RMOL.Penolakan koboi-koboi DPR terhadap calon tunggal Kapolri, Komjen Timur Pradopo, hanyalah riak-riak kecil untuk menambah indahnya demokrasi.
Tapi parpol koalisi diyakini seirama indah menyetujui bekas Kapolda Metro Jaya itu menduÂduki kursi Trunojoyo 1.
“Setgab Parpol Koalisi semaÂkin kompak dan dewasa. Jadi, diyakini seirama indah menyeÂtujui Timur menjadi Kapolri,’’ ujar Ketua Umum Partai DemoÂkrat, Anas Urbaningrum, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Kenapa Anda begitu yakin, apa Timur Pradopo diusulkan Setgab Parpol Koalisi?
O, tidak begitu. Tidak ada kaiÂtan antara calon Kapolri dengan Setgab Parpol Koalisi.
Apa tidak ada order untuk itu?
Tidak ada order Setgab untuk calon Kapolri. Partai-partai koaÂlisi mengerti persis tentang hak prerogatif presiden.
Tapi sebelum terpilihnya PraÂdopo, Demokrat dan Setgab keÂrap melakukan rapat koordiÂnasi terkait calon Kapolri?
Setgab memang secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas isu-isu strategis, terÂmasuk soal KPK, Jaksa Agung, dan Kapolri. Tetapi tidak masuk membahas nama secara spesifik. Sekali lagi Setgab paham posisi dalam relasi dengan kewenangan Presiden.
Benar nih Setgab tidak meÂnitipkan nama Timur?
Kita tidak pernah masuk ke wilaÂyah mendukung atau meniÂtipkan nama kepada Presiden terÂkait calon Kapolri.
Termasuk tidak menolak Nanan Soekarna dan Imam Sadjarwo?
Ya, kami tidak menolak calon-calon yang sudah beredar namaÂnya. Bahwa masing-masing parÂtai barangkali punya pandangan yang khusus dan tertentu tentang masing-masing nama yang beredar, itu adalah hal yang alaÂmiah saja.
Jadi, Parpol Koalisi sudah sepakat nih menyetujui Timur?
Ya, rasanya Parpol Koalisi diyakini seirama yang indah untuk menyetuji Timur sebagai Kapolri.
Apa indikasinya?
Kan sudah saya bilang tadi, Setgab Parpol Koalisi makin komÂpak dan dewasa. Bahwa ada dinamika personal, itu warna-warni yang akan menambah keÂcantikan politik demokrasi.
Ada instruksi khusus dari pimÂpinan Parpol Koalisi keÂpada kadernya di Komisi III DPR saat fit and proÂper test?
Masing-masing parpol punya gaya masing-masing dalam meÂnyampaikan pesan kepada kaÂdernya di DPR.
Kalau Partai Demokrat baÂgaiÂmana caranya?
Dengan kedipan mata saja, anggota Fraksi Partai Demokrat, khususnya di Komisi III DPR, sudah tahu persis apa tugasnya, dan sudah sangat paham apa yang harus dilakukan.
O ya, apakah sebelumnya Anda sudah memprediksi nama Timur menjadi calon Kapolri?
Saya bukan ahli nujum dan tukang ramal. Saya hanya mengaÂtakan bahwa calon yang infonya melakukan ‘safari politik’ sangat mungkin tidak akan jadi.
Alasan apa?
Karena itu bukan tradisi yang menjanjikan masa depan yang mengesankan. Saya juga hanya memprediksi bahwa yang akan jadi adalah calon yang tidak terlalu banyak dibicarakan orang. Hanya feeling saja, dari pemÂbacaan terhadap situasi internal Polri maupun suasana kebatinan yang saya tangkap dari sang user.
Anda dalam akun twitter seÂpertinya memprediksi Ito akan menjadi calon Kapolri?
Saya tidak pernah menyebut nama. Tidak baik kalau saya meÂnyebut nama. Menyebut nama harus bisa mempertanggungÂjawabkan. Saya pun tidak boleh mendahului keputusan Presiden. Bisa kualat nanti, he-he-he.
Sosok Timur Pradopo, bagaiÂmana menurut Anda?
Siapa yang diputuskan PresiÂden sebagai calon Kapolri, itulah yang terbaik. Tentu saja tidak ada sempurna. Tak ada gading yang tak retak. Timur Pradopo bukan malaikat, tetapi pastilah sudah memenuhi syarat-syarat pokok, seperti kapabilitas, integritas, akseptabilitas, profesionalitas, dan loyalitas. Saya menilai Timur Pradopo, Ito Sumardi, Nanan Soekarna, Imam Sudjarwo, dan Gories Mere semuanya pantas menjadi Kapolri. Tetapi hanya satu yang dinilai tepat yakni Timur Pradopo. Semuanya adaÂlah jenderal polisi yang cakep dan membanggakan.
Timur disebut-sebut terkait pelanggaran HAM Semanggi dan Trisakti?
Tentu saja Timur Pradopo sadar akan mendapatkan pertaÂnyaan di seputar itu. Tetapi saya juga percaya bahwa Timur PraÂdopo bisa menjelaskan duduk perkara dan konteksnya. Saya kira itu yang menjadi salah satu masalah yang perlu di-clear-kan.
Sejumlah anggota Dewan mengajukan mosi tidak percaya kepada pimpinan DPR karena melakukan perteÂmuan tertutup dengan Timur Pradopo?
Saya kira tidak ada konsep dan mekanisme mosi tidak percaya. Bahwa anggota bisa memberikan saran dan masukan kepada pimÂpinan, itu hal yang lumrah saja. Tetapi tidak baik kalau diarahkan untuk semacam mosi tidak perÂcaya. Nanti malah bisa jadi tontoÂnan publik yang kurang elok. Janganlah bikin tambahan drama yang tidak diharapkan publik.
Apakah pertemuan itu masih wajar?
Memang itu kurang lazim. Karena kurang lazim bisa ditafÂsirkan secara beragam. Tafsir liar pun sukar untuk dihindari. Tetapi kalau berpegang pada keterangan yang diberikan pimpinan DPR, sebetulnya itu silaturrahim saja. Kenalan dengan calon Kapolri, saya kira tidak masalah. SilaÂturrahim dipercaya memperÂpanÂjang umur dan memperluas rejeki, he-he-he. [RM]