Berita

Wawancara

WAWANCARA

Ito Sumardi: Kami Telah Latihan Tembak-menembak, Berarti Siap Hadapi Penjahat Berpistol

RABU, 25 AGUSTUS 2010 | 01:10 WIB

RMOL. Kejahatan menjelang lebaran kian marak. Pelakunya segerombolan dengan menggunakan senjata api. Tak segan-segan membunuh aparat polisi.     Misalnya saja, perampok di Bank CIMB Niaga, Medan, Sumatera Utara, Rabu (18/8) yang menewaskan seorang polisi.

Kemudian perampokan deng­an senjata api juga terjadi di  Kota­bumi Utara (Lampung Utara), perampokan terhadap dua karya­wan Telkom di Kampung Bandan, Pademangan, Jumat (20/8), dan sederet perampokan lainnya.

Menanggapi hal itu, Kabares­krim Mabes Polri, Komjen Ito Sumardi mengatakan, pihaknya telah me­lakukan langkah-lang­kah preven­tif untuk menanggu­langi peram­pokan bersenjata api menghadapi lebaran Idul Fitri.


Bahkan, polisi tidak ragu me­lumpuhkan penjahat berpistol yang dapat mengancam kesela­ma­tan masyarakat.

“Melumpuhkan ini kan bisa terluka atau bisa juga mati,” kata­nya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Belakangan ini perampokan menggunakan senjata api ma­kin marak, komentarnya ?
Kejahatan dengan kekerasan itu setiap tahun menjelang leba­ran pasti meningkat. Cuma feno­mena saat ini agak berbeda. Se­bab,  banyak menggunakan sen­jata api secara profesional dan terencana dengan baik.

Apakah Polri telah siapkan strategi pencegahan ?
Ya dong. Makanya Pak Kapolri telah mengumpulkan kita, para pejabat terkait untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Mes­kipun dalam operasi ’Ketupat’ telah digelar, cuma mungkin lang­kah-langkah yang harus kita lakukan harus disesuaikan deng­an modus operandi yang terjadi.

Maksudnya ?
Salah satu televisi telah me­nyiar­kan ada latihan tembak-tem­bakan untuk para personel kita. Itu menunjukkan bahwa anggota kita telah siap. Jadi kita harus menciptakan di jajaran untuk me­ningkatkan patroli maupun clean reserse pada tempat-tempat seperti itu (Bank dan pertokoan, red). Cuma kita berharap masya­rakat memberikan informasi dan juga sama–sama menjaga ling­kungan kita karena kekuatan polisi  tidak memadai.

Apakah maraknya peram­po­kan itu berkaitan dengan suk­sesi kepemimpinan di Polri ?
Nggaklah. Sama sekali tak ada kaitannya.

Kenapa Polri tak mampu me­nga­tasinya ?
Begini ya, perampokan di Me­dan, misalnya, institusi kepolisian  hanya bisa mengamankan bank itu dengan satu anggota ditambah satpam. Satu anggota itu kalau namanya perampokan lebih dari 10 orang kan kewalahan juga, tidak mampu juga kita kan. Jadi kita tidak mungkin bisa beri per­lawanan yang sengit. Maka­nya yang paling ideal adalah bagai­mana mengupayakan lagi atau menggiatkan kembali yang nama­nya clean reserse dan pa­troli. Jadi paling tidak, kalau ada kejadian seperti ini lagi bisa memberi bantuan.

Apa ada instruksi khusus  me­nembak di tempat para pelaku kejahatan bersenjata api ?
Yang jelas kalau di dalam pe­negakan hukum, Polri kan telah punya mekanisme dan prosedur­nya. Jadi protapnya itu sudah ada. Kalau seperti pelaku perampokan yang menggunakan senjata yang membahayakan masyarakat dan melawan petugas, ya kita akan bertindak tegas.

Sikap tegas itu seperti apa ?
Ya melumpuhkan. Melumpuh­kan ini kan bisa dia terluka atau bisa juga mati. Tapi yang dilaku­kan itu harus sesuai dengan pro­sedur dan situasi saat itu.

O ya, pelaku perampokan di Medan sebanyak 16 orang deng­­an terlatih menggunakan senjata api, apakah ini sindikat atau mafia ?
Kejahatan itu kan berkembang sejalan dengan perkembangan dinamika masyarakat. Makanya kejahatan ada yang sifatnya kon­ven­sional dan ada juga yang sifatnya trans nasional.

Nah yang sekarang ini sudah trans nasional, latar belakangnya bisa bermacam-macam, bukan hanya kejahatan konvensional. Kalau konvensional sampai ka­pan­pun tetap sama seperti copet, jambret, seperti itu.

Kalau kejahatan trans nasio­nal kayak apa ?
Dalam ilmu hukum krimino­logi, orang-orang yang melaku­kan kejahatan itu pasti akan me­mikirkan antara resiko dengan hasil yang diperoleh. Kalau resi­konya sama, sementara yang satu hasilnya cuma sedikit, kenapa ti­dak coba ambil yang hasilnya lebih besar. Sedangkan ada yang namanya proses pembelajaran. Selama ketemu teman-temannya, bisa di  lembaga pemasyarakatan, itu kan bisa melakukan proses pembelajaran, terutama residivis-residivis.

Jadi mereka profesional ka­rena pengaruh lingkungan ?
Kita sulit mengetahui bagai­mana keinginan seseorang. Kan tergantung juga dari individunya, mungkin dia telah sadar begitu berada di lembaga pemasyara­katan, tapi begitu kembali ke ma­syarakat karena dia tidak punya pemasukan, tidak punya duit, akhirnya kumat lagi.

Ngomong-ngomong, kenapa sampai senjata api begitu ba­nyak di tangan penjahat ?
Negara kita ini kan sangat luas, sehingga nggak bisa terawasi se­muanya. Jadi agak sulitlah karena senjata api itu kan bisa diselun­dupkan dari daerah-daer­ah, bisa juga dari luar negeri, atau mung­kin juga bisa dari sisa-sisa per­golakan di satu daerah. Jadi kita nggak tahu tapi nanti kita akan lihatlah.

Tapi sudah ada langkah-lang­kah kan ?
Ya, pastilah ada langkah-lang­­kah. Kami akan lakukan sesuatu.   [RM]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya