RMOL. Kejahatan menjelang lebaran kian marak. Pelakunya segerombolan dengan menggunakan senjata api. Tak segan-segan membunuh aparat polisi. Misalnya saja, perampok di Bank CIMB Niaga, Medan, Sumatera Utara, Rabu (18/8) yang menewaskan seorang polisi.
Kemudian perampokan dengan senjata api juga terjadi di Kotabumi Utara (Lampung Utara), perampokan terhadap dua karyawan Telkom di Kampung Bandan, Pademangan, Jumat (20/8), dan sederet perampokan lainnya.
Menanggapi hal itu, Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Ito Sumardi mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah preventif untuk menanggulangi perampokan bersenjata api menghadapi lebaran Idul Fitri.
Bahkan, polisi tidak ragu melumpuhkan penjahat berpistol yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.
“Melumpuhkan ini kan bisa terluka atau bisa juga mati,” katanya kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Belakangan ini perampokan menggunakan senjata api makin marak, komentarnya ?
Kejahatan dengan kekerasan itu setiap tahun menjelang lebaran pasti meningkat. Cuma fenomena saat ini agak berbeda. Sebab, banyak menggunakan senjata api secara profesional dan terencana dengan baik.
Apakah Polri telah siapkan strategi pencegahan ?
Ya dong. Makanya Pak Kapolri telah mengumpulkan kita, para pejabat terkait untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Meskipun dalam operasi ’Ketupat’ telah digelar, cuma mungkin langkah-langkah yang harus kita lakukan harus disesuaikan dengan modus operandi yang terjadi.
Maksudnya ?
Salah satu televisi telah menyiarkan ada latihan tembak-tembakan untuk para personel kita. Itu menunjukkan bahwa anggota kita telah siap. Jadi kita harus menciptakan di jajaran untuk meningkatkan patroli maupun
clean reserse pada tempat-tempat seperti itu (Bank dan pertokoan, red). Cuma kita berharap masyarakat memberikan informasi dan juga sama–sama menjaga lingkungan kita karena kekuatan polisi tidak memadai.
Apakah maraknya perampokan itu berkaitan dengan suksesi kepemimpinan di Polri ?
Nggaklah. Sama sekali tak ada kaitannya.
Kenapa Polri tak mampu mengatasinya ?
Begini ya, perampokan di Medan, misalnya, institusi kepolisian hanya bisa mengamankan bank itu dengan satu anggota ditambah satpam. Satu anggota itu kalau namanya perampokan lebih dari 10 orang kan kewalahan juga, tidak mampu juga kita kan. Jadi kita tidak mungkin bisa beri perlawanan yang sengit. Makanya yang paling ideal adalah bagaimana mengupayakan lagi atau menggiatkan kembali yang namanya
clean reserse dan patroli. Jadi paling tidak, kalau ada kejadian seperti ini lagi bisa memberi bantuan.
Apa ada instruksi khusus menembak di tempat para pelaku kejahatan bersenjata api ?
Yang jelas kalau di dalam penegakan hukum, Polri kan telah punya mekanisme dan prosedurnya. Jadi protapnya itu sudah ada. Kalau seperti pelaku perampokan yang menggunakan senjata yang membahayakan masyarakat dan melawan petugas, ya kita akan bertindak tegas.
Sikap tegas itu seperti apa ?
Ya melumpuhkan. Melumpuhkan ini kan bisa dia terluka atau bisa juga mati. Tapi yang dilakukan itu harus sesuai dengan prosedur dan situasi saat itu.
O ya, pelaku perampokan di Medan sebanyak 16 orang dengan terlatih menggunakan senjata api, apakah ini sindikat atau mafia ?
Kejahatan itu kan berkembang sejalan dengan perkembangan dinamika masyarakat. Makanya kejahatan ada yang sifatnya konvensional dan ada juga yang sifatnya trans nasional.
Nah yang sekarang ini sudah trans nasional, latar belakangnya bisa bermacam-macam, bukan hanya kejahatan konvensional. Kalau konvensional sampai kapanpun tetap sama seperti copet, jambret, seperti itu.
Kalau kejahatan trans nasional kayak apa ?
Dalam ilmu hukum kriminologi, orang-orang yang melakukan kejahatan itu pasti akan memikirkan antara resiko dengan hasil yang diperoleh. Kalau resikonya sama, sementara yang satu hasilnya cuma sedikit, kenapa tidak coba ambil yang hasilnya lebih besar. Sedangkan ada yang namanya proses pembelajaran. Selama ketemu teman-temannya, bisa di lembaga pemasyarakatan, itu kan bisa melakukan proses pembelajaran, terutama residivis-residivis.
Jadi mereka profesional karena pengaruh lingkungan ?
Kita sulit mengetahui bagaimana keinginan seseorang. Kan tergantung juga dari individunya, mungkin dia telah sadar begitu berada di lembaga pemasyarakatan, tapi begitu kembali ke masyarakat karena dia tidak punya pemasukan, tidak punya duit, akhirnya kumat lagi.
Ngomong-ngomong, kenapa sampai senjata api begitu banyak di tangan penjahat ?
Negara kita ini kan sangat luas, sehingga nggak bisa terawasi semuanya. Jadi agak sulitlah karena senjata api itu kan bisa diselundupkan dari daerah-daerah, bisa juga dari luar negeri, atau mungkin juga bisa dari sisa-sisa pergolakan di satu daerah. Jadi kita nggak tahu tapi nanti kita akan lihatlah.
Tapi sudah ada langkah-langkah kan ?
Ya, pastilah ada langkah-langkah. Kami akan lakukan sesuatu.
[RM]