Berita

Wawancara

Sandiaga S Uno: Rela Kampanye Ke Seluruh Indonesia Demi Gagasan Ekonomi Lebih Baik

JUMAT, 03 SEPTEMBER 2010 | 00:29 WIB

RMOL.Sandiaga S Uno sudah santer disebut-sebut sebagai calon kuat Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Tapi orang muda terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes itu, tidak mau diungkit-ungkit soal pencalonan tersebut.

Bagi jebolan Wichita State University Amerika Serikat itu, yang paling utama dibicarakan adalah soal gagasan agar eko­nomi Indonesia lebih baik ke depan.

“Jadi targetnya bukan posisi Ketua Umum Kadin, tapi ingin me­wujudkan Indonesia yang lebih baik,’’ ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Kope­rasi itu, ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya dengan bekas Ketua Umum Him­punan Pengusaha Muda Indo­nesia (HIPMI) itu:

Berarti Anda ke daerah bu­kan berkampanye agar dipilih menjadi Ketua Umum Kadin?

Saya tidak mengatakan agar saya dipilih, tapi saya menawar­kan gagasan. Apa yang saya sam­paikan itu, disambut positif di 22 daerah yang sudah saya kun­jungi. Sebab, saya ketuk hati mereka. Alhamdulillah mereka menang­kap gagasan saya secara baik. Ini yang membuat saya senang.

Apa gagasannya itu? 

Antara lain keberpihakan ter­hadap UMKM. Sebab, ada 51 juta bergerak di bidang ini. 98 persen di antaranya usaha mikro yang lebih banyak informal. Ini yang perlu diperhatikan demi perbaikan ekonomi ke depan.

Anda melihat belum maksi­mal keberpihakan terhadap UMKM itu ya?  

Keberpihakan kebijakan terha­dap ekonomi rakyat ini belum adil. Padahal, ekonomi kita ini ditentukan di bidang ini.

Seharusnya pengusaha yang besar itu mengalah,  agar pengu­saha kecil itu bisa maju. Tapi yang terjadi sebaliknya, pengu­saha besar mendrive kebijakan ekonomi kita. Padahal, pengu­saha besar itu hanya 4.000-an orang, tentu ini tidak banyak di­banding yang bergelut di UMKM.  Ini yang saya jembatani dengan flatform baru ke depan.

Apakah Kadin sudah meng­ga­lakkan ini?

Sudah kita mulai 6 tahun lalu melalui suatu program keberpi­hakan Kadin terhadap UMKM. Sudah ada yang direspons peme­rintah, tapi belum maksimal. Makanya perlu terus digalakkan.

Bagaimana dengan pengusa­ha besar itu?

Ini juga harus berkembang, pola lingkar itu harus tetap ter­ja­lin. Artinya, pengusaha besar ja­lan, tapi pengusaha UMKM juga jalan. Usaha kecilnya itu bu­kan kendala tapi ikut men­dorong. Dengan begini ekonomi kita akan lebih hidup.

Ini tentunya akan memberikan lapangan kerja dan tentunya akan lebih banyak manfaat kepada komunitasnya. Sebab, dari mikro menjadi kecil, kecil menjadi me­nengah, menengah bisa menjadi besar.

Apa strategi mewujudkan itu?

Kuncinya ada tiga. Pertama, faktor pembiayaan. Kita sudah dorong penyediaan kredit agar mereka bisa survive. Kedua, sum­ber daya manusia. Akses SDM ini sangat penting untuk kita bersaing dan mampu mene­rapkan inovasi dan teknologi di UMKM. Kita harus rubah para­digma itu. SDM  harus kita ting­katkan dan dorong untuk meng­aplikasi teknologi terapan yang tepat untuk meningkatkan kinerja dan meningkatkan daya saing UMKM.

Ketiga,  kita harus memberikan akses mereka terhadap pasar, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Produk luar seperti  KFC dan MC Donald sa­ngat marak di Indonesia. Sudah saatnya kita setara,  kita dorong juga Ayam Goreng Suharti, rumah makan Padang Sederhana ada di luar negeri, terutama yang ba­nyak warga Indonesia, seperti di Hong Kong, Jepang, dan Belanda.

Apa sudah dilakukan?

Itu yang sekarang lagi kita lakukan. Dengan cara itu, kita bisa pertontonkan kepada etalase dunia. Bahwa Indonesia juga sanggup menciptakan brand-brand yang dikena,l bukan hanya dalam kapasitas nasional tapi juga kapasitas internasional.

Tapi apa bisa ini semua ter­wu­jud kalau infrastruktur tidak diperbaiki?

Betul, selain menciptakan iklim usaha yang kondusif, juga tersedianya pembangunan infra­struktur, penghapusan biaya ekonomi tinggi, penghapusan perdagangan-perdagangan yang selama ini tumpang tindih dengan peraturan pusat menghambat dunia usaha.

Bayangan saya untuk Indone­sia bisa maju dengan kemudahan maka usaha kita harus naik dari 122 menjadi 40 besar di dunia.

Iklim yang kondusif dan pembangunan infrastruktur kita sangat lemah sekali. Ekonomi kita sangat tidak efisien. Maka­nya perlu reformasi birokrasi.

Kira-kira berapa tahun bisa mendapatkan hasil signifikan?

Mungkin di akhir tahun 2020 kita sudah masuk 10 besar eko­nomi dunia. Jadi kita sudah bisa bangga melewati ekonomi Be­landa dan Portugal. Mungkin 2030 kita naik lagi menjadi eko­nomi terbesar nomor 7 di atas Inggris. Mudah-mudahan pada saat yang sama kita sudah berada di atas Jepang.

Ini berarti kemiskinan berku­rang dong?

Kemiskinan saya kira bisa di­turunkan di bawah angka 8 per­sen. Pengangguran bisa ku­rang di bawah 6 persen, inflasi  6 persen. Pertumbuhan ekonomi 6,7 per­sen. Dengan pilar itu, jelas eko­nomi kita bersaing dengan negara maju.

Apakah Anda punya konsep agar gernerasi muda punya minat buka usaha ketim­bang cari kerja?

Kami bekerja sama dengan Hipmi dan lembaga-lembaga lain untuk turun ke kampus, men­ceritakan bagaimana kesuk­sesan menjadi pengusaha. Pengu­saha bukan mencari kekayaan tapi mencari pencapaian.

Selain itu, pendidikan kita do­rong agar kurikulumnya lebih mengakomodir mata-mata kuliah yang berorientasi pada dunia usaha, yaitu lebih banyak praktek dan magang.

Kemudian merubah kultur yang senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Begitu ada yang sukses selalu diprasangka buruk, dan berupaya untuk dijatuhkan. Ini yang harus kita ubah.

Caranya?

Kalau ada wirausaha sukses, kita katakan, wah hebat ya dia. Kemudian harus dihilangkan juga soal rasa takut kepada risiko, dan takut pada kegagalan.

O ya, Anda tidak mau masuk parpol, padahal itu jembatan bisa menduduki jabatan ekse­kutif?

65 tahun Indonesia merdeka kita hanya mampu mencetak 400-an ribu pengusaha, berarti 0,18 persen dari total populasi. Pada­hal, minimum kita harus punya 5 juta pengusaha di Indo­nesia. Ini memperlihatkan minat elemen bangsa lebih cenderung ke politik ketimbang ke usaha. Jadi, ber­kai­tan dengan itu, untuk saat ini be­lum berpikir masuk parpol. [RM]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya