Berita

Wawancara

Jimly Asshiddiqie: Ada Tidaknya KPK Nggak Ngaruh, Jumlah Koruptor Semakin Banyak

MINGGU, 29 AGUSTUS 2010 | 00:57 WIB

RMOL.Jimly Asshiddiqie sebelumnya sudah menyatakan tidak masuk dua besar calon Ketua KPK gara-gara tidak bersedia menjadi Wakil Ketua KPK.

Tapi saat diwawancarai Rakyat Merdeka, Jumat (27/8), bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu mengaku, dirinya tidak terlalu memaksakan diri untuk mengejar jabatan Ketua KPK.

“Ya, nggak usah terlalu me­maksakan diri. Nggak dipilih, ya terima saja secara ikhlas. Berarti saya bukan orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Apa yang dilakukan Pansel sudah bagus,” katanya.

Berikut petikan selengkapnya:

Apa benar-benar ikhlas?

Ya sudahlah. Kita terima saja, kan panitia sudah bekerja mak­simal.

Anda lihat apakah ini sebuah kegagalan?

Ah, nggaklah. Justru ini kan prosesnya transparan. Iya kan. Kita terima saja, kita hormati ka­lau sudah diputuskan. Ya sudah nanti tinggal DPR yang akan me­mutuskannya. Kita harus biasa­kan kayak gitu. Mencari jabatan kan juga jangan terlalu memak­sakan diri.

Kecewa tidak dengan hasil ini karena gugur di tahap akhir?

Nggak. Nggak. Karena me­mang saya tidak mungkin kalau jadi wakil ketua, saya tidak ber­sedia. Ya itu saja. Terserah saja ka­lau mau ditulis di headline Rakyat Merdeka, he-he... Saya tidak bisa bohong dan tak mau juga bohong. Berdiplomasi-ber­diplomasi nggak bisa saya itu. Kalau ditanya bersedia nggak jadi wakil, nggak bersedia saya.

Emang kenapa nggak mau jadi Wakil Ketua KPK, apa gara-gara pernah menjadi Ke­tua MK?

Nggak ada kaitan­nya dengan itu. Saya tidak ber­sedia kalau jadi wakil. Jadi kalau itu ala­san­nya nggak apa-apa kan. Me­mang obyektif bahwa saya tidak mung­kin, ti­dak mau saya. Ka­lau saya di­tanya atau ber­se­dia jadi wakil ketua saja, ya saya mesti ja­wab dengan jujur bahwa saya tidak bersedia.

Pertanyaan itu dilontarkan  Syafi’i Maarif, Anda melihat­nya ini sebuah pertanyaan je­ba­kan?

Nggak. Itu bukan jebakan. Saya me­mang tidak mau kalau cuma jadi wakil ketua. Dan saya juga tidak boleh bohong pada diri saya sendiri kan.

Tapi di KPK kan kepemim­pi­nannya kolektif kolegial, Ke­tua dan Wakil Ketua sama ke­dudukannya?

Ya, saya tahu. Di MK juga be­gitu. MK juga kolektif kolegial dengan sembilan hakim.  Se­dang­kan di KPK hanya 5 orang. Sebe­narnya nggak ada yang khusus sebagai ketua. Misalnya buat sta­temen, itu kan statemen pri­badi, bukan statemen institusi. Kalau institusi itu di keputusan lem­baga, keputusan resmi.

Lalu mengapa nggak mau, apa ini strategi agar tidak di­pilih?

Nggak, saya sungguh-sung­guh kok. Begini, saya mau ya men­ja­di­kan jabatan itu bukan segala-galanya. Di zaman demo­krasi yang baru mekar begini, semua orang kan mengejar-ngejar jaba­tan, kalau nanti sudah dapat, ‘dikekep’ itu jabatan supaya jangan lepas. Apa saja dikerjakan untuk mendapatkan dan menjaga jabatan walaupun nanti sudah dapat, tapi nggak kerja apa-apa.

Jadi itu namanya kultur politik yang masih berkembang. Kultur politik seperti itu dalam demokrasi yang baru mekar. Nah saya itu ingin memperlihatkan nggak begitu jabatan itu. Datang dan pergi, itu ringan-ringan saja. Iya kan. Nggak dipercaya, loh ya mau diapain, ha-ha...Ya sudah, nggak apa-apa, gitu saja, nggak usah terlalu ngoyo.

Maksudnya?

Ya nggak usah terlalu memak­sakan diri, melakukan apa saja gitu loh. Ya kan, terima saja. Arti­nya orang belum melihat kita se­ba­gai yang tepat untuk pekerjaan itu. Terima saja secara ikhlas, itu sudah bagus.

Apa masih berminat men­daf­tar calon Ketua KPK perio­de berikutnya?

Nggak. Saya kan  cuma bermi­nat untuk satu tahun ini. Satu tahun kalau nanti sudah beres, terserah selanjutnya kan, mau dipilih lagi boleh, nggak ya apa-apa. Tapi sekarang nggak dipilih, ya sudah.

Terhadap dua calon yang lolos bagaimana pendapanya?

Dua-duanya bagus. Saya rasa tidak sulit bagi DPR untuk me­milihnya.

O ya, apa harapannya untuk pemberantasan korupsi?

Ya kita berharap supaya lebih baik. Supaya korupsi lebih efektif diberantasnya, tidak seperti se­lama ini. Ada KPK, nggak ada KPK kan nggak ada pengaruhnya apa-apa. Jumlah koruptornya tam­bah banyak, ha-ha-ha. Itu artinya ada yang kurang tepat cara kita memberantasnya selama ini. Tapi saya rasa dengan sudah dipilih (Ketua KPK nanti), ya kan, ini memberi kesempatan kita untuk berharap ada perbaikan. [RM]


Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Penyegelan Tiffany & Co jadi Pesan Tegas ke Pelaku Usaha yang Curang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:57

Istri Mantan Kapolres Bima Kota Turut Diperiksa soal Kepemilikan Narkoba

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:36

Dokter Diaspora Kenang Kisah Bersama PDIP saat Bencana Sumatera

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:19

Kepala BGN Hingga Puluhan Perwira Polri Peroleh Bintang Jasa dari Prabowo

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:57

Sekjen PDIP: Bencana adalah Teguran Akibat Kebijakan yang Salah

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:32

Garda Satu Papua Barat Tempuh Jalur Hukum Atasi Aksi Premanisme

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:10

Kerry Riza Chalid Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp13,4 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:01

Legislator Demokrat Jakarta Pimpin Kader Ziarahi Makam Misan Syamsuri

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:54

Polisi Tangkap Warga Malaysia Pengedar Narkoba Senilai Rp39,8 Miliar

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:28

BPKH Dorong Peningkatan Diplomasi Ekonomi ke Arab Saudi

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:07

Selengkapnya