melaÂyani masyaÂrakat daÂlam memÂbangun negeri ini. Jadi, saya pikir mudah-muÂdahan dalam tulisan ini bisa membantu geneÂrasi muda, teruÂtama bagaiÂmana nilai kepeÂmimpinan IndoÂnesia ke depan bisa kita bangun lebih baik.
Apa yang Anda mau capai?Pemimpin Indonesia ke depan tetap memiliki komitmen dengan idealisme-idealisme yang tinggi.
Bukan ini bagian menaikkan citra Anda menjelang evaluasi setahun kinerja menteri?
Ah, nggak ada seperti itu. Saya ingin sumbangsih saja. Saya pernah menjadi Gubermur Papua yang menerapkan asas keberÂsamaan.
Maksudnya?Papua adalah negeri kita berÂsama. Di mana setiap putra-putra lain boleh ikut masuk di sana dan ikut membangun. Jadi terbuka. Dari Jawa, Batak, dan suku-suku lainnya. Jadi, pemimpin di daerah harus membuka diri ikut merangÂkul semua yang ada di daerahnya. Hanya dengan demikian kita bisa jaga kebersamaan itu. Jangan terkontaminasi dengan kepenÂtingan dan keÂlompok.
Anda bilang ada dua JenÂÂderal Angkatan Darat yang paling dikagumi, yakni Douglas Mac Arthur dan SBY, kenapa?
Banyak jenderal yang saya kagumi, tapi kedua jenderal itu yang paling saya kagumi karena sebelum mengambil keputusan selalu meminta pendapat dari bawahannya.
Misalnya, Douglas Mac ArÂthur di Era Perang Dunia II yang lulusan West Ponit Military AcaÂdemy ini selalu bertanya dan menÂdengar semua saran dari perÂwira di bawahnya, bahkan praÂjurit sekalipun. Sebelum mengÂambil keputusan penting , semua perwira yang dipimpinnya diÂmintai pendapat, setelah itu keputusan tetap di tangan sang jenderal legendaris.
Kalau SBY?Sama dengan Mac Arthur. Saat memberikan tugas ke baÂwahanÂnya ada rasa respek. Saya sebagai bawahan dikoreksi dan itu sangat membangun pada bawahannya.
Anda mengagumi SBY buÂkan karena Presiden kan?Tidak. Presiden SBY adalah salah satu pemimpin perubahan di Indonesia. Di mata rakyat, beÂliau menjadi kekuatan dan inspiÂrasi perubahan besar di negeri ini. Tak terbantahkan, angin perubaÂhan telah mengembuskan rasa bangga dan kecintaan rakyat terÂhadap pemimpinnya.
[RM]