Berita

Wawancara

WAWANCARA

Frans Sunito: Orang Bayar Tol Bukan Untuk Bebas Macet

RABU, 08 SEPTEMBER 2010 | 05:58 WIB

RMOL. Untuk mengantisipasi tindakan kriminalitas yang marak terjadi di jalan tol, Jasa Marga operasikan 153 unit kamera CCTV dan menambah jumlah armada patroli untuk memantau keamanan di jalur mudik.Puncak mudik diprediksi ba­kal terjadi mulai H-5 sampai H-1. Jumlah pemudik dengan ken­­daraan pribadi tahun ini diperkirakan me­ningkat.

Kalau tahun lalu pe­­mu­dik dengan kendaraan pri­badi se­banyak 1.31 juta, tahun ini di­perki­rakan mencapai 1. 37 juta kendaraan atau naik sekitar 19 persen.

Jika prediksi tersebut tidak me­leset maka kemungkinan besar akan menambah semakin parahnya kemacetan jika tidak diantisipasi.


Bagaimana persiapan pe­ru­sa­haan pengelola jalan tol, PT Jasa marga, menghadapi mening­kat­nya jumlah pemudik? Apa yang dilakukan untuk mengurai kemacetan? Berikut wawancara Rakyat Mer­deka, dengan Direktur Jasa Marga (Persero) Frans Sunito.

Apa yang sudah dilakukan Jasa Marga untuk me­ning­katkan kenyamanan pemudik?
Kami sudah fokuskan proyek pe­lebaran dan perbaikan jalan tol yang digunakan untuk jalur mu­dik Lebaran. Jalan-jalan tol yang men­jadi perhatian adalah tol Jakarta-Cikampek dan tol Pali­man­an-Kanci. Penambahan di ja­lan tol Jakarta-Cikampek, berada di dua ruas. Pertama, pelebaran dari tiga lajur menjadi empat lajur be­rada pada ruas Cibitung hing­ga Ci­karang. Yang kedua, pe­nam­­bah­an juga terjadi di ruas IC Da­wuan hingga Cikampek, dari dua lajur menjadi tiga lajur. Un­tuk tol Palimanan-Kanci, per­baikan di­lakukan sepanjang 26,3 kilo­meter yaitu pemasangan be­ton di jalan. Kedua tol itu me­mang ha­rus di­per­hatikan karena ter­bilang pa­dat, apalagi saat arus mudik dan balik.

Apa yang dilakukan Jasa Marga dalam menjaga ke­aman­an pemudik?

Mulai H-7 hingga H+7 lebaran, kami mengoperasikan 153 unit kamera close circuit television (CCTV) yang tersebar di Medan, Surabaya, Semarang, Cikampek dan tol dalam kota. Kami juga memperbanyak petugas patroli jalan raya. Selain memberikan ke­amanan, petugas juga akan me­ngarahkan arus lalu lintas. Kami juga menambah volume armada layanan, seperti mobil patroli dan armada derek. Pokoknya, kami mengoptimalkan layanan.

Seberapa besar manfaat kamera CCTV itu?
Manfaat bukan hanya untuk pe­tugas, melainkan juga para pe­mudik. Mereka dapat mengetahui si­tuasi jalan tol terkini lewat ban­tuan kamera. Caranya, pe­nge­mudi tinggal meminta bantuan petugas Jasa Marga lewat telepon nomor 021-80880123. Setelah itu, pe­tu­gas yang memantau la­pangan melalui web live strea­ming di Ci­li­litan, Jakarta Timur, akan mene­rang­­kan­nya. Jika tidak ingin meminta in­formasi lewat telepon, pengguna ja­lan juga dapat mengakses CCTV me­lalui inter­net : www.jasamargalive.com atau m.jasamargalive.com.

Pemudik dengan motor cu­kup tinggi. Apakah mungkin mo­tor diperbolehkan masuk tol, mengingat jalan umum padat sekali?
Sayangnya tidak ada Undang-undang yang memperbolehkan kendaraan roda dua masuk tol. Yang boleh hanya di Jembatan Su­ramadu. Itupun karena per­untukannya dari awal memang didesain untuk lajur roda empat dan roda dua.

Terlepas dari aturan yang tidak ada, apakah Anda tidak ber­keinginan membantu pe­ngen­dara roda dua?
Jalan tol itu didesain untuk dilalui dengan ke­cepatan tinggi. Sangat berbahaya kalau ro­da dua diizinkan ma­­suk. Kita juga tidak bisa me­nye­diakan anggaran besar dan fasilitas khusus roda dua ha­nya untuk dipakai setahun sekali Lebaran. Biarlah roda empat di tol saja tanpa roda dua. Lagipula ma­salah macet ya itu tadi, ma­sa­lah­nya di pertumbuhan industri ken­da­raan yang tidak seimbang de­ngan pertumbuhan jalan.

Di luar persoalan mudik, bagaimana pandangan Anda terhadap carut marutnya ma­salah kemacetan?
Sebenarnya semua mudah, asal kita bisa duduk bersama dengan pi­kiran jernih, usulan konkrit dan berkemauan keras. Masalahnya sekarang, kita belum juga punya blue print dan action plan yang jelas dan tegas dari sistem trans­portasi nasional.

Menurut Anda, apa sih yang menjadi per­soalan mendasar?
Produksi mobil dan motor tum­buh belasan per­­sen dan ju­taan unit se­men­tara prasarana jalan ha­nya 0,01 per­sen. Jelas ini ma­sa­l­ah kom­pleks dan jalan tol tidak baik se­lalu disalahkan saat terjadi macet.

Anda tidak rela Jasa Marga disalahkan saat memang ter­jadi macet di jalan tol?

Jalan tol hanya sebagian kecil elemen dari sistem transportasi nasional. Kalaupun jalan tol mau di­perbanyak, kami selalu ter­kendala masalah pembebasan la­han yang lambat dan itu diluar ken­dali Jasa Marga yang seja­tinya ha­nya sebagai operator. Ka­l­au tanah bebas, jalan tol akan ce­pat ter­bangun. Sebab, kami me­miliki tek­nologi, tenaga, sumber da­ya, uang dan modal, dan se­mua­nya tidak tergantung lagi dengan pihak asing.

Persoalan utama itu menjadi tang­gung jawab pemerintah. Ka­mi hanya sebagai investor saja. Dalam aturan, semua tanah yang dibutuh­kan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk mem­bebaskan.

Bagaimana dengan ar­gu­men­tasi tarif tol naik terus tapi tetap saja macet?
Harus dipahami, orang bayar tol bukan untuk tidak macet tapi ja­lan tol dibiayai oleh investasi dan itu harus dikembalikan. Jadi, saya rasa tidak fair kalau ma­sya­rakat menuduh Jasa Marga atau jalan tol tidak becus mengurusi macet. Coba bayangkan, kalau nggak ada jalan tol mau ditaruh dimana mobil itu semua.

Bukannya Jasa Marga sudah untung kalau banyak mobil masuk jalan tol?
Anda kira kita senang tol penuh te­rus macet, nggak. Nggak pantes ki­ta menikmati kondisi yang ti­dak baik. Kalau tol macet total, pe­rusahaan tol juga tidak ber­tum­buh. Jujur, daripada macet, kita lebih senang kalau jalanan lancar. Kalau setiap macet Jasa marga ditunjuk, itu pertama salah dan kedua tidak menyelesaikan ma­sa­lah. Marilah kita jadi bangsa yang cerdas dan mau duduk ber­sama. Bahkan kalau perlu, jika ja­lan sudah tidak macet, Jasa Mar­ga atau jalan tol rela kok ditutup.

Jadi, Anda mendukung kon­sep jalan tol bukanlah so­lu­si uta­ma kemacetan?
Saya berpendapat, konsep jalan tol hanya untuk antarkota atau jalan lingkar suatu kota. Se­men­tara untuk pergerakan ma­nu­sia di se­buah kota, yang ter­optimal ada­lah transportasi mas­sal, misalnya busway. Bus­way se­ring kita musuhi karena di­ang­gap me­nye­babkan macet. Na­mun, saat ini, konsep busway itu yang terbaik. Saya pikir, jalan tol ataupun moda transportasi lain harus mampu memindahkan ma­nusia, bukan kendaraan.

Apa sesungguhnya ke­un­tu­ng­an pemerintah punya BUMN jalan tol?
Ya, membangun dan mengisi kemerdekaan dengan cara mem­bangun jalan tol di Indonesia. Masa membangun di negeri orang. Jadi, Jasa Marga me­nge­luarkan dana untuk investasi di dalam negeri yang sampai saat ini masih sangat kurang memiliki jalan tol.

Tentunya, dengan kami mem­bangun jalan tol di pusat eko­nomi, pemerintah akan di­untung­kan. Sebab, APBN bisa di­alihkan ke tempat lain, terutama di daerah yang pertumbuhan in­fras­truk­turnya relatif terbatas.

Jalan tol memang milik pem­e­rin­tah, tetapi kami yang me­na­namkan investasi dan me­ngem­bangkannya. Kecuali, kalau pe­merintah sudah punya banyak uang seperti Jerman yang semua ja­lan tolnya dibangun pemerintah.

Jasa Marga akan tetap fokus membangun tol di Indonesia?
Kami memang sangat konsen­trasi di dalam negeri. Kalau pun keluar, yang Jasa Marga jual ke­ah­lian kami. Misalnya di Bang­ladesh, jembatan yang melintasi sungai Yamuna ingin dijadikan jalan tol, kami tidak investasi tapi hanya menjual jasa atau keahlian.

Kalau kami investasi dengan membangun infrastruktur dan jalannya terbangun, tentunya akan membantu pertumbuhan ekonomi. Selain itu, akan terus tercipta lapangan kerja.  [RM]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya