Jakarta, RMOL. Aktor kawakan, Pong Harjatmo, berniat mencoret-coret Istana bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak angkat bicara berbagai masalah dihadapi negeri ini.
Ancaman ini bukan pepesan kosong. Soalnya, Jumat (30/7), aktor tahun 1980-an itu telah bikin heboh dengan ulahnya mencoret-coret kubah gedung DPR/MPR dengan kata-kata; jujur, adil, tegas. Ini bentuk kritikan kepada wakil rakyat yang dinilainya ‘tukang malas’.
“Saya lihat Pak SBY itu terlalu banyak diam. Padahal begitu banyak masalah di negeri ini yang tidak bisa diselesaikan dengan cara berdiam,’’ ujar Pong Harjatmo kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Seharusnya SBY bersikap bagaimana?
Ya, berbicaralah kepada publik atas berbagai masalah yang dihadapi negeri ini. Sebagai Kepala Negara, gaya kalem seharusnya tidak dipakai untuk menyelesaikan masalah. Jujur ya, saya kecewa karena jagoan saya saat Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 itu menjadi seperti ini.
Emang apa saja masalah bangsa ini yang perlu dituntaskan dengan angkat bicara?
Banyak masalah sekarang ini. Memang benar, dengan berbicara masalah tidak selesai. Tapi paling tidak, rakyat merasa disapa dengan berbagai masalah itu.
Apa sih masalah itu menurut Anda?
Banyak. Misalnya saja, banyak gas elpiji meledak, harga kebutuhan pokok meroket, kasus Century jalan di tempat, penyelesaian kasus rekening gendut Polri.
Jadi Anda serius berniat corat-coret Istana?
Tentu, saya akan berniat ke situ. Tapi bukan saat ini. Sebab, saya corat-coret gedung DPR saja dampaknya luar biasa. Sambutan rakyat begitu besar. Kemudian tadi (kemarin, red) saya diterima Pramono Anung (Wakil Ketua DPR dari Fraksi PDI)). Beliau berjanji akan menindaklanjuti apa yang saya sampaikan.
Lantas kapan akan mencorat-coret ke Istana?
Nantilah Kalau DPR tidak memperbaiki kinerjanya. Begitu juga dengan kinerja SBY itu. Saya berharap SBY berubahlah.
Di mana rencananya mencorat-coret itu?
Ya, saya kan harus mensurvei dulu yang pas di mana. Jadi, saya nggak mau gegabah untuk melakukan aksi coret-mencoret.
Selain rencana di Istana, apa ada niat di tempat lain?
Ya ada, misalnya di tanah sengketa di bekas Taman Ria Senayan. Itu kan dipagar seng. Ya di situ saja, aku akan coretnya dengan kata-kata; Cintai Negerimu, Cintai Rakyatmu atau Cintai Bangsamu.
O ya, kenapa sih melakukan corat-coret di gedung kura-kura parlemen?
Saya sangat kecewa dengan DPR. Sebab, banyak yang malas bekerja. Perhatian sama rakyat berkurang, yang diperjuangkan hanya kepentingan golongan dan kelompoknya saja. Sedangkan rakyat dicuekin saja.
Gimana sih ceritanya bisa melakukan aksi yang ekstrem itu?
Memang niat saya mau nulis; jujur, adil, dan tegas. Tapi di mana pasnya itu kan. Kalau ditembok dibawah belum selesai nulis, pasti udah diamankan pihak keamanan. Saya muter-muter, lalu saya naik ke atas. Eh, kebetulan gedung itu sedang direnovasi. Jadi ada tangga di belakang, jadi aku naiknya lewat pagar.
Terus di pagar itu ada tali diikatin sampai puncak sampai gedung, ada tiang dari besi. Nggak tau buat apa itu. Aku naik dari pagar, terus aku naik ke atap. Aku jalan ke atas sambil pegang tali itu.
Aku berpikir, kalau lebih ke bawah kan lebih kelihatan. Tapi aku kan takut kepeleset, panas dan angin kenceng lagi. Terus saya semprotin yang kira-kira nggak kepeleset dan nggak begitu bahaya. Habis semprotkan satu pilox, saya turun dengan mundur sambil pegangan tali itu juga. Sampai di bawah, sudah ditungguin sama pihak keamanan.
Lalu apa yang terjadi setelah itu?
Saya dibawa ke polisi. Di situ kan ada kantor pos polisi.
Saat naik ke atas kubah itu kok nggak ketahuan ya?
Aku melakukannya pas orang mau siap-siap untuk sholat Jum’at.
Apa Pamdal nggak curiga?
Nggak dong. Aku kan sudah dikenal semua petugas keamanan. Aku masuk saja mereka (Pamdal) sudah menyapa.
Nggak takut ya naik gedung kura-kura ?
Nggak, buktinya aku nggak apa-apa kok. Emang kalau berjuang harus nyalinya gede.
Emang dukungannya dari mana saja sih?
Dari banyak kalangan. Ada yang menyampaikan lewat SMS, blogger, twitter, dan telpon juga banyak.
Ada yang bilang aksi ini hanya mencari sensasi saja, apa betul itu?
Boleh saja menilai seperti itu. Hak mereka untuk menafsirkannya, tapi banyak dukungan terhadap saya.
[RM]