Berita

Wawancara

WAWANCARA

Taufik Kurniawan: Saya Pernah Lebaran di Pengungsian

SABTU, 11 SEPTEMBER 2010 | 07:03 WIB

Apa makna hari raya Idul Fitri menurut Anda?
Saya memaknai Idul Fitri itu kem­bali ke fitri. Semua umat mus­lim kembali ke fitri setelah se­lama satu bulan penuh diuji ke­tawakalannya kepada Allah SWT.

Berkaitan dengan hiruk-pikuk ke­hidupan politik di Tanah Air, sa­ya berharap  perbedaan pan­dangan diantara politisi dan se­mua lapisan masyakat tidak ber­ujung kepada putusnya tali sila­tuh­rahmi. Kita semua harus mem­berikan maaf antara satu dengan yang lain.

Semua para pemangku jabatan, entah sebagai anggota legislatif, kepala daerah, dan jabatan politik lainnya, harus menyadari bahwa urusan politik hanyalah urusan dunia semata.


Selain itu, semua pemangku ja­bat­an, termasuk saya harus me­nyadari, bahwa Allah tidak me­mandang umatnya dari jabatan dan kedudukan politiknya.

Dari refeleksi itu, saya kira se­mua akan menyadari betapa le­mah­nya manusia dihadapan Allah.  
Semoga saja setelah Idul Fitri, kehidupan berbangsa dan negara semakin baik.

Apakah Anda mudik Lebar­an tahun ini?
Mudik buat saya wajib. Biasa­nya, sebelum menjadi pimpinan dewan, H-1 saya sudah mudik ke ru­mah mertua di wonosobo. Pada perayaan  hari raya Idul Fitri saya pergi ke pemakaman pahlawan di Se­marang, untuk jiarah ke pe­ma­kaman bapak saya, lalu kemudian ke makan ibu.

Saya ini sudah yatim piatu se­jak tahun 1992. Oleh karena itu kalau ada yang kesulitan men­cari yayasan yatim piatu, ke saya saja, saya yatim piatu... he... he... he... doa anak yatim makbul lho.. he.. he..

Anda tentu sedih sudah tidak bisa merayakan hari raya Idul Fitri bersama orang tua?      
Saya sedih luar biasa, itu amat saya rasakan setiap malam tak­biran. Saya pasti mencucurkan air ma­ta, menagis. Karena saya mem­bayangkan, sudah tidak bisa lagi melakukan sungkeman pada hari raya Idul Fitri.

Saya merasa sudah tidak punya tempat lagi bersandar, untuk mem­peroleh bimbingan dari orang tua. Sekarang kalau sedang bim­bang, saya kembalikan ke Al Quran dan hadist. 

Anda memiliki pengalaman menarik ketika merayakan hari raya Idul Fitri?
Ada. Saya pernah mudik Le­bar­an pada H-1 hari raya Idul Fitri, dari Jakarta menuju Se­marang, sekitar tahun 80-an. Saat itu  orangtua saya masih ada. Ka­mi me­ngalami macet total, mobil ber­henti sehari semalam tidak ber­gerak sama sekali. Padahal bia­s­anya dari Jakarta ke Se­ma­rang, tidak perlu sampai sehari se­­malam di jalan.

Saya masih ingat betul, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ho­tel di pinggir jalan pe­nuh se­mua, makanan di wa­rung se­panjang jalan habis di bo­rong pe­mudik, toilet juga tidak ber­fungsi karena penuh. Sua­sana ketika itu mirip dengan dengan suasana pengungsian.

Saya tidak bisa mem­ba­yang­kan, bagaimana pemudik yang kena macet di tengah hutan. Si­tua­sinya mungkin lebih buruk dari yang saya alami.

Sampai hari raya Idul Fitri, kami masih diperjalanan. Kami ak­hirnya salat Ied di jalan. Ke­betulan, posisi kendaraan saya de­kat dengan lapangan yang men­g­gelar salat Ied.

Jadi fenomena macet itu sudah ada sejak tahun 80-an ya...
Iya sudah ada. Anehnya, perkembangan ruas jalan di jalur mudik perkembangannya tidak signifikan. Kebiasaan mudik memang kebiasaan tradisional yang sifatnya tahunan. Tetapi, saya kira kedepan pemerintah harus lebih siap mempersiapkan  jalan di jalur mudik agar tidak terjadi stagnasi seperti yang pernah saya alami.  

Itu pengalaman yang tidak menyenangkan. Anda punya pengalaman yang berkesan tetapi menyenangkan?
Tentu ada, saya sangat terkesan dengan Lebaran ketika masih kecil, saya takbiran keliling kam­pung sambil main macan go­ng­gong (meriam dari bambu).

 Saat kecil, saya ini tinggal di Pu­balingga, sehari sebelum le­baran, saya tidak pernah tidur sam­pai pagi. Saya nyalakan obor, tak­biran keliling kampung. Un­tuk menambah semarak suasana, kami main macan gong-gong.  Se­karang  permainan itu sudah tidak ada. Saya rindu ber­le­baran seperti itu.

Apa menu favorit Anda saat hari raya Idul Fitri?
Sama seperti orang ke­ba­nya­kan, saya suma makan ketupat dan  opor ayam. Tetapi makanan yang paling saya suka itu tempe. Dimana saja dan kapan saja, saya pasti mencari tempe... he.. he.. Nggak lengkap rasanya kalau makan tidak pakai tempe... he.. he..

Saat hari raya Idul Fitri, banyak masyarakat yang mem­bagi-bagi ampao. Apa ke­biasaan itu juga Anda lakukan?
Ada. Saya ini anak terakhir dari enam bersaudara. Sejak ke kecil sampai remaja, saya tidak pernah membagikan ampao karena saya yang mendapatkan saweran dari kakak-kakak saya...he..he..

Kalau sekarang, saya yang bagi-bagi ampao ke ponakan, he.. he..

Sebagai kader partai, apakah Anda Lebaran ke tokoh-tokoh senior di partai?
Biasanya, setiap hari Lebaran saya sempatkan diri mengunjungi tokoh tokoh senior di PAN seperti Amien Rais. Itu menjadi agenda rutin. Tetapi terus terang, saya le­bih banyak menghabiskan waktu Lebaran di kampung. Saya lebih senang kesempatan di hari Idul Fitri, saya gunakan untuk me­lakukan interopeksi diri. Karena itu, ketika sedang jiara ke makam orang tua, saya bisa dua sampai tiga jam di makam.

Apa yang ingin Anda sampai­kan kepada Masyarakat di kesempatan hari Idul Fitri?
Pertama, saya ingin di tengah– tengah kehidupan politik yang sangat tidak bisa diprediksi se­perti saat ini, saya berharap se­mua masyarakat, baik yang se­dang memangku jabatan mau­pun rakyat biasa melakukan refleksi, mela­kukan intropeksi diri agar bangsa dan negara kita bisa lebih baik.

Saya berharap kedepan, para pemimpin negara bisa bersikap lebih tegas dan menelurkan kebijakan yang pro rakyat.

Kepada masyarakat, saya berharap masyarakat bisa meng­hor­mati para pemimpin dengan baik. Masyarakat juga harus me­nyadari bahwa seorang pe­mim­pin tidak lepas dari kekurangan dan kelebihan. Saya menerima setiap masukan dan kritikan.

Masyarakat silakan mem­beri­kan masukan dan kritikan, dengan cara demontrasi pun tidak apa-apa. Tetapi saya ber­harap se­mua harus dilakukan dalam ko­ridor – koridor batas kesantunan.     

Dimata Anda, apakah kondi­si bangsa ini sudah sangat memprihatinkan?
Bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin mengajak masya­rakat melaksanakan demokrasi de­ngan baik. Saya yakin, de­monstrasi dan protes sudah ada sejak jaman Rasulluloh. Artinya protes boleh-boleh saja terjadi te­tapi saya harapkan jangan sam­pai mencaci maki pribadi dan menebar fitnah.

Sebagai bangsa dengan pen­duduk muslim terbesar di dunia, kita harus menunjukan sikap akhlak yang baik kepada dunia. Jangan sampai kita hanya se­ke­dar pemilik mayoritas umat mus­lim tetapi kita harus tun­jukan bahwa umat muslim di Indonesia juga memiliki mayo­ritas kualitas. n Srf

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya