Berita

Wawancara

Edhie Baskoro Yudhoyono: Calon Panglima TNI Cukup Bagus Percaya Bisa Mengemban Amanah

SABTU, 25 SEPTEMBER 2010 | 00:19 WIB

RMOL.Anggota Komisi I DPR Edhie Baskoro Yudhoyono menyatakan puas dengan pemaparan yang disampaikan calon Panglima TNI Agus Suhartono, di depan Komisi I DPR,  Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/9).

“Kesimpulannya saya cu­kup puas dan percaya Pak Agus bisa mengemban amanah sebagai Panglima TNI dengan baik,” kata Sekjen Partai Demokrat itu, ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Meski begitu, lanjut Ibas panggilan akrab Edhie Baskoro, pihaknya tidak mau berspekulasi, kalau Agus Suhartono sudah pasti menjadi Panglima TNI yang baru menggantikan Djoko Santoso.

“Masih ada mekanisme dalam fit and proper test yang akan diputuskan lewat Komisi I dan kemudian akan disepakati dalam rapat paripurna DPR, sehingga tidak tepat juga kalau saya kata­kan semuanya hanya tinggal me­nunggu ketok palu. Kita harus menghargai semua proses yang berjalan sejauh ini,” tambah Ibas.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apakah Anda puas dengan per­forma Agus Suhartono da­lam fit and proper test?

Ya, sejauh ini pemaparan visi dan misi calon Panglima TNI ini cukup dalam dan komprehensif terhadap seluruh permasalahan aktual yang dihadapi TNI. Ini terbukti dari pengalaman dan pe­mahaman beliau tentang pertaha­nan. Beliau yang dinilai oleh Komisi I DPR sudah cukup baik. Selanjutnya, latar belakang Pak Agus yang berasal dari matra laut dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi sistem per­tahanan Indonesia sebagai negara maritim.

Lebih dari itu, Pak Agus bisa menjawab dengan baik hampir semua pertanyaan yang diajukan oleh anggota Komisi I DPR. Ke­simpulannya saya cukup puas dan percaya Pak Agus bisa mengemban amanah sebagai Panglima TNI dengan baik.

Dengan demikian penetapan Agus sebagai Panglima TNI tinggal ketok palu ?

Ya, sebenarnya masih ada meka­nisme dalam hasil fit and proper test yang akan diputuskan lewat Komisi I DPR, kemudian harus disepakati dalam rapat pari­purna DPR, sehingga tidak tepat juga kalau saya katakan semuanya hanya tinggal me­nunggu ketok palu. Kita harus menghargai se­mua proses yang berjalan.

Bukankah koordinasi dengan parpol  koalisi makin menguat­kan dukungan itu?

O ya, tentunya ini semua sudah dibahas dalam partai koalisi. Sebagian besar mengatakan tidak bermasalah dan sangat setuju sekali dengan pemilihan sosok Agus Suhartono ini sebagai satu-satunya calon Panglima TNI.

Menurut Anda apa tugas prio­ritas Pang­lima TNI yang baru?

Ya, tentunya tugas Panglima TNI masih banyak ya. Selain menjaga netralitas TNI, terus me­lanjutkan reformasi, dan juga meningkatkan kualitas dan profe­sionalitas sumber daya manusia­nya, kita juga menginginkan ada­nya perencanaan dan pe­ningkatan sistem alut­s­ista (alat utama sistem per­senja­taan). Tapi yang terpen­ting dari itu me­nu­rut saya, Pang­­­lima TNI yang baru ini perlu cer­mat men­deteksi se­dini mung­kin akan adanya anca­man negara agar selalu dapat menjaga kedau­latan bangsa kita.

Jadi, persenjataan militer yang dimiliki TNI sudah cukup memadai?

Ya, kalau boleh jujur kita akui pada umumnya alutsista yang dimiliki TNI saat ini sudah tergo­long tua. Tapi kami telah melihat keseriusan dari pemerintah untuk membenahi alusista TNI hingga tercapai target minimum esens­tial forces (EF). Pemerintah juga bersama-sama DPR  telah me­minta Kementerian Pertahanan bersama Mabes TNI untuk dapat bekerja sama dengan BUMN strategis.

Ini sangat penting mengingat kemandirian alutsista dapat mengurangi ketergan­tungan kita dengan pihak asing terutama terkait dengan sektor-sektor stra­tegis. Kami di Komisi I dan Banggar DPR sedang berupaya agar kebutuhan belanja modal dan Mabes TNI dapat tercapai karena alokasi anggaran TNI selama ini tidak pernah melebihi 1 persen dari APBN. Mengingat persenjataan di kawasan Asia Tenggara memiliki efek spiral. Kami akan terus berupaya mem­per­juangkan mengajukan angga­ran belanja TNI agar dapat di­pe­nuhi oleh Kementerian Keuangan dan Bappenas.

Negara kini gencar-gencar­nya lakukan pemberantasan te­rorisme, tapi kiprah TNI tidak terlihat. Apakah memang se­lama ini tidak dilibatkan?

Saya rasa tidak seperti juga karena pada hakekatnya TNI sudah memiliki kesiapan untuk berkoordinasi dalam upaya pemberantasan terorisme. Se­cara tekniskan TNI memiliki satuan pasukan khusus anti teror yang kita kenal seperti pasukan pe­nanggulangan teror seperti Gultor yang kita tahu seperti Kopassus, Detasemen Bravo 90 dan Deta­semen Jala Mantara. Ini semua dapat dilibatkan dalam penanga­nan teroris di lapangan. Namun kesiapan TNI ini masih menuggu payung hukum yang jelas terkait dengan penanganan terorisme itu.

Apakah Anda setuju jika se­luruh pengamanan perairan di perbatasan diserahkan sepe­nuh­­nya kepada TNI?

Penjagaan dan penangkapan kapal milik asing saya kira belum cukup kalau hanya TNI AL saja walau pengamanan perairan di Indonesia ini memang fungsi khususnya ada di TNI AL. Tapi wilayah perairan kita kan luas dan ancaman yang dihadapi terus berkembang dan semakin kom­pleks. Karena itu menurut saya masih diperlukan dukungan pihak-pihak lain seperti kepoli­sian, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan instansi terkait lainnya dalam satu payung koordinasi yang cantik dalam mengamankan wilayah kita.

AS menyatakan embargo su­dah tidak berlaku, apa ini ke­sem­patan bagi kita untuk kem­bangkan alutsista?

Kita memiliki pelajaran khusus ya, ketika kita dulu selalu berpa­tokan pada negara barat seperti AS dan kemudian ada permasa­lahan yang cukup pelik sehingga kita diembargo. Itu merupakan pengalaman yang sungguh tidak menyenangkan. Oleh karena itu sesuai dengan strategi eksteral kita dalam memenuhi kelengka­pan alutsista, kita coba juga melihat ke negara-negara Timur seperti Rusia. [RM]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya