Berita

Wawancara

WAWANCARA

Patrialis Akbar: Bambang Widjojanto & Busyro Muqoddas Belum Tentu Dipilih DPR Jadi Ketua KPK

SELASA, 07 SEPTEMBER 2010 | 03:59 WIB

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Patrialis Akbar mengatakan, Bambang Widjojanto atau Busyro Muqoddas belum tentu dipilih DPR menjadi Ketua KPK.

Pasalnya, penentuan calon Ke­tua KPK akan dikembalikan lagi pada DPR dengan mengikut­sertakan empat Wakil Ketua KPK, yakni Hayono Umar, M Jasin, Bibit Samad Rianto, dan Chandra Hamzah.

“DPR yang menentukan salah satu dari lima pimpinan KPK untuk dipilih menjadi Ketua KPK,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Jumat (3/9).


Berikut petikan selengkapnya:

Kenapa begitu ya?
Karena DPR yang menentu­kan siapa yang menjadi Ketua KPK. Jadi, tidak otomatis salah satu di­antara calon yang diajukan seka­rang ini menjadi Ketua KPK. 

Bukannya ini memilih peng­ganti Antasari Azhar?

Mencari pimpinan KPK. DPR yang menentukan.

Kalau begitu, kenapa lama se­kali Pansel untuk memilih dua orang saja?
Kita bekerja hampir 4 bulan saja.

Tapi kerjanya sampai tengah malam ya?
Ya, sampai tengah malam saat penentuan dua besar itu. Kalau nggak salah butuh lima jam.

Jadi cukup alot?
Ya, kan semua harus dinilai.

Ada perdebatan ya?
Pokoknya begini saja. Kita tidak usah bicara lagi mengenai masalah perbedaan. Pokoknya kesimpulannya yang lulus me­reka berdua.

Jadi penetapan keduanya ber­­dasar suara mufakat ya, tak ada voting?
Pokoknya saya tidak mau me­nyampaikan apakah musyawarah mufakat, bulat, atau tidak, karena itu juga nggak enak. Pokoknya itulah yang merupakan hasil akhir dari pembicaraan kami.

Kalau Presiden cepat menye­rahkan dua nama itu ke DPR?
Sebenarnya Presiden  punya waktu 14 hari. Tapi Presiden su­dah kirim, hanya dua hari saja di mejanya. Kami serahkan Jumat, Senin su­dah dikirim ke DPR.

Pansel menetapkan pengganti Antasari 4 tahun?
Kita sih terserah sajalah. Mana yang baiknya saja. Mau yang sampai habis masa jabatan seka­rang (2011) boleh, mau dikasi 4 tahun juga boleh. Kami hanya mengusulkan.

Berarti untuk pemilihan pim­pinan KPK berikutnya, peme­rin­tah hanya akan mencari 4 pimpinan KPK?
Ya, kalau setuju mencari em­pat, kalau tidak setuju, ya mencari lima.

Bagaimana kalau DPR tidak setuju  4 tahun?
Saya punya keyakinan bahwa kawan-kawan DPR itu juga nega­rawan. Jadi saya tidak mau cepat-cepat memberikan komentar se­perti itu. Saya yakinlah kawan-ka­wan DPR pasti lebih tahu untuk kepentingan bangsa ini. Jadi kita tidak usah bicara ma­salah diterima atau ditolak. Yang jelas kita sudah berusaha untuk memenuhi perintah Undang-undang. Masalah masa jabatan itu kan tidak jadi masalah betul. Yang paling penting bagaimana KPK ini bisa terisi.

Apa pertimbangannya ke­napa sampai 4 tahun?
Di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, masa jabatan pimpinan KPK itu kan 4 tahun. Dalam undang-undang itu juga kan tidak ada istilah pengisi pimpinan ko­song itu sampai habis masa jaba­tan, itu nggak ada. Yang ada adalah masa jabatan pimpinan KPK 4 tahun. Se­men­tara proses se­leksi yang kami la­ku­kan ini kan me­ngikuti perintah Undang-un­dang, se­hingga pe­ngisian calon pim­pinan KPK yang satu orang ini ya se­suai dengan ma­sa jabatan dalam Undang-undang itu, ya 4 tahun. Karena tidak ada Pengganti Antar Waktu (PAW) di dalam Undang-undang.

Walaupun undang-undang me­nyatakan itu adalah peng­gan­tian, bukankan sifatnya sama saja seperti PAW?
Tapi nggak ada calon peng­gan­ti itu nyatakan 1 tahun. Dalam Undang-undang itu juga tidak ada yang menyatakan sampai habis masa jabatannya. Jadi memang pasti ada perbe­daan interpretasi-interpretasi terhadap penafsiran Undang-undang. Itu akan kami bicarakan dengan DPR. Namun kami tidak mau memaksakan. Tapi untuk beri masukan, ya kita duduk bersama. Saya kira DPR dan pemerintah pasti misinya sama dalam pemilihan Ketua KPK.

Apa harapannya?
Kita berharap KPK ke depan lebih menggigit lagi. KPK ini banyak sekali pekerjaan ru­mah.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya