Berita

SBY/IST

28 KEGAGALAN SBY-BOEDIONO (BAGIAN KEDUA)

SBY-Boediono Gagal Memimpin Stabilisasi Politik untuk Rakyat

RABU, 13 OKTOBER 2010 | 14:27 WIB | LAPORAN:

RMOL. Senin lalu (11/10), kelompok Petisi 28 yang dimotori sejumlah aktivis muda mendatangi Istana Negara di Jakarta.

Maksud kedatangan mereka adalah untuk menyerahkan surat resmi permintaan agar SBY-Boediono dengan ihklas mengundurkan diri.

Dibawah ini bagian kedua dari 28 kegagalan SBY dalam memerintah Indonesia versi Petisi 28.

Kegagalan Presiden SBY Memimpin Stabilisasi Politik untuk Rakyat
6. SBY-Boediono gagal memimpin seluruh institusi kenegaraan yang mengakibatkan benturan antara lembaga negara, seperti benturan antara Presiden dengan Parlemen (dalam kasus Century), Presiden bahkan membangkang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi, Presiden menolak keputusan dan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal penyimpangan di balik bailout Century.


Kegagalan Presiden SBY Memimpin Stabilisasi Politik untuk Rakyat
6. SBY-Boediono gagal memimpin seluruh institusi kenegaraan yang mengakibatkan benturan antara lembaga negara, seperti benturan antara Presiden dengan Parlemen (dalam kasus Century), Presiden bahkan membangkang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi, Presiden menolak keputusan dan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal penyimpangan di balik bailout Century.

Konflik berkepanjangan antara Polri dengan KPK, Kejaksaan dengan KPK. Dalam berbagai konflik tersebut, Presiden SBY memperlihatkan ketidakmpuan dan ketidakpeduliannya. Bahkan Presiden SBY menjadi pemicu diantara seluruh konflik lembaga negara tersebut.

Praktek penyelengaraan negara mengalami stuck (tidak berfungsi), yang memicu meluasnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap hampir seluruh institusi negara, eksekutif, legislatif, di pusat maupun daerah.

7.    SBY-Boediono gagal memimpin persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia baik dalam aspek teritorial, pemerintahan daerah dan program pembangunannya.

Pemerintah tidak memiliki prioritas bersama, bergerak sendiri-sendiri, untuk kepentingan daerah dan institusi  masing-masing, dengan mengesampingkan kepentingan nasional.

8.    SBY-Boediono gagal memimpin membangun stabilitas politik untuk  kepentingan bangsa dan rakyat, dengan membiarkan beroperasinya sistem demokrasi liberal yang sejatinya diperuntukkan untuk kepentingan segelintir elite politik nasional dan korporasi asing.

Berbagai gesekan dan konflik politik di tingkat elite politik hanya semata untuk bagi-bagi kue kekuasaan, tidak untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Pembentukan Sekretariat Gabungan misalnya, adalah kompromi politik yang dilakukan Presiden SBY untuk kepentingan mempertahankan kekuasaan semata dengan mengkompensasikan jabatan-jabatan politik diantara elite partai politik.

Politik hanya sebagai sarana elite untuk menumpuk kekayaan dan mengorbankan  rakyat, bangsa dan negara.   

9.    SBY-Boediono gagal memimpin dan gagal membangun tradisi politik sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan umum. Politik didistorsi maknanya menjadi alat untuk meraih tujuan-tujuan pribadi, tujuan presiden sebagai pribadi dan keluarganya, tujuan anggota DPR sebagai pribadi dan keluarganya, untuk mendapatkan dan mempertahankan jabatan, serta menumpuk kekayaan.

Politik dan partai politik hanya sebagai sarana elite untuk menumpuk kekayaan dengan mengorbankan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.
[arp]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya