Berita

Wawancara

Heru Lelono: Nggak Masuk Akal Calon Kapolri Diserahkan Ke DPR Hari Minggu

SABTU, 02 OKTOBER 2010 | 00:47 WIB

RMOL.Staf Khusus Presiden Bidang Informasi, Heru Lelono mengaku belum tahu kapan nama calon Kapolri diserahkan ke DPR.

Yang jelas, lanjutnya, kalau diserahkan hari Minggu (3/10) rasanya kurang masuk akal. Se­bab, itu hari libur.

“Kayaknya nggak mungkin sih diserahkan hari Minggu, logika­nya nggak nyambung. Tapi ya kita lihat saja nanti,’’ ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Penyerahan calon Kapolri dan Jaksa Agung masih simpang siur. Sebab, Staf Khusus Presiden Bidang Informasi, Heru Lelono sampai sekarang belum menge­tahui kapan calon Kapolri akan diserahkan ke DPR.

Sebelumnya Ketua DPR Mar­zuki Alie mengungkapkan, Pre­siden sudah menetapkan calon Kapolri pilihannya. Rencananya 3 Oktober mendatang diserahkan ke DPR.

“Saya baru saja bertemu pre­siden, dan akan menyerahkan satu nama calon Kapolri tanggal 3 Oktober,” katanya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/9).    

Heru Lelono selanjutnya me­nga­takan, kalau tetap calon Ka­polri itu diserahkan hari Minggu, itu juga tidak masalah.

“Itu hak preorogatif Presiden, sah saja. Sebab, tidak aturan yang dilanggar,’’ ucapnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Siapa yang akan diajukan SBY sebagai calon Kapolri?

Presiden sudah menjawab kan, pasti akan mencalonkan yang di­usulkan oleh Kapolri dan Kom­pol­nas. Calon itu sudah melalui proses dengan persaingan yang ketat.

Apa jadi diserahkan ke DPR 3 Oktober?

Saya malah belum tahu kapan. Tapi katanya Ketua DPR sudah mengatakan, tanggal 3 Oktober nama calon Kapolri akan diserah­kan Presiden ke DPR. Kalau me­mang begitu berarti tidak masuk akal, logikanya nggak nyambung.

Kenapa?

Ya, karena 3 Oktober itu hari Minggu. Itu kan hari libur, masa di situ diserahkan  ke DPR.

Lalu kapan?

Saya nggak tahu persis kapan­nya. Tapi berdasarkan informasi bahwa katanya Ketua DPR Mar­zuki Alie sudah ketemu dengan Presiden. Kalau memang begitu, ya sudah.

Maksudnya?

Ya, kita tunggu saja. Yang pen­ting nama calon Kapolri jangan diseret-seret ke politik. Sebab, Polri adalah lembaga penegak hukum yang harus terbebas dari tekanan-tekanan.

Memang ada indikasi seperti itu?

Itu harapan saya. DPR itu ja­ngan dukung mendukung. Apa­lagi dijadikan ajang taruhan. Ini kan penegak hukum. Jadi, pilih­lah yang terbaik.

Menurut Anda siapa yang ter­baik, Nanan Soekarna atau Imam Sudjarwo?

Keduanya baik. Tapi itu Pre­siden akan memilih yang terbaik untuk diserahkan ke DPR.

Siapa itu?

Saya nggak tahu.   

Sudah positif ya calonnya tunggal diserahkan ke DPR?

Ya, seperti biasanya Presiden pasti mengajukan satu nama calon Kapolri. Saya jamin itu. Kalau nanti ditolak, pasti diganti calon yang lain.

Ada yang bilang ini penge­kangan demo­krasi karena ca­lon­nya tunggal?

Tidak ada demokrasi dilanggar. Kalau DPR menolak, tentu Pre­siden akan mengajukan calon yang lain. Lagi­pula, ber­da­sar­kan Un­dang-undang, Presiden bi­sa mengajukan satu orang atau le­bih. Kalau nanti diajukan satu orang, berarti bisa jadi pertim­bangannya adalah biar DPR cepat me­lakukan pro­ses fit and proper test. Sebab, kalau nggak salah mem­bu­tuh­kan waktu se­kitar dua minggu karena Pak Bam­bang Hendarso Danuri (BHD) bulan Oktober berakhir masa kerjanya.

O ya, bagaimana dengan ca­lon Jaksa Agung?

Calon Jaksa Agung sudah tidak ada problem yang sangat besar.

Kenapa?

Karena sampai pada keputusan untuk memilih Jaksa Agung, Pre­siden sudah mengeluarkan surat dengan ditunjuknya Wakil Jaksa Agung, Darmono sebagai pejabat sementara Jaksa Agung.

Jadi, sudah tidak ada istilah ke­kosongan. Darmono akan men­jadi pejabat sementara Jaksa Agung sampai ada Jaksa Agung yang baru.

Apa Presiden sudah memberi tanda-tanda memilih siapa yang menjadi Jaksa Agung?

Belum ada tanda-tanda. Pre­siden pernah memberikan tanda-tanda soal pelantikan Jaksa Agung bisa bersamaan dengan Kapolri yang baru.

Kapan itu?

Saya nggak tahu persis. Tapi yang jelas, setelah BHD pensiun dan proses fit and proper test itu selesai di DPR. [RM]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya