RMOL. Apa makna hari raya Idul Fitri, menurut Anda?
Idul Fitri bagi saya, adalah kesempatan melakukan silatuhrahmi dan berbagi dengan semua orang. Ya, Alhamdulilah, setiap tahun saya punya kesempatan berbagi dengan anak yatim dan fakir miskin.
Sekarang Anda sibuk menjalankan tugas sebagai Ketua DPR, apakah masih sempat melakukan kegiatan, berbagi dengan anak yatim dan fakir miskin?
Setelah menjadi Ketua DPR aktivitas saya memang lebih padat. Tetapi saya tetap berusaha menyempatkan diri untuk berbagi dengan sesama. Apalagi memberikan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin itu sudah menjadi ritual tahunan. Saya berharap semua masyarakat yang memiliki rezeki lebih namun dililit kesibukan, bisa menyempatkan waktunya untuk berbagi dengan kaum yang kurang mampu. Sayang kalau hanya menuruti kesibukan saja, hari Idul Fitri kan datangnya hanya setahun sekali dan banyak kaum fakir miskin yang membutuhkan bantuan untuk keperluan merayakan hari Idul Fitri.
Alhamdulillah, bulan Ramadhan ini, saya sempat menyantuni anak yatim di berbagai daerah. Sayangnya sedih untuk hari raya Idul Fitri tahun ini saya tidak bisa membagikan ampao untuk anak-anak.
Kenapa memang?
Karena saya lebaran hari pertama di Jakarta. Tradisi bagi-bagi ampao itu biasa saya lakukan di kampung halaman saya di Palembang. Di kampung, di hari pertama hari raya Idul Fitri, usai salat Ied, semua warga kampung mulai dari orang tua sampai anak-anak semua berkeliling kampung dari rumah ke rumah. Karena kebetulan, orang tua saya adalah tokoh masyarakat, warga kampung yang mendatangi rumah saya. Saat itu, saya membagi-bagikan ampao sebagai untuk anak-anak kecil sebagai hadiah Lebaran. Saya tahun ini, hari pertama idul fitri berada di Jakarta.
Jadi Anda tidak mudik tahun ini?
Saya tetap mudik, tetapi tidak seperti orang-orang umumnya yang sudah pulang kampung sebelum hari Idul Fitri. Saya pulang kampung setelah lebaran di Jakarta. Bagaimana pun saya harus menyempatkan diri bertemu dengan orang tua dan keluarga besar di kampung. Terus terang saya ungkapkan, sepanjang umur saja, baru tahun ini saya lebaran hari pertama di luar kampung. Saya tidak bisa mengelak, karena di hari pertama, semua pimpinan lembaga negara dan pemerintah melakukan pertemuan silatuhrahmi di Istana Negara.
Anda tidak melakukan open house?
Saya membuka open house usai acara di Istana Negara selesai. Saya membuka pintu kepada siapa saja masyarakat yang ingin silatuhrahmi dengan saya.
Bagaimana perasaan Anda tidak bisa lebaran hari pertama di kampung?
Jujur saya katakan, saya kecewa pada hari pertama tidak bisa merayarakan hari Idul Fitri di kampung halaman. Lebih afdol, saya meminta maaf secara langsung, berlebaran kepada orang tua saya. Beliau sampai saat ini, alhamdulilah masih sehat. Saya ingin memberikan hadiah untuk kedua orang tua .
Selain itu, saya kebetulan sedang rindu dengan kampung halaman. Rasanya ingin cepat-cepat ada di kampung.
Saya merasa lebaran di kampung halaman jauh lebih menyenangkan daripada lebaran di Jakarta.
Apa yang membuat Anda begitu terkesan dengan Lebaran di kampung halaman?
Saya biasa berguyun dengan masyarakat kampung. Itu membuat saya berkesan, semua bisa bicara tanpa memadang status sosial. Itu tidak saya temukan di Jakarta.
Anda punya pengalaman menarik ketika merayakan Lebaran di kampung?
Ada. Saya sering dikibuli anak-anak setiap hari raya Idul Fitri. Seperti saya ceritakan, pada hari raya Idul Fitri saya sering memberikan hadiah untuk anak-anak berupa ampao. Ada beberapa anak yang bolak-balik lebaran dengan saya. Tujuannya agar dapat ampao. Tetapi saya maklum, namanya juga anak-anak. Pernah ada anak yang ketahuan, bolak-balik. Saya tegur, kok sudah lebaran, lebaran lagi. Anak itu, saya lihat malu.
Tahun ini tidak bisa bagi-bagi ampao dong...
Tahun ini mungkin hanya untuk saudara-saudara saja. Kecuali nanti ketika saya pulang kampung, anak-anak kecil masih keliling, mau tidak mau saya tetap harus siapkan...he..he.. Tetapi, kalau mereka tidak datang ke rumah saya, itu artinya bukan rejeki mereka.
Ada pengalaman menarik lain yang pernah Anda alami saat Lebaran?
Oh iya, ada. Di kampung saya ada tradisi doa bersama yang dilakukan secara bergantian usai melakukan ramah tamah. Ada kenangan yang menarik, ada tetangga saya, seorang polisi menganggap doa saya makbul. Setiap saya berkunjung ke rumahnya, dia meminta saya mendoakannya. Dia mengaku doa pertama saya membuat hidupnya berubah. Selain cepat naik pangkat, rezekinya bertambah. Tahun berikutnya, setelah saya doakan kembali, dia mengaku mampu membeli rumah dan mobil. Sejak itu, setiap Idul Fitri, tetangga saya itu selalu menunggu kedatangan saya.
Bagaimana Ramadhan tahun ini. Apakah ada perbedaan dengan tahun sebelumnya?
Tentu ada perbedaan yang saya rasakan. Ramadhan tahun ini, saya memiliki status dan jabatan berbeda dengan sebelumnya. Sekarang selain sebagai politisi, saya juga sebagai pimpinan lembaga negara.
Ramadhan tahun ini, saya memiliki pekerjaan baru. Saya banyak diminta mengisi ceramah agama di berbagai tempat, baik di Masjid dan instansi pemerintahan. Karena sering mengisi ceramah, mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid berguyon saya telah melebarkan sayap. Selain jadi politisi juga jadi dai.
[RM]