RMOL. Sudah sebulan Meutya Viada Hafid menjadi anggota Komisi XI DPR, tapi bekas presenter Metro TV itu mengaku belum bisa berbuat banyak. Sebab, masih belajar dengan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat.
Selain itu, wanita cantik yang pernah ditahan di Irak oleh pasuÂkan gerilyawan tersebut, juga belaÂjar untuk menerima segala predikat jelek terhadap anggota DPR.
“Sekarang ini banyak suara negatif tentang DPR. Makanya ada yang mencibir ke saya, kok mau jadi anggota DPR sih, seÂkarang kan DPR lagi buruk. Tapi saya nggak mungkin marah dengÂan ucapan itu. Saya menerima saja. Tapi saya berjanji akan memÂÂÂberikan yang terbaik,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, belum lama ini.
Berikut kutipan selengkapnya:Bagaimana rasanya setelah dilantik menjadi anggota DPR?Ini amanah dan tantangan baru bagi saya. Tantangan dalam artian, supaya kita lebih punya peranan dalam masyarakat. Dulu peranannya sebagai jurnalis. Tapi setelah dilantik menjadi anggota DPR, tentu dunianya berbeda.
Banyak yang harus dipelajari di DPR ini. Beda sekali dengan karakter yang dulu saya jalani di dunia jurnalis. Saya pelan-pelan belajar menyesuaikan juga. Sebab, adaptasinya memang beda dengan profesi sebelumnya.
Kira-kira enakan mana?Kalau ditanya sekarang nggak
fair. Sebab, kan baru dilantik. Istilah orang kan, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Jadi, masa perjuangannya masih terasa berat. Karena banyak yang belum saya ketahui. Banyak yang harus saya pelajari di situ. Tapi mudah-mudahan saya juga dapat mencintai tugas saya di sini. Seperti dulu saya mencintai proÂfesi sebagai wartawan. Dulu kan saya cinta banget sama profesi warÂtawan seperti nggak ada beban. Mudah-mudahan di poliÂtik juga bisa begitu.
Berarti sekarang belum ada beban ya?Ya, sekarang sih belum. Sebab, masih dalam masa transisi, seÂhingga penyesuaiannya perlu makan waktu.
Ceritakan dong awal terjun ke politik?Waktu itu saya bekerja sebagai wartawan sudah cukup lama juga, yakni 9 tahun. Setelah saya puÂlang dari Irak, saya merasa kalau bisa menambah peran saya dari sebelumnya.
Maksudnya?Kalau dulu sebagai wartawan bisa menjadi mata dan telinga masyarakat. Tapi belum bisa mewakili dari hal-hal keÂbijakan. Di sini saya berÂharap ke depan bisa mewakili dalam bentuk yang lebih konkret.
Kapan mulai bergabung ke Partai Golkar?Saya masuk ke partai awal tahun 2008.
Bagaimana Anda bisa tertaÂrik dengan Partai Golkar?Ini pertanyaan yang menarik. Karena yang mengajak saya jusÂtru yang saya gantikan seÂkarang yakni Burhanuddin Napitupulu yang beberapa bulan lalu meÂninggal dunia. Jadi, seolah-olah saya sudah diperÂsiapkan.
Pak Burnap – begitu sapaan akrab BurÂhaÂnuddin Napitupulu — banyak mengajarkan saya untuk masuk ke Dapil Sumatera Utara. Kemudian mendidik saya untuk mengikuti pemilihan leÂgislatif. Tapi beberapa bulan lalu meÂninggalkan kursinya untuk saya.
Saya merasa Partai Golkar memberi peluang yang cukup besar bagi saya yang masih muda agar bisa bersama-sama berkarya dengan politisi senior. Mereka cukup terbuka dengan orang-orang baru seperti saya.
Lalu kenapa tertarik dengan Partai Golkar?Saya melihat partai ini lebih egaliter. Sebab partai ini tidak berÂgantung pada satu sosok saja. Dan partai ini besar bukan hanya semata tokoh ketua umumnya.
Apakah jadi anggota DPR menjadi impian Anda?Oh, ini bukan impian. Ini tugas bagi saya untuk dijalani dengan baik. Justru sekarang lagi ribet untuk mempersiapkan segalanya. Apalagi saya masuk tidak dari awal, sehingga banyak yang harus saya kejar. Banyak sidang-sidang dari awal yang belum saya ikuti sehingga banyak yang harus saya pelajari.
Harapan ke depan?Supaya bisa menjalankan tugas ini sebaik-baiknya, sehingga tidak mengecewakan masyaraÂkat. Saya tahu sekarang ini baÂnyak suara negatif tentang DPR. Dan itu tantangan buat saya. Tapi saya tidak bisa menolak itu. Sebab, kenyataannya seperti itu. Jadi, banyak yang harus dibenahi. Kalau ada orang yang mengaÂtakan, kok di DPR sih, sekarang kan DPR lagi buruk. Tapi saya nggak mungkin marah dan akan saya terima pernyataan itu. Apa pun omongan orang menjadi masukan buat saya.
[RM]