RMOL.Anggota Komisi I DPR Edhie Baskoro Yudhoyono menyatakan puas dengan pemaparan yang disampaikan calon Panglima TNI Agus Suhartono, di depan Komisi I DPR, Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/9).
“Kesimpulannya saya cukup puas dan percaya Pak Agus bisa mengemban amanah sebagai Panglima TNI dengan baik,” kata Sekjen Partai Demokrat itu, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Meski begitu, lanjut Ibas panggilan akrab Edhie Baskoro, pihaknya tidak mau berspekulasi, kalau Agus Suhartono sudah pasti menjadi Panglima TNI yang baru menggantikan Djoko Santoso.
“Masih ada mekanisme dalam fit and proper test yang akan diputuskan lewat Komisi I dan kemudian akan disepakati dalam rapat paripurna DPR, sehingga tidak tepat juga kalau saya katakan semuanya hanya tinggal menunggu ketok palu. Kita harus menghargai semua proses yang berjalan sejauh ini,” tambah Ibas.
Berikut kutipan selengkapnya:
Apakah Anda puas dengan performa Agus Suhartono dalam fit and proper test?
Ya, sejauh ini pemaparan visi dan misi calon Panglima TNI ini cukup dalam dan komprehensif terhadap seluruh permasalahan aktual yang dihadapi TNI. Ini terbukti dari pengalaman dan pemahaman beliau tentang pertahanan. Beliau yang dinilai oleh Komisi I DPR sudah cukup baik. Selanjutnya, latar belakang Pak Agus yang berasal dari matra laut dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi sistem pertahanan Indonesia sebagai negara maritim.
Lebih dari itu, Pak Agus bisa menjawab dengan baik hampir semua pertanyaan yang diajukan oleh anggota Komisi I DPR. Kesimpulannya saya cukup puas dan percaya Pak Agus bisa mengemban amanah sebagai Panglima TNI dengan baik.
Dengan demikian penetapan Agus sebagai Panglima TNI tinggal ketok palu ?
Ya, sebenarnya masih ada mekanisme dalam hasil fit and proper test yang akan diputuskan lewat Komisi I DPR, kemudian harus disepakati dalam rapat paripurna DPR, sehingga tidak tepat juga kalau saya katakan semuanya hanya tinggal menunggu ketok palu. Kita harus menghargai semua proses yang berjalan.
Bukankah koordinasi dengan parpol koalisi makin menguatkan dukungan itu?
O ya, tentunya ini semua sudah dibahas dalam partai koalisi. Sebagian besar mengatakan tidak bermasalah dan sangat setuju sekali dengan pemilihan sosok Agus Suhartono ini sebagai satu-satunya calon Panglima TNI.
Menurut Anda apa tugas prioritas Panglima TNI yang baru?
Ya, tentunya tugas Panglima TNI masih banyak ya. Selain menjaga netralitas TNI, terus melanjutkan reformasi, dan juga meningkatkan kualitas dan profesionalitas sumber daya manusianya, kita juga menginginkan adanya perencanaan dan peningkatan sistem alutsista (alat utama sistem persenjataan). Tapi yang terpenting dari itu menurut saya, Panglima TNI yang baru ini perlu cermat mendeteksi sedini mungkin akan adanya ancaman negara agar selalu dapat menjaga kedaulatan bangsa kita.
Jadi, persenjataan militer yang dimiliki TNI sudah cukup memadai?
Ya, kalau boleh jujur kita akui pada umumnya alutsista yang dimiliki TNI saat ini sudah tergolong tua. Tapi kami telah melihat keseriusan dari pemerintah untuk membenahi alusista TNI hingga tercapai target minimum esenstial forces (EF). Pemerintah juga bersama-sama DPR telah meminta Kementerian Pertahanan bersama Mabes TNI untuk dapat bekerja sama dengan BUMN strategis.
Ini sangat penting mengingat kemandirian alutsista dapat mengurangi ketergantungan kita dengan pihak asing terutama terkait dengan sektor-sektor strategis. Kami di Komisi I dan Banggar DPR sedang berupaya agar kebutuhan belanja modal dan Mabes TNI dapat tercapai karena alokasi anggaran TNI selama ini tidak pernah melebihi 1 persen dari APBN. Mengingat persenjataan di kawasan Asia Tenggara memiliki efek spiral. Kami akan terus berupaya memperjuangkan mengajukan anggaran belanja TNI agar dapat dipenuhi oleh Kementerian Keuangan dan Bappenas.
Negara kini gencar-gencarnya lakukan pemberantasan terorisme, tapi kiprah TNI tidak terlihat. Apakah memang selama ini tidak dilibatkan?
Saya rasa tidak seperti juga karena pada hakekatnya TNI sudah memiliki kesiapan untuk berkoordinasi dalam upaya pemberantasan terorisme. Secara tekniskan TNI memiliki satuan pasukan khusus anti teror yang kita kenal seperti pasukan penanggulangan teror seperti Gultor yang kita tahu seperti Kopassus, Detasemen Bravo 90 dan Detasemen Jala Mantara. Ini semua dapat dilibatkan dalam penanganan teroris di lapangan. Namun kesiapan TNI ini masih menuggu payung hukum yang jelas terkait dengan penanganan terorisme itu.
Apakah Anda setuju jika seluruh pengamanan perairan di perbatasan diserahkan sepenuhnya kepada TNI?
Penjagaan dan penangkapan kapal milik asing saya kira belum cukup kalau hanya TNI AL saja walau pengamanan perairan di Indonesia ini memang fungsi khususnya ada di TNI AL. Tapi wilayah perairan kita kan luas dan ancaman yang dihadapi terus berkembang dan semakin kompleks. Karena itu menurut saya masih diperlukan dukungan pihak-pihak lain seperti kepolisian, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan instansi terkait lainnya dalam satu payung koordinasi yang cantik dalam mengamankan wilayah kita.
AS menyatakan embargo sudah tidak berlaku, apa ini kesempatan bagi kita untuk kembangkan alutsista?
Kita memiliki pelajaran khusus ya, ketika kita dulu selalu berpatokan pada negara barat seperti AS dan kemudian ada permasalahan yang cukup pelik sehingga kita diembargo. Itu merupakan pengalaman yang sungguh tidak menyenangkan. Oleh karena itu sesuai dengan strategi eksteral kita dalam memenuhi kelengkapan alutsista, kita coba juga melihat ke negara-negara Timur seperti Rusia. [RM]