RMOL. Agus Harimurti Yudhoyono dianggap punya bekal cukup untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. Dia tak hanya berwawasan luas dan cerdas, tapi juga santun. Berikut petikan dialog dengan putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.
Di Indonesia hanya ada 0,18 persen pengusaha, padahal, agar negara stabil, idealnya minimal dua persen. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin dan itu terkait dengan biaya birokrasi. Bagaimana mengatasinya?
Bagaimana mengatasi birokrasi karena birokrasi itu mahal dan kadang-kadang tidak worth it, artinya begitu panjang, begitu mahal untuk sebuah produk ataupun outcome yang tidak sepadan dengan efforts. Mungkin ya, artinya kita masih harus kerja keras untuk mencapai lebih angka ideal tersebut.
Saya sependapat bahwa sebetulnya tidak hanya di Indonesia tapi negara-negara berkembang lainnya masih mengalami permasalahan mendasar dengan birokrasi. Artinya, birokrasi itu ‘kan dibuat sebetulnya untuk mempermudah. Tapi kadang-kadang, ada komentar kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah. Tapi saya pikir seloroh-seloroh ini mudah-mudahan bisa membawa kita untuk menyadari hal itu.
Sebetulnya birokrasi dibuat untuk mempermudah urusan, untuk mempermudah dalam pengambilan keputusan, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, saya lihat pemerintah terus melanjutkan efforts mereka dalam melakukan reformasi birokrasi. Memang tidak mudah. Jangankan mengurusi satu Indonesia, saya sebagai komandan pleton saja harus mengurusi 37 orang ternyata rumit juga. Ada yang maunya begini, ada yang maunya begitu. Ada yang sudah tua, ada yang masih muda. Ya, macam-macam. Ada yang inginnya cepat, ada yang inginnya berproses. Tetapi paling tidak kalau mentalitas ini bisa kita tularkan dari lingkungan terdekat kita, memang kelihatannya kapan sampainya begitu? Tapi saya selalu punya pendapat ataupun prinsip yang saya pegang,
“think big, do small, do know.’’
Jadi?
Kita tahu birokrasi harus diperbaiki, di-
reform secara menyeluruh, tetapi tidak bisa kita sampai ke sana tanpa melalui proses yang panjang dan tanpa diawali hal-hal yang kecil. Dan kapan mulainya? Sekarang Kalau kita punya kepedulian itu, dilingkungan kita bekerja, di lingkungan masyarakat kita. Kita sudah mulai mengenalkan itu. Memperkenalkan itu dan mudah-mudahan etiket menjadi value yang dipedomani oleh masing-masing orang. Dengan demikian kedepan kita tidak lagi mendengar masalah birokrasi yang begitu mahal, hingga kita tidak bisa berusaha dengan baik. Tetapi ada beberapa terobosan yang saya tahu.
Mudah-mudahan dengan inisiatif-inisiatif semacam itu dan dilakukan di seluruh bidang, termasuk di bidang properti, itu akan mengurangi jumlah ataupun durasi waktu memulai usaha ataupun bisnis. Dengan demikian akan ada
trust building di antara para calon investor sehingga mereka yakin investasi yang mereka bawa ke Indonesia betul-betul bisa terwujud.
Bottom-line-nya adalah awali itu dari kita sendiri, baru kita bisa lebih baik ke depan. Karena memang, kalau berpikir secara menyeluruh, kadang-kadang
top leadership sudah punya
policy tapi
stag di mana kita tidak tahu. Ada distorsi di tengah-tengahnya, ada deviasi dalam sebuah kebijakan. Jadi, itu wajar dalam proses demokratisasi.
Munculnya konflik antarinstitusi, misalnya Polri dengan KPK, menimbulkan ketidakpercayaan di kalangan masyarakat. Menurut Anda, kepemimpinan seperti apa yang diperlukan rakyat?
Kita perlu melihat secara objektif. Kita harus duduk bersama dan cari solusinya sebelum dilempar ke media, sebelum itu dilempar ke publik. Berikan pelajaran yang baik kepada publik. Itu saran saya. Karena, kita semuanya dalam tahap proses belajar, kasihan jika masyarakat disuguhi cuplikan-cuplikan ataupun penggalan-penggalan yang sifatnya hanya
clash ataupun konflik. Jadi, pemimpin yang baik tentunya yang mengerti masalah, yang memiliki kapasitas, yang memiliki karakter, sehingga ketika adanya suatu insiden ataupun suatu permasalahan dia bisa menyelesaikan. Kemudian dia juga melihatnya secara utuh, untuk sama-sama mencari solusinya. Kita ini pada dasarnya adalah bangsa ataupun masyarakat yang senang bermusyawarah. Marilah kita kembali bermusyawarah sebelum kita lihat adanya kekerasan-kekerasan yang tidak perlu.
Mentalitas kita kebanyakan adalah mentalitas meminta kerjaan atau kemudahan. Mentalitas mencipta belum tumbuh. Bagaimana mengubah keadaan ini?
Kita harus mencari keunikan supaya kita beda dari yang lain dulu. Pertama kita beda dulu. Beda itu tidak cukup, tetapi dengan beda dan unggul. Beda yang unggul, begitu. Misalnya, kita punya sektor
tourism yang sangat potensial di negara kita, Bali, Danau Toba, Sulawesi, Kalimantan, dan sebagainya, tapi negara lain juga punya sektor tourism yang baik.
Nah, unggulnya bagaimana? Tentunya dengan menyiapkan berbagai sarana pendukungnya. Ada yang dinamakan
cluster economy.
Artinya? Kebetulan waktu itu ada Prof Michael Porter ikut mengajar saya. Beliau menyampaikan dua jam khusus berbicara tentang Indonesia; tentang “Competitiveness of Macroeconomics: Special Case Indonesia”. Dia melihat sebetulnya Indonesia memiliki peluang yang besar di samping tadi sumber daya alam tetapi juga hal-hal lain yang unik sebetulnya.
Di beberapa negara tingkat kriminalitas bisa ditekan dengan problem solving di bidang properti. Malaysia, terlebih lagi Singapura, mengharuskan rakyatnya harus punya rumah. Bagaimana sikap kita ke depan agar Indonesia lebih baik?
Keamanan dalam konteks ‘K’ besar, ‘S’ besar atau
Security itu adalah
national security artinya tugas TNI di dalamnya. Tapi kalau ‘k’ kecil keamanan kecil, ketertiban masyarakat, itu adalah tugas polisi. Tapi saya pikir, ini menyangkut kedua-keduanya. Tapi mungkin yang paling dekat adalah ‘k’ kecil, di mana terjadinya bisa mengakibatkan kriminalitas dan lain sebagainya.
Saya sependapat bahwa pemenuhan kebutuhan dasar itu menjadi parameter, barometer tingkat
civilization sebuah bangsa. Artinya sangat luas, cakupannya termasuk ekonomi di dalamnya. Kalau masyarakat sebuah negara sudah terpenuhi sandang, pangan, dan papannya, maka tentunya dia akan sudah keluar dari konteks kebutuhan dasar tadi itu.
Bagaimana kita mau baik kalau tidurnya di bawah jembatan ataupun kalau punya rumah suatu keluarga ada banyak sekali anaknya tidurnya sampai berjajar-jajar, ada yang di depan pintu ada yang kelewatan depan lemari ada yang segala macam. Kamar mandinya tidak ada, di luar langsung ke kali. Itu memprihatinkan.
Artinya, membangun bangsa, membangun generasi kita, tentunya harus berawal dari rumah. Kita selalu bilang bahwa “rumahku adalah istanaku”.
Bagaimana pandangan Anda untuk mewujudkan angkatan bersenjata yang punya andil menjadikan Indonesia sebuah bangsa yang disegani?
Dalam menyiapkan angkatan bersenjata kita untuk memperkuat instrumen pertahanan, kita harus mandiri. Kita pernah mengalami masa-masa kelam ketika kita diembargo Amerika Serikat. Karena kita dianggap melanggar HAM, Pemerintah Amerika menyetop semua penjualan senjata alutista ke Indonesia. Akhirnya, barang-barang yang kita punya, senjata, pesawat, tank, dsb, menjadi usang.
Saat ini kita belum memiliki teknologi yang cukup untuk melengkapi itu semua. Tapi, saya juga tidak mengatakan bahwa itu tidak ada sama sekali. Kita memiliki Pindad, kita punya PAL, Dirgantara Indonesia, dan Dahana. Kalau kita serius merevitalisasi industri-industri ini, tentu ada harapan untuk kita bisa menuju kemandirian tadi.
Yang kedua, kalau ini kita
support dengan
financial support mechanism yang pas begitu atau yang sesuai, maka mereka akan tumbuh. Jadi ada divisi Litbang bukan menjadi divisi yang sulit berkembang. Artinya, benar-benar penelitian pengembangan
research and development. Betul-betul mereka bisa mewadahi para
researcher kita yang jago-jago.
[RM]