Berita

Wawancara

WAWANCARA

Rachmawati Soekarnoputri: Dulu Selalu Mengkritik Mega Kini Seirama Mengkritik SBY

SENIN, 09 AGUSTUS 2010 | 05:54 WIB

RMOL. Rachmawati Soekarnoputri tampaknya sudah akur dengan kakaknya, Megawati Soekarnoputri. Kalau selama ini, apa saja yang dikatakan Mega selalu dikritik Rachma.

Tapi kini sudah berbeda. Kedua­nya sepakat soal berbagai kritikan Mega ke pemerintahan, terutama soal konversi minyak tanah ke gas elpiji.

Bahkan, bekas anggota Dewan Pertim­bangan Presiden (Wantim­pres) itu mengundang Mega untuk hadir dalam peresmian Mo­­numen Bung Karno di Uni­versitas Bung Karno (UBK), Jakarta, 17 Agustus mendatang.


“Mega dan seluruh saudara saya undang. Saya berharap semua saudara saya itu bisa hadir dalam peresmian Monumen Bung Karno itu,’’ ujar bekas Ke­tua Umum Partai Pelopor, Rach­ma­wati Soekarnoputri, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:   

Ketua Umum PDIP Mega­wati Soekarnoputri mengkritik peme­rintahan SBY, bagaimana komen­tarnya ?
Saya kira dalam beberapa hal, apa yang dikatakan Mega betul. Misalnya saja soal elpiji. Kita sen­diri sudah melihat efek dari konversi minyak tanah ke gas itu. Kelihatannya menurut penilaian saya, pemerintah kurang per­siapan.

Kenapa bilang begitu?
Saya lihat ada kesan tergesa-gesa memberlakukan konsep (konversi minyak tanah ke gas) itu. Kelihatannya masalah teknis penanganan dan sosialisasi juga kurang matang. Jadi, ini kelalaian pemerintah.

Seharusnya apa yang dilaku­kan?
Niat untuk melakukan konversi tersebut tujuannya mungkin baik untuk menekan subsidi minyak tanah. Tetapi dalam memberla­kukan suatu kebijakan itu harus dipikirkan jauh-jauh hari dan matang. Kemudian dipikir­kan juga bagaimana segi teknis untuk mengurangi atau menekan keru­gian masyarakat.

Jadi, kalau saya lihat  kritikan Mega itu nggak ada salahnya, ka­rena kejadiannya memang betul begitu.

Apakah Anda setuju keputu­san pemerintah terkait kon­versi tersebut?
Ya, tapi kan pada waktu itu alasannya untuk mengurangi sub­sidi minyak tanah. Menurut pemra­karsanya pemakaian mi­nyak tanah tidak praktis. Ya, oke-oke saja. Tapi dalam implemen­tasinya harusnya jauh-jauh hari sudah siap mengantisipasi dari segala masalah teknis. Tabung­nya harus dipikirkan, dan segi keamanannya juga dong.

Selama ini Anda selalu kon­tra dengan Mega, tetapi kri­tikan Mega kali ini kenapa seirama?
Saya kira setuju saja. Sebab, soal elpiji itu memang kenya­taan­nya membawa bencana. Ini tidak bisa diatasi pemerintah. Bukti­nya, selalu saja gas elpiji mele­dak, sehingga rakyat di­rugi­kan.

Berarti hubungan deng­an Mega semakin membaik dong?
Ya, biasa-biasa saja. Kalau saya kan independen dari awal­nya. Jadi, dalam beberapa hal me­mang kurang serasi.

Misalnya apa saja yang ku­rang serasi itu?
Ah, nggak usah diceritain se­muanya.

Kalau kritikan Anda ke SBY apa ya?
Wah banyak. Misalnya, soal kema­cetan, masalah konversi gas, masalah BBM, masalah lis­trik, masalah Century, dan masih banyak lagi deh. Jujur saja ya, dalam penegakan hukum, raport­nya masih merah.

 Kenapa selama ini nggak di­gaungkan kritikannya itu?
Saya kira kita selalu kritis. Sebab, sejak Partai Pelopor di­dirikan sikap kritis itu sudah ada. Saya selaku Ketua Umum tentu wajib melakukan kritikan demi perbaikan nasib rakyat.

O ya, kalau hubungannya su­dah membaik dengan Mega, apakah ada niat duduk ber­dam­pingan mengikuti peri­nga­­tan 17 Agustus men­da­tang?
Kalau 17 Agustus saya ada ren­cana di kampus Universitas Bung Karno (UBK) untuk meres­mikan monumen Bung Karno yang memang sudah tertunda hampir tiga tahun ini. Sebab, pada waktu itu saya Wantimpres. Tapi karena sudah selesai jaba­tannya, saya wujudkan aspirasi dari akade­mika untuk memba­ngun monu­men Bung Karno. Jadi 17 Agus­tus nanti sekaligus meresmikan patung Bung Karno di kampus UBK.

Jadi, nggak ke Istana dong?
Merayakan 17 Agustus itu kan tidak harus di Istana, bisa di mana saja, termasuk di Kampus UBK. Apalagi saya meresmikan monu­men Bung Karno, sang prokla­mator. 

O ya, siapa saja yang diun­dang ke peresmian monumen itu?
Semua pihak keluarga, bebe­rapa tokoh, dan semua handai tolan. Artinya kita ini melakukan kegiatan peringatan 17 Agustus ini sebagai warga negara masya­rakat.

Apakah Mega diundang juga?

Ya dong, diundanglah, semua keluarga kita undang.

Apa  Mega akan hadir?
Mudah-mudahan hadir. Saya belum mendapat konfirmasi. Tapi harapan saya semua saudara-saudara saya bisa hadir.  [RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya