Berita

Wawancara

WAWANCARA

Ahmad Syafi’i Maarif: Jangan Berprasangka Buruk, Saat Itu Saya Pergi Ke Eropa

RABU, 04 AGUSTUS 2010 | 08:15 WIB

Jakarta, RMOL. Spekulasi menyeruak begitu Ahmad Syafi’i Maarif tidak ikut menentukan 12 besar calon Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ada yang menilai, bekas Ketua Umum PP Muhammadiyah itu tidak ikut karena ada permasa­lahan di internal Panitia Seleksi (Pansel), terutama menyangkut siapa yang masuk 12 besar.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Patrialis Akbar memang sudah memban­tah bahwa tidak ada permasala­han di internal Pansel, sehingga Syafi’i Maafif tidak bisa hadir saat rapat Jumat malam (30/7) hingga Sabtu dini hari.

“Beliau  sudah bilang ada ke­per­luan. Beliau sudah izin kok. Jadi, tidak ada masalah,’’ kata Patrialis.

Namun begitu, sebelum ada per­nyataan dari Syafi’i Maarif tentu tetap saja menimbulkan spe­kulasi macam-macam.

“Jangan berprasangka buruk, saat itu saya pergi ke Eropa, maka­nya tidak bisa hadir saat penentuan 12 besar calon Ketua KPK itu,’’ ujar Ahmad Syafi’i Maarif, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya: 

Jadi, tidak ada maslah ya?

Nggak ada. Saat itu saya  cuti ke Eropa.

Mana tahu Anda merasa ada yang tidak benar dalam proses penyeleksian?

Mana tahu Anda merasa ada yang tidak benar dalam proses penyeleksian?

Oh, nggak. Semuanya berjalan sesuai aturan kok.

Mana tahu ada intervensi agar meloloskan tokoh-tokoh ter­­tentu?

Tidak ada yang bisa intervensi. Saya menjamin tidak ada inter­vensi.

Termasuk dari penguasa?

Ya, termasuk dari pemerintah. Saya jamin tidak ada tekanan dari pemerintah. Lagipula kan kami juga nggak mau ditekan.

Jadi, 12 besar calon Ketua KPK itu nggak ada hasil reka­yasa?

Belum ada. Yang kita pilih bukan ketua kok. Yang ketua nanti kita yang pilih sendiri, se­hingga ada enam atau empat orang. Dan kita saring lagi men­jadi dua nama calon untuk diaju­kan ke DPR. Kemu­dian dipilih menjadi satu orang.

Menurut pengamatan Anda kira-kira siapa yang terpilih jadi Ketua KPK?

Belum bisa saya katakan se­karang. Sebab, masih mengikuti seleksi selan­jutnya. Mislanya besok (hari ini,red) se­leksi soal profile assessment.

Setelah lolos di tahap ini, pe­serta akan men­jalani tes wawan­cara dengan Pan­sel, selesai Kamis. Nanti Jumat atau Sabtu mungkin bisa kita umumkan siapa yang diajukan ke Pre­siden SBY, dan selanjutnya diserahkan ke DPR untuk fit and proper test.

O ya, dalam acara apa ke Eropa?

Saya diminta berpidato di acara pendidikan.

Bagaimana Anda me­­lihat si­tusi politik seka­rang ini?

Yah, masih kacaulah. Demo­krasi kita belum berjalan baik dan belum stabil. Ini artinya kita tidak memiliki kepastian masa depan.

Lantas apa yang ha­rus dila­kukan?

Pemimpin kita  segera siuman (sadar) dalam mengatasi perma­salahan bangsa ini, terutama ma­salah korupsi. Sangat banyak kasus korupsi di negeri ini, tapi pemimpin kita tidak serius mem­berantasnya.

Kenapa mereka tidak serius?

Banyak persoalannya. Mental korup negara ini sudah ada sejak dulu, sehingga korupsi sudah menggurita. Bahkan sebagian aparat kita sudah bermental korup.

Apa ada kaitannya dengan  peradaban politik kita?

Tentu ada. Peradaban politik kita kan tetap saja rendah dan kumuh.

Maksudnya?

Adanya politik uang merusak moral bangsa ini. Memang sete­lah reformasi, relatif demokrasi kita ada, dan dipuji, meski berada di tangan mereka yang tidak ber­tanggung jawab dengan wawa­sannya yang picik.

Dengan kata lain Anda ingin mengatakan bahwa kualitas de­mokrasi kita masih rendah?

Ya, seperti itulah. Kualitas de­mokrasi kita di bawah standar. Ini terjadi gara-gara bangsa Indone­sia mengalami krisis kepemim­pinan dengan politik menjadi ajang kompetisi kepentingan-kepentingan sempit kelompok. Bukan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat, seperti yang dicita-citakan para pendiri negeri ini.

Inikah akibatnya biaya poli­tik sangat besar?

Betul, mereka biasanya yang su­dah duduk di pemerintahan atau anggota parlemen mencoba mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan. Jadi, masa depan kita memang tidak jelas.

Ngomong-ngomong selain jadi Pansel Ketua KPK, apa saja ke­giatannya?

Ya, seperti biasalah, saya masih menulis, mengikuti seminar, dan melakukan olahraga.

[RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

AS Siapkan Operasi Militer Jangka Panjang Terhadap Iran

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:15

Tips Menyimpan Kue Keranjang Agar Awet dan Bebas Jamur Hingga Satu Tahun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:09

10 Ribu Warga dan Polda Metro Siap Amankan Ramadan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:54

Siap-Siap Cek Rekening! Ini Bocoran Jadwal Pencairan THR PNS 2026

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:50

TNI di Ranah Terorisme: Ancaman bagi Supremasi Hukum

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:44

KPK Melempem Tangani Kasus CSR BI

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:37

MD Jakarta Timur Bersih-Bersih 100 Mushola Jelang Ramadhan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:18

Rapor IHSG Sepekan Naik 3,49 Persen, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp14.889 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:55

Norwegia dan Italia Bersaing Ketat di Posisi Puncak Olimpiade 2026

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:49

Bareskrim Ungkap Peran Aipda Dianita di Kasus Narkoba yang Jerat Kapolres Bima Kota Nonaktif

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:27

Selengkapnya